Catatan Dari Hati

Di Tepi Samudra dan Atas Tebing: Kisah Liburan Keluarga di Obelix Seaview dan Pantai Mesra Gunungkidul

Sudah lama saya menyimpan keinginan untuk mengajak seluruh keluarga ke pantai-pantai Gunungkidul yang konon menyimpan pesona berbeda dari pantai-pantai lain di Indonesia.

Bukan sekadar biru laut dan pasir putih, melainkan sesuatu yang lebih dalam , kesan eksotis, dramatis, dan seolah memaksa kita berhenti sejenak dari hiruk-pikuk kehidupan di Jakarta dan Cikarang.

Maka ketika musim liburan tiba, tepatnya pada hari Sabtu, 21 Maret 2026, kami pun berangkat ke target lokasi wisata kami seusai menunaikan sholat Ied di Masjid UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Kami awali dengan destinasi yang sudah lama viral di media sosial: Obelix Seaview, tempat wisata terbaru yang berlokasi di Dusun Watugupit, Giricahyo, Kecamatan Purwosari, Kabupaten Gunungkidul. Sebelumnya, kami sarapan soto ayam dulu di sebuah lokasi di daerah Imogori.

Obelix Seaview merupakan bagian dari Obelix Group, manajemen yang juga mengelola Obelix Hills dan Obelix Village.

Nama Obelix sendiri kini telah menjadi semacam ekosistem wisata premium di Yogyakarta, dan Seaview adalah permata terbarunya yang menawarkan sesuatu yang belum pernah kami rasakan sebelumnya: menikmati Samudra Hindia dari atas tebing, dengan kaki hampir menggantung di tepi langit.

Perjalanan dari pusat Kota Yogyakarta memakan waktu hampir satu jam. Lokasinya sekitar 36 km dari pusat kota, dan mengingat posisinya di atas tebing, perjalanannya akan menanjak dan cukup menantang.

Kedua anak saya di dalam mobil bergantian bertanya, “Masih jauh, Pa?” : pertanyaan klasik yang tidak pernah berubah sejak mereka kecil.

Tapi begitu memasuki jalan Paralayang dan pohon-pohon hijau berjejer di kiri-kanan, semua keluhan tergantikan oleh decak kagum.

Obelix Seaview resmi dibuka untuk umum pada 23 Agustus 2023, berlokasi di atas bukit di sebelah timur Pantai Parangtritis Bantul dan Bukit Paralayang Watugupit Gunungkidul.

Ketika kami memasuki area parkir dan melangkah menuju loket, seketika hamparan biru Samudra Hindia menyambut pandangan. Tidak ada kata yang cukup untuk mendeskripsikan momen pertama itu. Alya, putri bungsu saya langsung berlari kecil ke arah pagar tebing, matanya berbinar seolah baru menemukan dunia baru.

Desain arsitektur Obelix Seaview menggabungkan elemen tradisional dan modern. Bangunan dengan rata-rata material kayu, kaca, dan batu karang menciptakan nuansa alami yang seolah menyatu dengan lingkungan sekitarnya.

Teras-terasnya luas, menghadap langsung ke laut, dan setiap sudut terasa seperti lukisan yang sengaja dirancang untuk membuat tamu terdiam dalam kekaguman. Kami duduk di salah satu kursi kayu yang menghadap ke samudra, membiarkan angin laut menerpa wajah dengan bebas.

Daya tarik utama wisata ini adalah Amphitheater, panggung terbuka dengan desain tempat duduk setengah lingkaran yang dibuat unik dengan susunan mosaik warna-warni karya seniman Jogja.

Putri saya langsung menjadikannya latar foto tanpa perlu diarahkan. Lalu kami mencoba The Sky Deck di ujung tebing , pengalaman yang membuat lutut sedikit gemetar namun mata tidak mau berpaling dari cakrawala biru yang membentang tak terbatas.

Tersedia pula The Nest, spot foto dengan jaring-jaring di atas tebing, dan The Swings  ayunan yang membawa pengunjung berada di ketinggian 12 meter tepat di bawah bibir tebing, tersedia untuk satu orang maupun berdua.

Saya langsung meminta seorang fotografer untuk mengabadikan aksi kami sekeluarga di lokasi eksotis itu.

Soal kuliner, kami sempat mencicipi sajian di Element Restaurant by Petit Paris. Menu yang bisa dipesan mencakup aneka bakery khas Perancis seperti croissant dan cannele serta gelato, sementara restoran juga dilengkapi fasilitas kolam renang, ruangan VIP, dan DJ booth.

@amriltaufikgobel1

Di ketinggian Obelix Sea View, kami belajar bahwa kebahagiaan bukan tentang seberapa jauh kita pergi, tapi dengan siapa kita berjalan. Angin laut membawa syukur, dan kebersamaan ini adalah rumah yang selalu ingin menbuat kami pulang. #happyfamily #obelixseaview #liburlebaran2026

? suara asli – WAWAN HERNAWAN – Radio Gentara TV

Makan gelato sambil memandang ombak yang bergulung-gulung di bawah tebing adalah pengalaman yang sulit saya lupakan. Anak-anak memesan es krim masing-masing dan terjadi perdebatan kecil soal siapa mendapat rasa apa perdebatan menyenangkan yang hanya bisa terjadi ketika keluarga betul-betul sedang bahagia.

Fasilitas umum yang tersedia antara lain mushola, Gift Shop, live band, area parkir, dan outdoor dynamic light show yang diklaim sebagai yang pertama di Indonesia. Untungnya kami datang di waktu pagi dimana pengunjung belum begitu banyak dan kami bisa menikmati dan mengabadikan spot-spot eksotis disana.

Setelah itu, kami melanjutkan perjalanan ke destinasi yang berbeda nuansa namun tak kalah menawan: Pantai Mesra di Dusun Ngepung, Kemadang, Kecamatan Tanjungsari, Gunungkidul.

Dulunya, Pantai Mesra lebih dikenal dengan nama Pantai Ngrawe. Namun, karena atmosfernya yang begitu nyaman dan menenangkan, warga sekitar serta para wisatawan mulai menyebutnya sebagai Pantai Mesra.

@amriltaufikgobel1

Mengenang kembali perjalanan wisata kami ke Pantai Mesra Gunung Kidul Yogyakarta

? Langit dan Laut – Banda Neira

 

Ada sesuatu yang puitis dari perubahan nama itu : sebuah pantai yang diberi nama bukan karena keputusan birokrasi, melainkan karena perasaan yang tumbuh secara organik dari hati para pengunjungnya.

Sebelumnya dikenal dengan nama Pantai Ngrawe, pantai ini berganti nama menjadi Pantai Mesra sebagai bentuk pengembangan pariwisata, menawarkan hamparan pasir putih yang lembut, dipadukan dengan laut biru jernih dan pemandangan batu karang yang menghiasi pinggir pantai.

Keunikan Pantai Mesra terletak pada padang rumput hijau yang menghijau sepanjang tahun — satu-satunya pantai di Gunungkidul dengan padang rumput seluas lapangan sepak bola yang langsung berbatasan dengan tebing karang dan laut.

Saat kami tiba, pemandangan itu betul-betul memukul perasaan dengan cara yang paling lembut. Hamparan rumput hijau terang bak permadani alam terbuka, dengan Samudra Hindia sebagai pigura raksasanya. Istri saya hanya berdiri diam sejenak, menarik napas panjang, lalu berkata pelan, “Ini indah sekali.” Kalimat pendek yang mengandung segalanya.

Di kawasan pantai terdapat plakat bertuliskan “Pantai Mesra. Tak Rawat Lautku Koyo Ngrawat Bojoku” yang artinya “aku rawat lautku seperti merawat suami atau istriku.” Tulisan yang menyentuh hati ini kerap dipakai sebagai tempat berfoto selfie. Kalimat itu bukan sekadar hiasan; ia adalah filosofi warga lokal tentang cara memandang alam — bukan sebagai sumber daya yang dieksploitasi, melainkan sebagai pasangan hidup yang harus dirawat dengan cinta.

Selain bersih, pantai ini memiliki pesona ombak yang estetik. Deburan ombaknya lumayan besar sehingga menjadi pemandangan yang sangat berkesan. Kami memutuskan tidak berenang karena ombak Samudra Hindia memang dikenal tidak bisa dianggap enteng. Namun menceburkan kaki di tepian, membiarkan gelombang menyapu pergelangan kaki, sambil menatap horison yang tak bertepi — itu sudah lebih dari cukup untuk membasuh kepenatan yang menumpuk berbulan-bulan.

Aneka warung makan berjajar rapi tak jauh dari bibir pantai, menawarkan berbagai makanan mulai dari mi instan, soto, ayam bakar, hingga es kelapa muda dengan harga yang sudah distandarisasi oleh para pedagang.

Kami menyantap hidangan ikan bakar dan cah kangkung serta segarnya kelapa muda yang disajikan di sebuah restoran yang pemandangannya langsung mengarah ke tepi pantai Mesra. Menyaksikan ombak besar bergulung-gulung disana sembari menyantap makan siang yang nikmat, sungguh merupakan sensasi yang sangat menyenangkan.

Makan siang di pantai Mesra itu terasa seperti pesta keluarga paling sederhana yang pernah kami jalani, namun juga yang paling berkesan.

Pulang dari Gunungkidul, di dalam mobil yang diam-diam membawa kelelahan yang menyenangkan, saya merenungkan dua pengalaman yang berbeda namun saling melengkapi itu.

Obelix Seaview adalah kemewahan modern yang diletakkan di atas keagungan alam penyatuan antara kenyamanan fasilitas dan dramanya tebing menghadap samudra.

Pantai Mesra adalah kebalikannya yang indah : kesederhanaan yang jujur, alam yang belum terlalu terjamah, dan ketenangan yang tidak perlu dibayar mahal.

Bersama keluarga, kedua tempat itu mengajarkan hal yang sama: bahwa kebahagiaan sejati tidak melulu tentang pergi ke tempat yang jauh atau mewah, melainkan tentang kebersamaan yang tulus di hadapan kebesaran alam.

Gunungkidul, dengan segala eksotismenya, telah mencuri sepotong hati kami. Dan kami tahu, suatu hari nanti, kami pasti akan kembali.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *