Membangun Harapan di Atas Pondasi Inovasi: Jalan Konstruksi Indonesia Menembus Badai Ekonomi Dunia
“Setiap orang layak mendapatkan mutu, setiap orang layak mendapatkan kemewahan, dan setiap orang layak mendapatkan kenyamanan.” Diébédo Francis Kéré, arsitek asal Burkina Faso, penerima Pritzker Architecture Prize 2022
Kalimat itu datang dari seorang anak desa di Gando, Burkina Faso, yang kemudian meraih penghargaan paling bergengsi di dunia arsitektur. Kéré tidak membangun menara kaca di kota besar.
Ia membangun sekolah dari tanah liat bersama warga kampungnya sendiri, dengan bahan yang ada di sekitar mereka dan tangan yang mereka miliki.
Kalimat itu selalu saya bawa setiap kali berdiri di tepi galian pondasi, menatap besi tulangan yang menjulang seperti jemari yang menunjuk langit. Bangunan yang baik bukan hak istimewa segelintir orang, dan inovasi sejati adalah inovasi yang membuat mutu terjangkau bagi semua.
Hari ini, 1 November, bangsa kita memperingati Hari Inovasi Indonesia, sebuah gerakan yang pertama kali digagas oleh Handi Irawan D dari Tera Foundation untuk menumbuhkan keberanian berinovasi di setiap lapisan masyarakat.
Bagi saya, peringatan ini bukan sekadar seremoni tahunan. Ia adalah cermin yang memaksa kita bertanya dengan jujur: sudahkah kita membangun dengan cara yang lebih cerdas dari kemarin?
Pertanyaan itu terasa makin mendesak ketika kita menengok keadaan dunia. Dana Moneter Internasional dalam laporan terbarunya memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global melambat menjadi 3,1 persen pada 2026, sementara inflasi dunia justru naik ke 4,7 persen.
Risiko konflik, gejolak energi, ketegangan dagang, dan rapuhnya keuangan negara masih membayangi. Lebih dari itu, pertumbuhan dunia kini makin timpang, karena hanya 32 negara yang menyumbang 95 persen pertumbuhan global.
IMF juga mengingatkan bahwa negara pengimpor energi dan berpendapatan rendah menghadapi lingkungan yang jauh lebih menantang, sementara beban bunga utang dunia diperkirakan mencapai sekitar 2,3 persen dari PDB global tahun ini. Dunia sedang berjalan di atas jembatan yang bergoyang.
Di tengah goyangan itu, Indonesia masih berdiri cukup kokoh. Perekonomian nasional tumbuh 5,29 persen pada triwulan II 2026, dan sektor konstruksi tampil di barisan terdepan dengan pertumbuhan 6,68 persen.
Sejak awal tahun, denyut itu sudah terasa, karena pada triwulan I konstruksi tumbuh 5,49 persen berkat belanja modal pemerintah dan meningkatnya pembangunan oleh swasta. Angka itu bukan sekadar statistik. Di baliknya ada jutaan tangan yang mengaduk semen sejak subuh, ada mandor yang menghitung kebutuhan material di bawah terik matahari, ada insinyur muda yang begadang memeriksa gambar kerja.
Namun, saya tahu bahwa pondasi yang terlihat kuat pun bisa menyimpan retak rambut. Tantangan pertama adalah ruang fiskal yang kian sempit. Kementerian Pekerjaan Umum mengelola pagu sebesar Rp132,38 triliun pada 2026, dengan realisasi 52,14 persen hingga akhir Agustus.
Padahal, kebutuhan pembangunan infrastruktur periode 2025 sampai 2029 diperkirakan mencapai Rp10.302,97 triliun, dan pemerintah hanya sanggup menanggung sekitar 40 persennya. Sisanya harus datang dari BUMN, BUMD, dan investasi swasta. Dengan suku bunga dunia yang masih tinggi, setiap rupiah harus bekerja dua kali lebih keras.
Tantangan kedua menyentuh sisi paling manusiawi dari pekerjaan kami: rumah. Badan Pusat Statistik mencatat 9,29 juta rumah tangga belum memiliki rumah dan sekitar 18,01 juta rumah tangga belum menempati hunian yang layak.
Angka itu memang membaik dibanding tahun lalu, tetapi di balik setiap angka ada seorang ibu yang menadahkan ember saat hujan turun, ada anak yang belajar di bawah atap bocor, ada keluarga yang berpindah kontrakan setiap tahun. Membangun rumah bukan sekadar menyusun bata. Kita sedang menyusun martabat.
Tantangan ketiga adalah manusia yang membangun itu sendiri. Hingga 22 Oktober 2026, Kementerian PU telah membina dan menyertifikasi 41.824 tenaga kerja konstruksi di seluruh Indonesia. Itu langkah yang patut kita syukuri, tetapi bandingkan dengan perkiraan asosiasi kontraktor bahwa kebutuhan tenaga kerja konstruksi yang kompeten dan bersertifikat mencapai 12 juta orang.
Jaraknya masih sangat jauh. Saya kerap bertemu tukang batu dengan keahlian luar biasa yang ia pelajari dari ayahnya, namun tidak pernah mendapat pengakuan resmi. Keahlian itu adalah kekayaan bangsa yang belum kita catat dengan layak.
Tantangan keempat datang dari langit yang makin panas. Laporan Program Lingkungan PBB menyebut sektor bangunan dan konstruksi menyumbang 37 persen emisi global dan hampir 50 persen pengambilan material dari alam.
Indonesia sedang membangun secara besar besaran. Pertanyaannya, apakah kita akan mengulang kesalahan negara maju yang membangun dahulu lalu membersihkan kemudian, atau melompat langsung ke cara membangun yang ramah bumi?
Di atas semua itu, kemampuan inovasi kita masih perlu didorong lebih kuat. Dalam Indeks Inovasi Global 2026, Indonesia berada di peringkat ke-55 dari 139 negara dengan skor 32,7, dan WIPO sendiri mencatat posisi kita cenderung tertahan di sekitar peringkat 55 selama tiga tahun terakhir. Kita sudah berhenti tergelincir, tetapi belum mulai mendaki. Bagi dunia konstruksi, ini adalah tamparan sekaligus panggilan.
Lalu, apa yang bisa kita kerjakan? Izinkan saya menawarkan jalan yang lahir dari pengalaman lapangan dan ruang laboratorium. Langkah pertama adalah memindahkan sebagian pekerjaan dari lokasi proyek ke pabrik.
Komponen pracetak dan rumah modular yang diproduksi di dekat lokasi pembangunan mampu memangkas waktu kerja, menekan sisa material, dan menjaga mutu tetap seragam.
Bila dipadukan dengan bahan lokal seperti bambu laminasi, abu terbang sisa pembangkit listrik, dan semen rendah karbon, kita tidak hanya membangun lebih cepat untuk menutup kekurangan rumah, tetapi juga lebih hemat dan lebih bersih.
Langkah kedua adalah menjadikan data sebagai alat kerja harian. Pemodelan informasi bangunan secara digital semestinya menjadi syarat wajib bagi proyek yang dibiayai negara, sehingga benturan desain terdeteksi sebelum beton dicor, bukan sesudah dibongkar.
Sensor sederhana pada jembatan dan bendungan dapat memberi peringatan dini sebelum kerusakan menjadi bencana. Keterbukaan data pengadaan akan menutup celah pemborosan dan mengembalikan kepercayaan publik.
Langkah ketiga adalah keberanian berinovasi dalam pembiayaan. Pemerintah telah mendorong agar skema kerja sama pemerintah dan badan usaha untuk jalan tol pada 2026 tidak lagi bergantung pada dukungan konstruksi dari APBN.
Semangat ini perlu diperluas melalui sukuk dan obligasi hijau, pemanfaatan kenaikan nilai lahan di sekitar proyek transportasi untuk membiayai pembangunan, serta kemitraan dengan dana pensiun dan investor jangka panjang yang mencari imbal hasil stabil.
Langkah keempat, dan menurut saya yang paling penting, adalah memuliakan para pekerja. Sertifikasi harus datang ke lokasi proyek, bukan menunggu pekerja datang ke kota. Sekolah lapang bagi tukang, kurikulum vokasi yang disusun bersama industri, serta upah yang terkait langsung dengan sertifikat kompetensi akan mengubah cara anak muda memandang profesi ini.
Program padat karya seperti infrastruktur berbasis masyarakat dan jembatan gantung, yang tahun ini menjangkau sekitar 15.338 lokasi dengan alokasi Rp5,48 triliun, dapat menjadi ruang belajar sekaligus sumber penghidupan bagi warga desa.
Langkah kelima adalah merapatkan barisan antara kampus, lembaga riset, kontraktor nasional, dan pelaku usaha kecil di daerah. Banyak temuan berharga di laboratorium kita yang berhenti di rak perpustakaan karena tidak pernah bertemu dengan pengguna. Insentif pajak untuk kegiatan riset yang sudah tersedia perlu dimanfaatkan lebih luas oleh perusahaan konstruksi, dan proyek negara bisa menyisihkan ruang uji coba bagi teknologi buatan anak bangsa.
Saya membayangkan. pada sore hari di sebuah proyek irigasi di pelosok, ketika seorang petani tua menghampiri saya dan berkata pelan bahwa ia akhirnya bisa menanam dua kali setahun. Ia tidak paham soal kuat tekan beton atau nilai investasi.
Yang ia tahu, sawahnya kini hidup. Di situlah makna sejati pekerjaan yang pernah dan sedang dilakukan. Inovasi konstruksi bukan tentang gedung yang paling tinggi atau jalan yang paling panjang, melainkan tentang kehidupan yang menjadi lebih baik karena sesuatu yang kita bangun dengan cerdas, jujur, dan penuh cinta.
Hari Inovasi Indonesia mengingatkan kita bahwa badai ekonomi dunia bukan alasan untuk berhenti membangun, melainkan alasan untuk membangun dengan cara yang berbeda.
Kita tidak bisa mengendalikan arah angin global, tetapi kita bisa memastikan bahwa pondasi yang kita tanam hari ini cukup dalam, cukup kuat, dan cukup bijak untuk menopang Indonesia yang akan dihuni oleh anak cucu kita.