Catatan Dari Hati

Flash Fiction : Hujan Terakhir di Bulan Juni

Raka masih ingat betul bau tanah basah hari itu. Juni.

Bulan yang dulu terasa seperti rumah, sekarang terasa seperti puing-puing yang ia punguti satu per satu tanpa tahu harus diletakkan di mana.

Namanya Amara.

Perempuan yang tertawa lebih dulu sebelum cerita selesai, yang selalu memesan kopi terlalu manis, yang menyukai hujan bukan karena romantis tapi karena menurutnya hujan jujur.

“Hujan tidak pura-pura cerah,” katanya suatu malam, menatap jendela kafe yang mulai berembun.

Raka tidak pernah menyangka bahwa kalimat itu akan menjadi kalimat terakhir yang benar-benar ia dengar dari Amara sebelum segalanya berubah.

***

Mereka bertemu di ujung semester, di perpustakaan lantai tiga yang selalu sepi menjelang sore. Amara duduk di kursi pojok, menandai buku dengan sticky note kuning dan berbicara pelan kepada dirinya sendiri.

Raka duduk dua meja jauhnya, berpura-pura membaca, padahal matanya lebih sering melirik ke arah perempuan itu.

Enam bulan berlalu seperti mimpi yang terlalu nyaman untuk diakhiri. Mereka berjalan di trotoar yang sama, menonton film yang sering tidak selesai karena terlalu banyak bicara, dan duduk berdua di balkon kostan Amara setiap kali hujan turun?—?hanya duduk, tanpa perlu kata-kata.

“Aku tidak takut kehilanganmu,” kata Amara suatu malam. “Yang aku takutkan adalah melupakan bagaimana rasanya ada kamu.”

Raka tertawa waktu itu. Ia pikir itu hanya kalimat Amara yang selalu dramatis. Ia tidak tahu bahwa kalimat itu adalah semacam perpisahan yang Amara tulis jauh-jauh hari sebelum berani mengucapkannya.

***

Pertengkaran mereka bukan satu momen besar yang dramatis.

Ia terdiri dari hal-hal kecil yang menumpuk: pesan yang terlambat dibalas, janji yang terlupa, kata-kata yang seharusnya diucapkan tapi ditelan habis. Luka kecil yang ditutup dengan senyum, sampai suatu malam tidak ada lagi senyum yang tersisa.

Juni datang dengan hujan deras pertamanya ketika Amara akhirnya bicara.

Duduk di kursi yang sama, di balkon yang sama, tapi kali ini jarak di antara mereka terasa seperti lautan.

“Aku lelah, Raka. Bukan lelah sama kamu. Aku lelah sama aku sendiri yang terus berharap hal-hal akan berubah.”

Raka ingin berkata banyak hal.

Tapi mulutnya terasa seperti penuh dengan semua kata yang sudah terlambat. Ia hanya duduk, mendengar hujan, dan membiarkan malam itu mengambil apa yang tersisa.

***

Sekarang, setahun kemudian, Raka berdiri di depan jendela apartemennya. Juni kembali. Hujan kembali. Dan untuk pertama kalinya ia mengerti apa yang dulu Amara maksud tentang hujan yang jujur.

Ia memutar sebuah lagu?—?lagu yang entah dari mana tiba-tiba ada di daftar putarnya. Liriknya terasa seperti seseorang menuliskan apa yang selama ini mengendap di dadanya: tentang bulan Juni yang seperti peringatan, tentang nama yang masih mengisi ruang kosong di antara helaan napas, tentang seseorang yang pergi tapi meninggalkan jejak yang terlalu dalam untuk sekadar dilupakan.

Beberapa orang tidak pergi untuk dilupakan. Mereka pergi untuk mengajari kita bahwa ada hal-hal yang tidak bisa kita tahan dan itu bukan salah siapa pun.

Raka meletakkan dahinya di kaca jendela yang dingin.

Di luar, Jakarta terus hujan. Dan untuk pertama kalinya sejak Juni tahun lalu, ia tidak melawan air mata yang datang.

Ia biarkan saja. Seperti hujan yang jujur.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *