Catatan Dari Hati

Setetes Kehidupan untuk Negeri: Menjawab Tantangan Donor Darah Indonesia di Hari Donor Darah Sedunia 2026

Mahatma Gandhi pernah berkata bahwa cara terbaik menemukan diri sendiri adalah dengan kehilangan diri dalam pelayanan kepada sesama.

Kalimat itu terasa begitu hidup ketika kita berbicara tentang darah, sesuatu yang mengalir di dalam tubuh setiap manusia, namun bisa menjadi penyelamat bagi orang yang bahkan tak pernah kita kenal namanya.

Setiap 14 Juni, dunia berhenti sejenak untuk menghormati mereka yang mau menyingsingkan lengan baju demi orang asing. Tahun ini, Organisasi Kesehatan Dunia mengangkat tema yang menyentuh: One Drop of Humanity. Give Blood. Save Lives, atau Setetes Kemanusiaan, Berdonor Darah, Selamatkan Nyawa. Sebuah pengingat bahwa di dalam satu tetes darah, terkandung belas kasih, keberanian, dan janji diam-diam bahwa kita saling menjaga.

Peringatan ini memiliki akar sejarah yang panjang. Hari Donor Darah Sedunia pertama kali diselenggarakan pada 2004 oleh empat organisasi besar dunia, yaitu Organisasi Kesehatan Dunia, Federasi Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah, Federasi Internasional Organisasi Donor Darah, serta Perhimpunan Internasional Transfusi Darah.

Setahun kemudian, pada 2005, Majelis Kesehatan Dunia ke-58 secara resmi menetapkannya sebagai peringatan global tahunan. Tanggal 14 Juni tidak dipilih sembarangan. Hari itu bertepatan dengan kelahiran Karl Landsteiner pada 14 Juni 1868, ilmuwan asal Austria yang menemukan sistem golongan darah ABO pada 1901 dan kemudian meraih Penghargaan Nobel Kedokteran pada 1930.

Penemuannya, ditambah identifikasi faktor Rhesus bersama Alexander S. Wiener pada 1937, membuka jalan bagi transfusi darah yang aman dan modern. Dari sejarah itu, kita diingatkan pada satu kebenaran sederhana namun mendalam: darah tidak bisa dibuat di pabrik. Satu-satunya sumbernya adalah manusia lain yang dengan sukarela memberikan sebagian dari dirinya.

Di Indonesia, kebenaran sederhana itu berhadapan dengan kenyataan yang memprihatinkan. Mengacu pada standar Organisasi Kesehatan Dunia bahwa kebutuhan darah ideal sebuah negara mencapai sekitar dua persen dari jumlah penduduk, Kementerian Kesehatan mencatat bahwa dengan populasi sekitar 280 juta jiwa, kebutuhan darah nasional seharusnya menyentuh angka 5,6 juta kantong per tahun.

Namun pada 2025, ketersediaan darah baru mencapai sekitar 4,4 juta kantong. Masih menganga jurang lebih dari satu juta kantong yang harus diisi oleh kepedulian kita bersama. Komite Donor Darah Indonesia bahkan menyebut kekurangan tahunan berada di kisaran 1,4 juta kantong setiap tahunnya.

Angka itu terasa abstrak sampai kita menyandingkannya dengan wajah manusia. Seorang ibu yang mengalami pendarahan hebat setelah melahirkan. Seorang korban kecelakaan lalu lintas yang dilarikan ke meja operasi. Seorang anak penderita talasemia yang menanti transfusi berikutnya agar bisa terus bersekolah, tertawa, dan bermimpi.

Bagi mereka, satu kantong darah bukan statistik, melainkan selisih tipis antara kehilangan dan keberlangsungan. Satu unit darah yang aman, menurut Organisasi Kesehatan Dunia, bisa menyelamatkan hingga tiga nyawa.

Tantangan ke depan tidak berhenti pada jumlah. Persoalan kedua yang sama peliknya menyangkut distribusi. Stok yang berlimpah di kota besar tidak otomatis dapat menjangkau pasien di pelosok dengan akses transportasi terbatas dan fasilitas penyimpanan yang minim.

Catatan dari lapangan menggambarkan dinamika ini dengan jelas. Di DKI Jakarta, sepanjang 2025 tercatat 367.067 pendonor, atau rata-rata sekitar 30.589 orang setiap bulan.

Namun begitu memasuki bulan Ramadan, jumlahnya merosot tajam menjadi sekitar 20.712 orang. Fluktuasi musiman semacam ini menunjukkan betapa rapuhnya ketersediaan darah ketika ia hanya bersandar pada kesadaran yang naik turun.

Tantangan ketiga, dan barangkali yang paling menentukan masa depan, terletak pada regenerasi pendonor. Banyak unit donor darah di daerah mengangkat kekhawatiran bahwa minat generasi muda terhadap donor darah cenderung menurun, ditambah mitos dan kekhawatiran seputar prosesnya serta sosialisasi yang belum menarik. Bila tongkat estafet ini tidak berpindah ke tangan generasi penerus, kita sedang menabung krisis untuk satu dekade mendatang.

Namun di tengah keprihatinan itu, harapan tetap menyala terang. Kabar baiknya, generasi muda Indonesia mulai menunjukkan wajah solidaritas yang menggembirakan.

Di Kota Semarang, PMI mencatat seribu anak muda yang secara sukarela mendonorkan darahnya hingga pertengahan Oktober 2025, melampaui target awal tahun.

Di Kota Bandung, partisipasi Generasi Z bahkan menjadi ujung tombak utama pemenuhan stok darah. Inilah benih gotong royong modern yang menghubungkan orang tanpa saling mengenal, demi tujuan yang sama: menjaga nyawa sesama.

Lalu, solusi apa yang bisa kita tawarkan untuk menjawab tantangan ini? Pertama, pendekatan jemput bola perlu diperkuat dan diperluas. Inovasi seperti program donor langsung dari rumah yang dirintis sejumlah unit PMI patut direplikasi secara nasional, agar berdonor terasa semudah mungkin. Mobil unit donor yang aktif mendatangi sekolah, kampus, kantor, hingga komunitas keagamaan terbukti menjaga pasokan tetap mengalir.

Kedua, regenerasi pendonor harus digarap dengan bahasa generasi muda. Kampanye yang memanfaatkan media sosial, kolaborasi dengan komunitas, serta keteladanan dari relawan akan jauh lebih mengena ketimbang imbauan formal.

Membangun kelompok pendonor khusus anak muda, seperti yang mulai dirintis PMI Tangerang Selatan, adalah langkah strategis menanam kebiasaan baik sejak dini.

Ketiga, kemitraan lintas sektor mesti diperluas. Dunia usaha memiliki peran besar. Sebagai contoh, satu lembaga perbankan nasional berhasil mengumpulkan lebih dari 1.700 kantong darah dari Februari hingga awal Oktober 2025 melalui program tanggung jawab sosial. Bila ribuan perusahaan, instansi pemerintah, sekolah, dan tempat ibadah menjadikan donor darah sebagai agenda rutin, jurang satu juta kantong itu bukan lagi mimpi mustahil untuk ditutup.

Keempat, perlu investasi pada sistem logistik dan teknologi informasi darah agar distribusi merata hingga ke daerah terpencil, sekaligus memastikan golongan langka seperti rhesus negatif selalu tersedia ketika dibutuhkan. Manajemen data pendonor yang rapi memungkinkan unit donor menghubungi pendonor yang tepat di saat genting.

Pada akhirnya, semua solusi teknis itu berpijak pada satu fondasi yang sangat manusiawi: kemauan untuk memberi. Berdonor darah hanya memakan waktu kurang dari lima belas menit, prosesnya aman, dan tubuh segera memulihkan darah yang hilang.

Dari pengorbanan kecil itu, lahir keajaiban yang besar. Di hari yang istimewa ini, mungkin inilah panggilan yang paling jujur bagi kita semua, untuk menyingsingkan lengan baju dan menjadi penyelamat bagi seseorang yang tak akan pernah kita temui.

Sebagaimana pernah diucapkan Bunda Teresa, kita tak bisa melakukan hal besar di dunia ini, kita hanya bisa melakukan hal kecil dengan cinta yang besar.

Setetes darah memang tampak kecil, tetapi ketika diberikan dengan cinta, ia menjadi salah satu hal terbesar yang bisa dilakukan seorang manusia untuk manusia lainnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *