Catatan Dari Hati

(Narsis) Terlalu Cinta untuk Pergi

Hujan turun pelan di luar jendela kamar Aruna, seperti sengaja menirukan isi hatinya: tidak deras, tidak pula reda.

Hanya jatuh, satu-satu, seperti kenangan yang tak pernah selesai.

Di atas meja kecilnya, masih tersimpan secangkir kopi yang tak lagi hangat. Sejak kepergian Arya tiga bulan lalu, hampir tak ada yang benar-benar hangat di rumah itu. Bahkan cahaya matahari pun terasa asing.

“Aku hanya butuh waktu,” kata Arya dulu, dengan mata yang tak lagi memandangnya utuh.

Waktu. Betapa sederhana kata itu.

Namun waktu tidak pernah benar-benar memihak Aruna.

Ia mengingat malam terakhir mereka. Tidak ada pertengkaran. Tidak ada suara tinggi. Hanya dua orang yang duduk berhadapan, dengan cinta yang tak lagi berdiri di tempat yang sama.

“Aku masih mencintaimu,” ujar Arya lirih.

Aruna tersenyum. “Aku juga.”

Tapi cinta saja tidak selalu cukup.

Sejak malam itu, Aruna hidup dalam ruang yang penuh gema. Setiap sudut rumah menyimpan potongan tawa. Setiap lagu yang diputar radio seperti sengaja mengulangi kisahnya.

Ia mencoba menata ulang hidupnya: mengganti posisi sofa, membuang foto, bahkan mengecat ulang dinding kamar. Namun kenangan bukanlah benda yang bisa dipindahkan.

Ia terlalu cinta.

Terlalu cinta hingga sulit membenci.
Terlalu cinta hingga sulit melupakan.
Terlalu cinta hingga tetap mendoakan kebahagiaan seseorang yang tidak lagi memilihnya.

Di kantor, Aruna terlihat biasa saja. Ia tetap tersenyum, tetap menyelesaikan laporan tepat waktu.

Tidak ada yang tahu bahwa setiap malam ia berbicara pada langit-langit kamar, menanyakan apa yang salah dari dirinya.

Apakah ia kurang sabar?
Kurang mengerti?
Atau mungkin terlalu berharap?

Suatu sore, tanpa sengaja ia melihat Arya di seberang jalan, berjalan berdampingan dengan perempuan lain.

Tidak ada adegan dramatis. Tidak ada tangisan di tengah keramaian. Hanya dada yang terasa runtuh perlahan.

Saat itulah Aruna sadar, cintanya tidak pernah salah. Yang salah hanyalah harapannya bahwa cinta selalu berarti bersama.

Ia pulang dengan langkah ringan: aneh, tapi nyata.

Untuk pertama kalinya, ia tidak menangis. Ia duduk di tepi tempat tidur, memeluk dirinya sendiri.

“Aku tidak kehilangan cinta,” bisiknya.
“Aku hanya kehilangan orang yang tak lagi ingin tinggal.”

Malam itu, Aruna membuka jendela lebar-lebar. Hujan sudah berhenti. Angin masuk membawa udara baru.

Ia menyeduh kopi, kali ini untuk dirinya sendiri, bukan untuk berdua.

Cinta memang pernah membuatnya rapuh. Namun cinta pula yang mengajarkannya satu hal: mencintai tidak selalu berarti memiliki. Kadang, mencintai adalah belajar merelakan tanpa membenci.

Aruna tersenyum, untuk pertama kalinya tanpa paksaan.

Ia masih mencintai Arya.
Namun kini, ia juga mulai belajar mencintai dirinya sendiri.

Dan mungkin, itu adalah bentuk cinta yang paling sulit, sekaligus paling menyembuhkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *