Catatan Dari Hati

Ketika Tangan yang Membangun Negeri Mulai Menua

“We cannot always build the future for our youth, but we can build our youth for the future.” — Franklin D. Roosevelt, pidato di Universitas Pennsylvania, 20 September 1940

Kita tidak selalu sanggup membangun masa depan untuk generasi muda, tetapi kita selalu bisa membangun generasi muda untuk menyongsong masa depan.

Kalimat Roosevelt itu terucap di tengah dunia yang sedang terbakar perang, ketika satu generasi terpaksa menitipkan seluruh harapannya kepada generasi berikutnya.

Delapan puluh enam tahun kemudian, kalimat tersebut terasa seperti bisikan lembut kepada siapa pun yang pernah berdiri di tepi lubang galian, mencium bau semen basah, lalu menyaksikan sebuah kota tumbuh sedikit demi sedikit.

Namun jarang kita bertanya: siapa sebenarnya tangan yang membangun kota itu? Dan berapa usia tangan tersebut sekarang?

Fenomena penuaan tenaga kerja di industri konstruksi bukan cerita baru. Akarnya tertanam jauh di masa pemulihan pasca Perang Dunia II, ketika Eropa, Jepang, dan Amerika membutuhkan jutaan lengan untuk menegakkan kembali kota yang rata.

Generasi ledakan kelahiran tahun 1946 sampai 1964 mengisi ruang itu dengan gairah luar biasa, membangun jalan tol, bendungan, pelabuhan, dan perumahan massal. Masalah muncul satu generasi berikutnya.

Anak-anak mereka menempuh pendidikan lebih tinggi, memilih ruang kerja berpendingin, dan meninggalkan lokasi proyek kepada orang tua mereka sendiri. Krisis keuangan 2008 memperparah keadaan, karena ratusan ribu pekerja terampil terlempar keluar dan tak pernah kembali.

Hasilnya tampak nyata: usia tengah pekerja konstruksi Amerika Serikat bertahan di angka 42 tahun, dan porsi generasi baby boomer di sana tinggal 14,2 persen karena gelombang pensiun.

Laporan CPWR mencatat rata-rata usia industri naik dari 41,6 menjadi 42,1 tahun sepanjang 2011 hingga 2023, sementara hanya 26,4 persen pekerja yang terlindungi program pensiun.

Jepang menyajikan potret yang lebih dramatis. Jumlah pekerja konstruksi di sana anjlok dari puncaknya 6,85 juta orang pada 1997 menjadi 4,85 juta pada 2021, susut sekitar 29 persen.

Pada saat yang sama, 35,5 persen pekerjanya berusia 55 tahun ke atas, seperempatnya bahkan sudah melewati 60 tahun, sedangkan yang berusia di bawah 30 tahun tinggal 12 persen.

Di Amerika, Associated Builders and Contractors memperkirakan industri konstruksi perlu menarik 349.000 pekerja baru pada 2026 dan 456.000 orang pada 2027, dengan mayoritas kebutuhan itu bersumber dari pensiun, bukan dari pertumbuhan proyek. Dunia sedang kehilangan tukangnya lebih cepat daripada kemampuannya mencetak yang baru.

Indonesia lama merasa aman dari kecemasan semacam itu. Sejak era Rencana Pembangunan Lima Tahun, keahlian membangun diwariskan lewat jalur paling sederhana dan paling manusiawi: seorang bocah lulus sekolah dasar ikut pamannya ke proyek, memikul adukan, memasang bata, memandang mandor dengan takzim, lalu dua puluh tahun kemudian menjadi mandor bagi keponakannya sendiri.

Sistem magang tanpa sertifikat itu bekerja dengan setia selama puluhan tahun. Namun rantai tersebut mulai putus. Direktorat Jenderal Bina Konstruksi mencatat bahwa dari 152,1 juta angkatan kerja nasional, hanya 8,76 juta jiwa yang bekerja di sektor konstruksi, dan sebagian besar bekerja tanpa pengakuan kompetensi apa pun.

Ironinya menyakitkan. Sektor konstruksi menyumbang 9,81 persen terhadap produk domestik bruto dan tumbuh lebih cepat daripada perekonomian nasional, tetapi dari sekitar 8,2 juta tenaga kerja konstruksi, baru 629.622 orang yang mengantongi sertifikat kompetensi.

Angka terbaru dari Kementerian Pekerjaan Umum bahkan menyebut tingkat sertifikasi baru sekitar 5,8 persen dari lebih dari 9,4 juta pekerja. Padahal Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2017 tentang Jasa Konstruksi mewajibkan setiap orang yang bekerja di sektor ini memiliki sertifikat kompetensi.

Sembilan dari sepuluh pekerja kita, dengan kata lain, membangun negeri ini secara diam-diam, tanpa nama, tanpa jenjang, tanpa catatan resmi mengenai apa yang sesungguhnya mereka kuasai. Ketika mereka pensiun atau sakit, ilmu tiga dekade menguap begitu saja.

Situasi itu bertemu dengan kenyataan demografi yang berubah cepat. Badan Pusat Statistik mengumumkan Indonesia resmi memasuki fase penuaan penduduk, dengan proporsi penduduk lanjut usia mencapai 11,97 persen pada 2025, tertinggi di Daerah Istimewa Yogyakarta sebesar 17,83 persen, disusul Jawa Timur dan Bali.

Potret lengkapnya terekam dalam publikasi Statistik Penduduk Lanjut Usia 2025. Di lapangan, gejalanya sudah terasa lebih dulu daripada statistiknya. Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Buleleng, misalnya, menerbitkan catatan resmi berjudul tukang sulit dicari dan proyek terhambat, karena anak muda setempat lebih memilih pariwisata, perdagangan, atau merantau ke luar negeri ketimbang memikul besi di bawah matahari.

Tantangan itu kian berat di tengah tarik ulur ekonomi dunia. Perekonomian Indonesia sebenarnya sedang menunjukkan ketangguhan yang layak disyukuri. Badan Pusat Statistik mencatat ekonomi nasional tumbuh 5,29 persen pada triwulan kedua 2026, sehingga sepanjang semester pertama tumbuh 5,45 persen.

Namun ruang fiskal tidak selonggar harapan. Pagu Kementerian Pekerjaan Umum untuk tahun 2026 dipangkas Rp12,71 triliun, turun dari Rp118,89 triliun menjadi Rp106,18 triliun demi menjaga defisit anggaran.

Artinya, industri dituntut membangun lebih banyak dengan uang lebih sedikit, memakai tenaga kerja yang usianya makin bertambah, di tengah gempuran ketidakpastian global, harga material yang liar, dan tarikan negara tetangga yang haus tukang terampil dan berani membayar berkali lipat.

Jalan keluarnya tidak bisa lagi bersandar pada kebetulan. Yang pertama dan paling mendesak adalah percepatan sertifikasi berbasis pengakuan pengalaman kerja. Tukang berusia lima puluh tahun yang telah memasang ribuan meter keramik tidak perlu disuruh kembali ke bangku kelas; ia perlu diuji di lokasi kerjanya, lalu diberi jenjang resmi yang bisa dibaca oleh pasar.

Data kompetensi itu wajib terbuka dan dapat ditelusuri, sebagaimana upaya pemerintah membuka basis data tenaga kerja konstruksi nasional. Sertifikat harus berbuah selisih upah yang nyata, sebab tanpa insentif ekonomi, secarik kertas hanya akan menjadi pajangan.

Yang kedua, jadikan penuaan sebagai aset, bukan beban. Pekerja senior sebaiknya digeser perlahan dari pekerjaan berat menuju peran pelatih, pengawas mutu, dan penjaga keselamatan kerja, dengan skema pensiun bertahap yang memanusiakan.

Setiap mandor senior idealnya mengasuh dua atau tiga anak muda dalam skema magang berbayar yang diwajibkan dalam dokumen kontrak proyek pemerintah. Ilmu yang selama ini hidup di ujung jari perlu direkam, difilmkan, dibukukan, dan diajarkan kembali di balai latihan kerja sampai ke tingkat kabupaten.

Yang ketiga, ringankan tubuh manusia dengan teknologi. Konstruksi modular dan pracetak memindahkan sebagian pekerjaan dari lokasi berdebu ke pabrik yang teduh, sehingga pekerja berumur tetap produktif tanpa merusak punggungnya.

Pemodelan informasi bangunan dan kecerdasan buatan membuat perencanaan lebih presisi dan mengurangi pekerjaan bongkar pasang yang melelahkan. Langkah ke arah sana sudah dimulai lewat program seperti AI x 5D BIM Master Challenge 2026, dan perlu diperluas hingga menyentuh kontraktor kecil di daerah.

Yang keempat, pulihkan martabat profesi. Anak muda tidak menjauh dari konstruksi semata karena pekerjaannya berat, melainkan karena pekerjaan itu terasa tidak dihargai, tidak aman, dan tidak pasti.

Upah layak, jaminan sosial yang benar-benar aktif, sanitasi dan barak yang manusiawi, jam kerja yang wajar, serta ruang yang lebih terbuka bagi perempuan akan mengubah citra profesi ini lebih cepat daripada kampanye apa pun. Politeknik dan sekolah vokasi perlu digandeng erat oleh kontraktor sejak semester pertama, bukan menunggu wisuda.

Pada akhirnya, persoalan penuaan tenaga kerja konstruksi bukan sekadar hitungan statistik ketenagakerjaan. Ia menyangkut seorang bapak di Cirebon yang lututnya mulai goyah setelah tiga puluh tahun memanjat perancah, tetapi belum punya siapa pun untuk mewarisi ilmunya. Ia menyangkut jembatan yang akan kita lewati sepuluh tahun lagi, dan tangan siapa yang menuangkan betonnya.

Negeri ini masih memiliki jendela emas berupa jutaan anak muda yang sedang mencari arah menutup jarak antara generasi yang mulai lelah dan generasi yang belum tersentuh adalah pekerjaan paling strategis yang bisa kita kerjakan hari ini, sebelum pengetahuan itu pensiun bersama pemiliknya.

“Leadership and learning are indispensable to each other.” — John F. Kennedy, naskah pidato yang tak sempat disampaikan di Dallas, 22 November 1963

Kepemimpinan dan pembelajaran memang tidak dapat dipisahkan. Bangsa yang berani belajar dari tangan-tangan tuanya, lalu meneruskan ilmu itu kepada tangan-tangan mudanya, tidak akan pernah kehabisan orang untuk membangun masa depannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *