Catatan Dari Hati

Kepada Mereka yang Masih Bangun dan Mencoba Lagi

Terdapat satu jenis kesunyian yang hanya bisa dipahami oleh orang yang pernah duduk sendirian di ujung tempat tidur, jam dua pagi, dengan pikiran yang berputar tanpa jawaban.

Bukan kesunyian yang damai. Kesunyian yang bising.

Di dalamnya ada pertanyaan yang tidak berani kita ucapkan keras-keras: apakah aku sudah memilih jalan yang benar? Apakah semua kelelahan ini ada gunanya? Apakah aku sedang dijaga, atau sedang dibiarkan?

Di ruang seperti itulah lagu “Tanda” dari Yura Yunita bekerja.

Lagu ini lahir bukan dari studio yang steril, melainkan dari sebuah pengalaman batin ketika Yura sedang bertawaf di Masjidil Haram, mengitari satu titik yang menjadi pusat dari jutaan doa manusia, di bawah cahaya bulan. Melodinya, kata Yura, hadir begitu saja di dalam hatinya.

Dirilis pada akhir Februari 2025 menjelang Ramadan, lagu ini kemudian menemukan pendengarnya jauh melampaui musim itu. Aransemennya sengaja dibuat sederhana, hampir telanjang, sehingga yang tersisa hanyalah suara seorang manusia yang sedang berbicara kepada Penciptanya.

Dan justru karena kesederhanaan itulah ia terasa seperti doa kita sendiri yang kebetulan dinyanyikan orang lain.

Inti lagu ini sesungguhnya adalah sebuah dialog yang sangat jujur: seorang hamba yang menarik napas panjang, mengakui bahwa dirinya pun layak dicintai, lalu menyerahkan keputusan kepada yang lebih tinggi.

Jika sesuatu itu memang untuknya, ia meminta agar didekatkan. Jika ternyata bukan, ia meminta izin untuk memohon dulu: kalimat yang begitu manusiawi, karena di situ terlihat bahwa berserah tidak selalu berarti langsung rela.

Kepasrahan kadang berarti menawar dengan lembut, lalu perlahan belajar menerima. Sisanya adalah penantian: menunggu tanda di setiap pergantian malam dan siang.

Dan lagu itu ditutup dengan sesuatu yang membuat banyak pendengar tiba-tiba menangis tanpa tahu sebabnya, kesadaran bahwa tandanya ternyata sudah terasa, sudah ada di sana sejak tadi, hanya saja kita terlalu sibuk mencarinya di tempat yang jauh.

Saya melihat lagu ini sebagai salah satu deskripsi paling akurat tentang kondisi psikologis manusia modern: kita hidup dalam ketidakpastian yang tidak kita pilih, dan kita mencari kepastian yang tidak pernah dijanjikan.

Dalam bahasa klinis, ada istilah intolerance of uncertainty yakni ketidakmampuan menahan rasa tidak tahu. Ia adalah bahan bakar utama kecemasan.

Otak kita tidak dirancang untuk hidup menggantung; ia lebih memilih kabar buruk yang pasti daripada kabar baik yang belum jelas. Maka kita menuntut tanda.

Kita ingin semesta memberi tanda terima, bukti tertulis, garansi. Dan ketika tanda itu tidak datang dalam bentuk yang kita bayangkan, kita menyimpulkan bahwa kita ditinggalkan.

Yang menarik, lagu “Tanda” tidak dibuka dengan permintaan.

Ia dibuka dengan napas. Ini bukan kebetulan puitis semata. Dalam praktik kesehatan jiwa, menarik napas panjang lalu menghembuskannya perlahan adalah teknik paling dasar untuk menenangkan sistem saraf yang sedang panik, sebuah cara tubuh berkata kepada dirinya sendiri bahwa saat ini, detik ini, ia sedang aman.

Yura, disadari atau tidak, meletakkan urutan yang benar: tenangkan dulu tubuhmu, sadari dulu bahwa kau berharga, baru bicara dengan Tuhan. Sebab doa yang lahir dari panik sering kali bukan doa, melainkan tuntutan.

Dan di sinilah lagu ini bertemu dengan zaman kita. Karena hari ini, jutaan orang Indonesia sedang menunggu tanda dalam pengertian yang jauh lebih membumi: tanda bahwa gaji bulan depan masih ada, tanda bahwa pabrik tidak jadi tutup, tanda bahwa anak masih bisa lanjut sekolah.

Gelombang pemutusan hubungan kerja masih berlanjut di berbagai sektor sepanjang 2026, dan para ekonom mengingatkan bahwa yang kita hadapi bukan sekadar perlambatan, melainkan pertumbuhan yang tidak menciptakan cukup pekerjaan—ekonomi tumbuh di angka lima persen, tetapi upah riil nyaris tidak bergerak selama hampir satu dekade.

Kelas menengah yang jumlahnya lebih dari separuh penduduk negeri ini sedang mengalami apa yang disebut mobilitas turun: orang-orang yang dulu merasa aman kini merasa satu langkah dari rentan.

Di luar sana, perlambatan ekonomi negara maju, fragmentasi perdagangan global, dan gejolak harga energi menambah lapisan ketidakpastian yang tidak bisa dikendalikan siapa pun dari rumah kontrakan di Cikarang atau Bekasi.

Tantangan terbesarnya, menurut saya, bukan angka-angka itu sendiri, melainkan hilangnya rasa aman.

Rasa aman adalah fondasi kesehatan jiwa. Ketika ia runtuh, yang muncul bukan hanya kecemasan dan insomnia, tetapi juga sesuatu yang lebih halus dan lebih merusak: rasa malu.

Orang yang kehilangan pekerjaan sering kali tidak menderita karena kehilangan uang saja, tetapi karena merasa gagal sebagai manusia. Ia berhenti dari grup WhatsApp keluarga, menolak undangan kondangan, tidak berani pulang kampung.

Dan dalam kekosongan itu, tumbuhlah dua bahaya kembar. Pertama, spiritualitas yang salah arah: pasrah yang berubah menjadi fatalisme, menunggu tanda sambil berhenti berikhtiar, seolah doa adalah pengganti tindakan.

Kedua, dan ini yang lebih ganas, industri harapan palsu: judi online yang menjanjikan tanda dalam bentuk kemenangan instan, pinjaman daring yang menawarkan kelegaan tiga hari lalu menagih dengan teror, dan janji-janji kekayaan cepat yang memangsa orang-orang paling putus asa.

Statistik kesehatan jiwa dan statistik ekonomi sesungguhnya adalah dua wajah dari grafik yang sama.

Lalu apa yang bisa kita lakukan?

Saya percaya jawabannya harus berlapis, dan tidak boleh berhenti pada nasihat “yang sabar, ya”.

Di tingkat pribadi, hal paling penting adalah memisahkan harga diri dari penghasilan. Nilaimu sebagai manusia tidak dicetak di slip gaji. Ini bukan kalimat motivasi; ini pekerjaan psikologis yang serius dan butuh latihan setiap hari, termasuk latihan mengizinkan diri sedih tanpa menghakimi diri sebagai lemah.

Di tingkat keluarga dan komunitas, Indonesia sebenarnya memiliki modal yang tidak dimiliki banyak bangsa: kita masih punya tetangga, masih punya pengajian dan persekutuan doa, masih punya arisan dan warung kopi tempat orang bercerita tanpa perlu janji temu.

Jaring sosial ini adalah layanan kesehatan jiwa paling luas yang pernah dimiliki negeri ini, dan ia gratis. Yang perlu kita lakukan adalah memperkuatnya secara sadar, melatih tokoh agama, guru, dan pengurus RT dengan keterampilan dasar pertolongan pertama psikologis, agar mereka tahu kapan harus mendengarkan dan kapan harus merujuk.

Di tingkat kebijakan, tantangan sesungguhnya adalah menciptakan pekerjaan yang layak, bukan sekadar angka pertumbuhan yang indah di atas kertas. Itu berarti memperluas perlindungan bagi pekerja informal dan pekerja lepas yang selama ini berada di luar sistem, memastikan jaminan kehilangan pekerjaan benar-benar mudah diakses oleh mereka yang membutuhkannya, dan menjadikan pelatihan ulang keterampilan sebagai hak, bukan hadiah.

Sejajar dengan itu, layanan kesehatan jiwa harus keluar dari rumah sakit jiwa dan masuk ke puskesmas, sekolah, dan tempat kerja. Dengan jumlah psikiater dan psikolog klinis yang masih sangat terbatas untuk penduduk sebesar ini, kita tidak punya pilihan selain membangun sistem berjenjang: komunitas sebagai lapis pertama, tenaga kesehatan primer sebagai lapis kedua, spesialis untuk kasus yang memang berat.

Dan pemerintah perlu menindak tegas industri yang memangsa keputusasaan, karena melindungi warga dari judi daring dan pinjaman predatoris hari ini adalah kebijakan kesehatan jiwa, bukan sekadar urusan hukum.

Namun izinkan saya menutup dengan kembali ke lagu itu, karena di sanalah letak penghiburan yang paling saya percayai. Bagian paling memilukan sekaligus paling melegakan dari “Tanda” adalah kesadaran di ujungnya: bahwa tanda itu ternyata sudah terasa.

Selama ini kita mengira tanda akan datang seperti petir: jelas, dramatis, tidak mungkin salah. Padahal tanda hampir selalu datang dalam bentuk yang lebih sederhana.

Ia berupa napas yang masih bisa kau tarik pagi ini. Ia berupa teman yang menelepon tanpa sebab di hari kau paling ingin menyerah. Ia berupa ibu yang tetap menanak nasi meski dapurnya sedang sempit. Ia berupa dirimu yang, entah bagaimana, masih bangun dan mencoba lagi.

Mungkin itulah yang ingin dikatakan Yura ketika ia menulis bahwa kita hanyalah bagian kecil dari semesta yang luas, tetapi setiap jejak yang kita tinggalkan tetap berarti. Di tengah ekonomi yang tidak ramah dan masa depan yang tidak jelas, kita tidak sedang diminta untuk kuat sepanjang waktu.

Kita hanya diminta untuk tidak berhenti mencari—dan untuk sesekali menoleh ke sekitar, karena boleh jadi tanda yang kita tunggu-tunggu itu sedang duduk di sebelah kita, memanggil nama kita, menunggu untuk dikenali.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *