Catatan Dari Hati

Di Bawah Tanah, Di Atas Bahaya: Membedah Ketegangan Brilian Film “Fuze”

Sesekali, sinema memberi kita sesuatu yang langka: sebuah film yang tidak berpura-pura menjadi karya agung, namun justru karena kejujuran itulah ia memikat.

Fuze, film thriller kriminal Inggris garapan sutradara David Mackenzie, adalah persis seperti itu. Ia hadir tanpa pretensi berlebihan, tanpa keinginan menjadi lebih dari sekadar hiburan yang cerdas dan menggetarkan, dan di sinilah letak kebesarannya yang tersembunyi.

Mackenzie, yang namanya sudah lama diasosiasikan dengan ketegangan yang membumi lewat Hell or High Water, kali ini membawa kita ke jantung kota London. Sebuah tim konstruksi tak sengaja menggali bom peninggalan Perang Dunia II di sebuah lokasi bangunan yang sibuk, tepat di tengah kota.

Bom seberat ratusan kilogram itu, peninggalan dari era Blitz, dari masa ketika langit London dipenuhi hujan api dan kematian, kini kembali mencengkeram kota dengan satu ancaman yang nyata. Kejadian semacam ini bukanlah fiksi semata, bom Perang Dunia II sesungguhnya pernah ditemukan di Plymouth beberapa tahun lalu, dan detail itu membuat Fuze terasa seperti sesuatu yang bisa terjadi esok pagi di kota mana pun di dunia.

Skenario yang ditulis oleh Ben Hopkins memiliki kecerdasan yang halus namun menggigit. Kawanan pencuri ternyata telah merencanakan ini dengan sangat matang: mereka menanamkan bom tersebut dan membuatnya tampak seperti peninggalan tak berbahaya dari masa Perang Dunia II, semata demi mengosongkan seluruh kawasan di sekitar bank yang menjadi target perampokan mereka.

Bayangkan betapa dinginnya kepala seseorang yang mampu menggunakan ketakutan kota sebagai alat pencurian. Bukan sembarang senjata, bukan ancaman kosong, melainkan sejarah itu sendiri yang dijadikan alibi.

Film ini tersusun dari tiga benang cerita yang saling menjalin dengan rapat. Pertama, aparat kepolisian yang dipimpin oleh Kepala Komisioner Zuzana Greenfield. Kedua, kawanan pencuri yang dikomandoi oleh Karalis beserta rekannya.

Dan ketiga, unit penjinak bahan peledak milik militer yang dikepalai oleh Will Tranter. Ketiga jalur ini berpacu di bawah waktu yang sama, di kota yang sama, dengan taruhan yang tidak kalah beratnya satu sama lain.

Adalah Aaron Taylor-Johnson yang memikul beban terbesar film ini sebagai Mayor Will Tranter, sang ahli bahan peledak. Taylor-Johnson selalu menjadi bintang yang agak tidak biasa, karena ia memiliki bakat untuk kejanggalan yang sesungguhnya, sebuah kualitas yang membuatnya sedikit canggung dalam peran utama yang terlalu konvensional. Namun justru penemuan tentang bagaimana Tranter mengumpulkan kemampuannya yang aneh itulah yang menjadikannya narator ideal untuk kisah ganjil ini, dan Taylor-Johnson mampu membuat karakternya cukup eksentrik untuk terasa unik, namun tetap layak untuk diperjuangkan oleh penonton.

Ada ketenangan yang mencekam dalam caranya melangkah menuju bom itu, seolah ia telah berdamai dengan kemungkinan bahwa setiap langkah bisa menjadi yang terakhir. Ada keheningan bertenaga dalam penampilannya, mengesankan bahwa banyak hal yang bergolak di balik permukaannya.

Di sisi lain kota, lebih tepatnya di bawah tanahnya, berdiri Theo James sebagai Karalis, pemimpin kawanan pencuri yang paling tidak terduga. James adalah pria tampan yang karismatik, dan ia terbukti berada di puncak kemampuannya ketika memerankan karakter yang sedikit lebih jahat dari yang diharapkan, seperti yang telah dibuktikannya lewat serial The White Lotus dan The Gentlemen.

Memilihnya sebagai penjahat karir yang mengejutkan taktisnya adalah keputusan yang kuat. Karalis bukan sekadar penjahat dari lembar cerita fiksi kriminal; ia adalah manusia yang telah menghitung segala risiko dan memilih jalurnya sendiri dengan mata terbuka lebar.

Tak bisa diabaikan pula kehadiran Sam Worthington, aktor Australia yang dikenal lewat Avatar, yang dalam film ini berperan sebagai anggota kawanan pencuri bernama X. Menarik pula bahwa Sam Worthington dulunya sempat masuk daftar calon pemeran James Bond dalam Casino Royale tahun 2006, sebelum peran itu akhirnya jatuh ke tangan Daniel Craig.

Sementara Gugu Mbatha-Raw, aktris berbakat yang pernah memukau dalam Belle dan Beyond the Lights, hadir sebagai Kepala Komisioner Zuzana Greenfield, perwakilan hukum yang mencoba memahami keadaan kacau dari jauh. Peran Mbatha-Raw memang terasa sedikit terbatas, dan ia akhirnya terasa seperti aset yang kurang dimanfaatkan sepenuhnya, meski ia memberi karakter itu bobot yang lebih dari yang seharusnya. Itu salah satu kelemahan nyata film ini, bahwa aktris sebrilian Mbatha-Raw hanya diberi ruang gerak yang sempit.

Kesenangan dari bagian pembuka film ini terletak pada kenyataan bahwa kita seolah ditarik untuk mendukung dua kelompok sekaligus: kita ingin London diselamatkan, dan sekaligus kita ingin pencuri itu berhasil membawa kabur apa yang mereka inginkan.

Mackenzie dengan mulus berpindah dari satu cerita ke cerita lain, memperketat ketegangan dan memberi kita sketsa karakter yang singkat namun bermakna. Di sinilah keahlian seorang sutradara berpengalaman benar-benar terasa, ia tahu kapan harus diam, kapan harus bergerak, dan kapan membiarkan penonton bernapas sebelum mencekik mereka lagi.

Secara sinematografis, film ini dikerjakan dengan sangat baik dan terlihat fantastis di tangan sinematografer Giles Nuttgens. Lorong-lorong bawah tanah London terasa pengap dan nyata, jalanan yang sepi karena evakuasi memancarkan kesunyian yang mencekam, dan setiap sudut kota tampak seperti tersimpan rahasia yang siap meledak kapan saja. Musik dari Tony Doogan mengisi ruang-ruang hening itu dengan tepat, tidak berlebihan, namun tidak pula membiarkan penonton melupakan bahwa mereka sedang duduk di tepi kursi.

Sejak kredit pembuka yang bergetar dan berkedip layaknya film aksi era Tony Scott, sudah jelas bahwa Fuze tahu tradisi apa yang ingin ia hormati. Film ini mengutamakan gaya, namun tidak memiliki ambisi lebih tinggi selain menghibur, dengan cara yang hemat dan tanpa kesombongan yang tidak perlu. Itu adalah misi yang mulia.

Di zaman ketika begitu banyak film genre merasa perlu menjadi sesuatu yang lebih dalam, lebih bermakna, lebih artistik, Fuze dengan berani memilih untuk menjadi dirinya sendiri: sebuah thriller yang baik, dirancang untuk membuat darah penonton berdesir.

Tentu saja, film ini bukan tanpa celah. Sebagian besar pemerannya tidak diberi banyak kesempatan untuk benar-benar berkembang. Sam Worthington terasa lebih seperti orang kepercayaan Karalis daripada karakter mandiri yang sesungguhnya, dan itu terasa seperti peluang besar yang terlewatkan.

Ada pula sebuah pilihan narasi di menit-menit akhir yang mengundang perdebatan, sesuatu yang terasa sedikit terburu-buru, seolah naskah sedang berlomba dengan detak jarum jam yang diciptakannya sendiri. Namun kelemahan-kelemahan itu tidak cukup besar untuk menjatuhkan bangunan yang telah dibangun dengan kokoh selama hampir sembilan puluh menit sebelumnya.

Film ini pertama kali tayang perdana di Toronto International Film Festival pada 5 September 2025, sebelum kemudian dirilis secara resmi di Inggris pada 3 April 2026, dengan total durasi 96 menit. Waktu yang singkat, namun setiap menitnya terasa digunakan dengan niat yang jelas. Tidak ada adegan yang hadir semata untuk mengisi durasi.

Yang paling mengesankan dari Fuze mungkin adalah cara film ini berbicara tentang sesuatu yang lebih dalam dari sekadar perampokan dan penjinak bom. Di balik ledakan-ledakan kecil yang mengisi cerita, ada pertanyaan yang terus bergema: seberapa jauh manusia bersedia pergi demi apa yang ia anggap berharga?

Tranter mempertaruhkan nyawanya untuk keselamatan orang yang tidak ia kenal. Karalis mempertaruhkan kebebasannya untuk sesuatu yang tersimpan di balik dinding baja. Zuzana mempertaruhkan kariernya demi kebenaran yang ia rasakan namun belum bisa ia buktikan. Mereka semua adalah manusia yang sedang memilih, di bawah tekanan waktu yang paling keras.

Itulah yang membuat Fuze lebih dari sekadar thriller yang menghibur. Ia adalah cerminan kecil tentang bagaimana kita semua, dalam skala yang jauh lebih tenang dan jauh lebih tidak dramatis dari yang ada di layar, setiap harinya berjalan di atas kawat antara apa yang aman dan apa yang berani.

Dan kadang-kadang, seperti bom Perang Dunia II yang tergali dari kedalaman tanah London, masa lalu kita sendiri yang muncul untuk menguji seberapa kuat kaki kita berpijak.

David Mackenzie sekali lagi membuktikan bahwa genre thriller, di tangan yang tepat, bukan sekadar permainan jantung berdebar. Ia bisa menjadi sebuah percakapan tentang keberanian, tentang pilihan, dan tentang betapa rapuhnya batas antara pahlawan dan penjahat ketika keduanya berdiri di tanah yang sama, mendengarkan detak yang sama, menunggu ledakan yang mungkin tidak pernah datang, atau mungkin datang lebih cepat dari yang siap mereka hadapi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *