Catatan Dari Hati

Satu Darah, Satu Tekad: Mubes IKA UNHAS dan Janji Kepada Negeri


“Coming together is a beginning, staying together is progress, and working together is success.”Henry Ford


Tepat di saat fajar Mei menyingsing di atas Kota Makassar, ribuan helai kenangan akan kembali bertaut. Mereka yang pernah menyusuri koridor kampus Tamalanrea, yang pernah bergadang menyelesaikan laporan di bawah terik matahari Sulawesi, yang pernah merasakan dinginnya angin pantai Losari sambil mendebat soal masa depan : semuanya akan hadir kembali dalam satu ruangan, membawa serta pengalaman, kematangan, dan denyut rindu yang tak pernah benar-benar pergi.

Musyawarah Besar (Mubes) Ikatan Alumni Universitas Hasanuddin (IKA UNHAS) dijadwalkan berlangsung 1 hingga 3 Mei 2026 di Hotel Four Points by Sheraton, Jalan Andi Djemma, Makassar, bukan sekadar rapat organisasi biasa. Ini adalah saat ketika sebuah keluarga besar — dengan seluruh luka, kebanggaan, dan mimpi-mimpinya — memilih untuk duduk bersama dan bertanya kepada diri sendiri: ke mana kita akan pergi selanjutnya?

Sebagai alumnus Fakultas Teknik yang kini bergelut di ranah konstruksi, saya merasakan getaran istimewa dari hajatan empat tahunan ini.

Mubes bukan hanya agenda seremonial , ia adalah cermin. Dan cermin yang paling jujur adalah cermin yang kita hadapi bersama.

Sebuah Keluarga Besar yang Terus Tumbuh

IKA UNHAS berdiri sejak 23 Maret 1963 — lebih dari enam dekade berjalan, merawat ikatan antara mereka yang pernah belajar, berdebat, dan bermimpi di kampus merah itu. Hingga pertengahan 2019, jumlah alumni UNHAS telah mencapai 148.613 orang, tersebar dari Sabang hingga Merauke, dari Jakarta hingga Tokyo.

Angka itu kini tentu telah jauh bertambah, mengingat UNHAS setiap tahunnya meluluskan ribuan sarjana baru dari puluhan program studi. Ini bukan sekadar statistik , ini adalah potensi raksasa yang, jika dikonsolidasikan dengan baik, mampu menggerakkan banyak hal: dari kebijakan daerah hingga inovasi nasional, dari pemberdayaan komunitas lokal hingga representasi Indonesia di panggung global.

Mubes kali ini, sebagaimana dilaporkan oleh kabarika.id, akan dihadiri oleh lebih dari seribu perwakilan alumni dari seluruh Indonesia , meliputi pengurus IKA Wilayah tingkat provinsi, IKA Daerah tingkat kabupaten/kota, IKA Fakultas, IKA Departemen, hingga badan otonom (Batom).

Dari Yogyakarta hingga Jepang, para ketua IKA Wilayah dan Luar Negeri sudah bergerak mengajak seluruh alumni untuk ambil bagian, semuanya mengirimkan pesan semangat agar alumni bersatu dan bergerak. Ini bukan mobilisasi biasa. Ini adalah panggilan hati.

Agenda resmi Mubes mencakup pembahasan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga, laporan pertanggungjawaban pengurus periode 2022–2026, hingga pemilihan Ketua Umum IKA UNHAS yang baru.

Pemerintah Kota Makassar pun menyambut dengan tangan terbuka , Wali Kota Munafri Arifuddin menyiapkan gala dinner khusus sebagai bentuk penghormatan kepada para tamu kehormatan yang kembali ke kota tempat mereka pernah menempa diri.

Pengurus Pusat IKA UNHAS sendiri telah merampungkan pembahasan tiga agenda penting menjelang Mubes, mulai dari kejelasan peserta, legalisasi Badan Otonom baru, hingga kepastian keterwakilan seluruh wilayah secara proporsional.

Makna yang Lebih Dalam dari Sekadar Mubes

Musyawarah adalah bentuk demokrasi yang paling manusiawi , ia bukan tentang siapa yang paling lantang berbicara, tetapi tentang siapa yang paling sungguh-sungguh mendengar. Mubes IKA UNHAS, dalam konteks ini, memikul beban makna yang berlapis.

Pertama, ia adalah ritual pembaruan arah. Setiap empat tahun, alumni berkumpul bukan hanya untuk memilih pemimpin baru, tetapi untuk menegaskan kembali mengapa organisasi ini lahir dan untuk apa ia terus hidup.

Di tengah dunia yang berubah dengan kecepatan luar biasa , di mana kecerdasan buatan mengubah lanskap pekerjaan, perubahan iklim mengancam ketahanan pangan, dan kesenjangan sosial melebar bagai jurang , pertanyaan tentang relevansi organisasi alumni menjadi semakin mendesak dan tidak bisa lagi dijawab dengan jawaban-jawaban lama.

Kedua, ia adalah ruang pemulihan kebersamaan. Tidak sedikit alumni yang, setelah bertahun-tahun terhanyut dalam arus kehidupan masing-masing, mulai merasa tercerabut dari akarnya.

Mubes adalah momen rekoneksi , bukan hanya dengan sesama alumni, tetapi dengan nilai-nilai yang pernah ditanamkan di bangku kuliah: kejujuran intelektual, semangat pengabdian, dan keberanian untuk berpihak pada yang benar meski tak populer.

Ketua IKA Fakultas Kedokteran Gigi menegaskan, Mubes bukan sekadar ajang silaturahmi tapi ruang strategis untuk memperkuat kolaborasi dan peran nyata alumni dalam kemajuan almamater dan bangsa.

Ketiga, ia adalah titik tolak strategi baru. UNHAS kini berdiri pada peringkat ke-11 terbaik di Indonesia versi QS World University Rankings 2026, dengan tiga bidang keilmuan yang telah masuk pemeringkatan global: Agriculture & Forestry (peringkat 251–300 dunia), Politics & International Studies (301–400 dunia), dan Medicine (601–650 dunia).

Capaian yang dirilis resmi oleh QS Quacquarelli Symonds pada Maret 2026 ini menempatkan UNHAS sebagai satu-satunya universitas kawasan timur Indonesia yang masuk dalam jajaran pemeringkatan dunia berbasis bidang ilmu.

Di sinilah alumni memiliki tanggung jawab moral: merawat reputasi yang telah dibangun dengan susah payah itu, sekaligus mendorong almamater menuju cakrawala yang lebih tinggi.

Harapan: Lebih dari Sekadar Slogan

Saya ingin berbicara jujur tentang harapan , bukan harapan yang terpasang di spanduk, tetapi harapan yang tumbuh dari sederet pengalaman telah dan sedang terjadi.

Harapan pertama adalah terlahirnya kepemimpinan alumni yang bervisi, bukan sekadar bergengsi. IKA UNHAS membutuhkan Ketua Umum yang tidak hanya bangga menggunakan nama almamater sebagai legitimasi sosial, tetapi yang bersedia merumuskan agenda konkret , dari beasiswa mahasiswa kurang mampu, inkubator wirausaha berbasis kearifan lokal, hingga lobi kebijakan publik yang terukur dan berdampak.

Ketua IKA Wilayah Sulbar Dr. Muhammad Idris berharap Mubes bisa menjadi jembatan untuk mewujudkan program IKA UNHAS ke depan yang jauh lebih berdampak, bukan sekadar pergantian tampuk kepemimpinan yang seremonial.

Harapan kedua adalah terbangunnya jaringan alumni yang fungsional, bukan sekadar dekoratif. Jaringan yang dimaksud bukan sekadar grup percakapan yang ramai saat hari-hari besar lalu sunyi di hari-hari biasa.

Jaringan yang fungsional berarti: alumni di sektor pemerintahan terhubung dengan alumni di sektor swasta untuk menciptakan ekosistem investasi di Sulawesi Selatan; alumni akademisi berkolaborasi dengan alumni praktisi untuk menghasilkan kajian kebijakan yang relevan; alumni diaspora di luar negeri menjadi corong diplomasi budaya Sulawesi ke dunia.

Ketua IKA UNHAS Luar Negeri Jepang, Dr. Muh. Zulkifli Mochtar, berharap dari Mubes lahir langkah baru, inovasi baru, dan ide-ide brilian untuk IKA dan alumni UNHAS , bukan hanya resolusi-resolusi yang indah di atas kertas.

Harapan ketiga, yang paling dekat di hati saya sebagai alumnus Teknik, adalah lahirnya komitmen alumni terhadap inovasi dan keberlanjutan. Di era di mana masalah infrastruktur, energi terbarukan, dan ketahanan pangan menjadi isu kritis, alumni Teknik UNHAS — bersama dengan alumni dari seluruh fakultas — memiliki bekal ilmu yang seharusnya tidak hanya disimpan untuk diri sendiri, tetapi dihidangkan sebagai solusi nyata bagi masyarakat.

Panitia Mubes bahkan sudah menyiapkan Divisi Pameran Inovasi yang berkoordinasi langsung dengan Direktorat Inovasi UNHAS , sebuah langkah kecil namun bermakna untuk menunjukkan bahwa Mubes ini bukan hanya tentang politik organisasi, tetapi juga tentang karya nyata.

Tantangan: Menatapnya dengan Jujur

Tidak ada gunanya membicarakan harapan tanpa mengakui tantangan yang menghadang. Dan tantangan itu nyata, berat, dan sebagian besar berasal dari dalam diri kita sendiri.

Tantangan pertama adalah fragmentasi. Dengan alumni yang tersebar di ratusan kota, berbagai profesi, dan beragam latar belakang politik, sangat mudah bagi IKA UNHAS untuk terpecah-belah oleh kepentingan sektoral.

Dalam rapat pengurus PP IKA UNHAS jelang Mubes, Sekretaris Jenderal Prof. Yusran Jusuf menekankan pentingnya memastikan seluruh peserta mengacu pada AD/ART, sebuah sinyal bahwa penertiban mekanisme dan keterwakilan yang proporsional adalah hal yang tidak bisa ditawar. Organisasi yang tidak mampu merayakan keberagamannya sendiri tidak akan pernah kuat menghadapi tekanan dari luar.

Tantangan kedua adalah relevansi di era digital. Generasi alumni baru — mereka yang lulus dalam satu dekade terakhir — memiliki cara pandang, cara berorganisasi, dan cara berkontribusi yang sangat berbeda dari generasi sebelumnya. Mereka tidak tertarik pada birokrasi organisasi yang lamban.

Mereka ingin gerakan yang tangkas, transparan, dan berdampak langsung. Respons terhadap tantangan ini sudah mulai terlihat: panitia Mubes menyediakan layanan live streaming dan zoom meeting agar alumni yang tidak hadir secara fisik tetap bisa menyaksikan dan berpartisipasi — sebuah langkah inklusif yang patut diapresiasi, sekalipun masih perlu dilanjutkan dengan perubahan yang lebih struktural.

Tantangan ketiga adalah kesenjangan kontribusi antara alumni sukses dan komunitas lokal. Tidak sedikit alumni UNHAS yang kini menduduki posisi strategis di pemerintahan, dunia usaha, dan akademia.

Namun seberapa besar kontribusi mereka terasa di kampung-kampung di Sulawesi Selatan? Di pesisir-pesisir yang kaya sumber daya namun miskin kesempatan? Kesuksesan individual yang tidak mengalir ke bawah adalah kesuburan yang hanya tumbuh di satu sudut ladang dan itu bukan warisan yang layak kita tinggalkan.

Solusi: Elegan, Bukan Elitis

Menjadi elegan dalam berperan bukan berarti tampil mewah atau berbicara dengan istilah-istilah rumit. Elegan berarti efektif, bermartabat, dan berakar. Berikut adalah tiga tawaran solusi yang saya yakini bisa menjadi pijakan nyata.

Pertama, IKA UNHAS perlu membangun platform digital alumni yang terintegrasi — sebuah ekosistem daring yang menghubungkan basis data alumni, bursa kerja, inkubator bisnis, dan bank pengetahuan.

Portal alumni yang sudah dimiliki UNHAS di alumni.unhas.ac.id bisa menjadi fondasi, namun perlu diperkuat dengan partisipasi aktif IKA UNHAS untuk mengisi dan menghidupkan kontennya. Ini bukan proyek glamor — ini adalah kerja senyap yang berdampak besar.

Kedua, IKA UNHAS perlu mendorong lahirnya program alumni mengabdi — di mana alumni dari berbagai profesi secara terstruktur turun ke komunitas, memberikan pelatihan, pendampingan, dan advokasi kebijakan kepada masyarakat di wilayah-wilayah yang masih membutuhkan.

Bukan sebagai bagi-bagi bantuan, tetapi sebagai transfer kapasitas yang bermartabat dan berkelanjutan. Ketua IKA Fisip, A. Fahsar M. Padjallangi, optimistis bahwa dengan semangat kebersamaan, alumni UNHAS mampu memberikan kontribusi nyata untuk bangsa , semangat itulah yang perlu diterjemahkan menjadi program kerja yang terukur, bukan hanya kata-kata pembuka sidang.

Ketiga, kepemimpinan IKA UNHAS yang baru harus berani mengambil posisi sebagai aktor kebijakan publik yang independen. Di tengah kompleksitas persoalan nasional , dari tata kelola sumber daya alam, hak-hak masyarakat adat, ketimpangan pembangunan antara kawasan barat dan timur Indonesia , suara alumni UNHAS yang terorganisir, berbasis data, dan berpijak pada nilai-nilai keilmuan adalah kontribusi yang tidak ternilai bagi proses demokrasi bangsa.

Universitas yang tiga bidang ilmunya telah diakui dunia semestinya melahirkan alumni yang berani berbicara lantang di forum-forum yang menentukan arah kebijakan bangsa, bukan sekadar mengisi kursi-kursi penonton.

Penutup: Unhas Ada Karena Kita Semua

Salah satu Ketua IKA Wilayah dari Sulawesi Tengah menutup pesannya dengan kalimat sederhana namun menggugah: “Unhas ada karena kita semua.” Kalimat itu mengandung kebenaran yang mendalam.

UNHAS tidak hanya hidup dalam bangunan fisiknya di Tamalanrea. UNHAS hidup dalam setiap alumnus yang membawa nilai-nilai yang pernah dipelajari di sana — kejujuran dalam berpikir, keberanian dalam bertindak, dan ketulusan dalam mengabdi.

Mubes IKA UNHAS 1–3 Mei 2026 ini bukan sekadar agenda organisasi. Ia adalah deklarasi ulang bahwa kami — para alumni yang tersebar di seantero nusantara dan mancanegara — belum selesai dengan tanggung jawab kami.

Bahwa jas merah yang pernah kami kenakan bukan sekadar warna seragam, melainkan warna tekad. Para ketua IKA dari Yogyakarta, Sulawesi Barat, Kepulauan Riau, hingga Jepang sudah bergerak, mengajak seluruh alumni untuk hadir, terlibat, dan berkontribusi, karena mereka tahu bahwa momentum seperti ini hanya datang sekali dalam empat tahun, dan yang menyia-nyiakannya akan menanggung penyesalan yang jauh lebih lama dari itu.

Makassar sedang menunggu. Almamater sedang berharap.

Dan bangsa ini — dengan segala kerumitan dan keindahannya — sedang membutuhkan lebih banyak orang yang berani pulang ke akar, untuk kemudian melangkah lebih jauh ke cakrawala.

Penulis adalah alumnus Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin, utusan penuh dalam Mubes IKA UNHAS 2026

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *