TENTANG CINTA PERTAMA, SEBUAH KENANGAN TAK TERLUPAKAN

Posted 16 Feb 2010 — by
Category Artikel, Kisahku

images (2)Kau datang membawa
Sebuah cerita
Darimu itu pasti lagu ini tercipta
Darimu itu pasti lagu ini tercipta

Dari jendela kelas yang tak ada kacanya
Tembus pandang kekantin bertalu rindu
Datang mengetuk pintu hatiku

(Iwan Fals, “Jendela Kelas Satu”)

Semesta seakan berhenti bergerak.

Waktu mendadak tak berdetak.

Hening. Sunyi. Beku.

Suara lantang wali kelas kami mengumumkan kedatangan siswi baru pindahan dari sebuah kota yang jauh menyentakkan sekaligus membuat takjub kami semua. Gadis itu, siswi pendatang baru menatap malu-malu ke arah kami sembari menunduk tersipu. Potongan rambut mirip Lady Di dengan beberapa helai rambut jatuh dikeningnya membuat saya terpana dalam kekaguman.

Cantik sekali dia, saya membatin. Kemeja putih dan rok biru yang dikenakan gadis muda itu sungguh sangat kontras dengan pancaran keanggunan yang ia miliki. Dan pada matanya. Ada rembulan mengapung teduh disana.

Seketika desir-desir aneh mulai merambati hati. Sesuatu yang tak saya pahami selain sebuah keinginan besar untuk selalu dekat dengannya. Menikmati segala keindahannya. Lalu menjadi bagian dari segala kebahagiaan, juga kesedihannya. Perempuan itu telah berhasil merebut simpati dan perhatian saya pada kesempatan pertemuan pertama. Love at the first sight.

Ya, mengenang kembali Cinta Pertama bagi saya, adalah membayangkan kembali disuatu masa, dimana saya menjelma menjadi sesosok pria remaja kurus ceking berseragam putih dan celana pendek biru yang berdiri tegak kaku dengan lutut bergetar dipinggir pintu kelas,  menyaksikan dia, perempuan yang selalu jadi bunga mimpi dari malam ke malam (selanjutnya kita panggil saja “Diajeng”) , berlalu anggun sembari melepas senyum riang yang, membuat jantung saya berpacu kencang dengan desir aneh tak terkatakan.

“Suatu waktu, dia akan menemani saya tumbuh besar, dewasa, membangun keluarga bahagia, memiliki anak-anak dan menjadi tua bersama”, begitulah “tekad” sederhana yang terpatri dalam batin saya. Sebuah tekad yang mungkin “musykil” tapi bukan mustahil untuk diwujudkan.

Saya mengenang bagaimana ketika saya dengan malu-malu mencuri pandang kearah Diajeng yang duduk di bangku depan, mengagumi setiap helai rambutnya yang berpotongan ala Lady Di serta matanya yang berpendar lembut.

Saya bahkan tak pernah berani bertatapan langsung dengannya atau berbicara lebih lama, karena badan saya mendadak terasa jadi kaku tak bisa bergerak.

Setiap malam, tak pernah tak terlewatkan membayangkan sosok sang idaman hati menjelang tidur bahkan kerap berkunjung menghiasi mimpi-mimpi, menjelma bidadari berpakaian warna warni dan bersayap cemerlang.

Betapa dashyat “gempuran” hati dari cinta pertama ini.

Sayang sekali, saya tidak memiliki keberanian sedikitpun untuk melakukan pendekatan secara intens. Bukan apa-apa, saya merasa rendah diri setiap kali berhadapan dengannya. Secara status sosial ia memiliki “derajat” lebih tinggi ketimbang saya yang hanyalah seorang putra pegawai negeri biasa yang tinggal di Perumteks.

Setiap hari Diajeng diantar ke sekolah oleh mobil sang ayah sementara saya mengendarai sepeda atau kadang berjalan kaki ramai-ramai dengan teman-teman ke sekolah. Saya sungguh sungkan dan akhirnya menganggap saya bukanlah orang yang pantas mendampinginya . Saya mengalami inferioritas tahap akut dan parahnya itu justru saya alami pada perempuan yang sangat saya sukai (sesuatu yang kemudian saya sesali beberapa tahun ke depan).

Suatu Hari Diajeng datang menghampiri saya didekat kelas kami. Kaki saya mendadak gemetar dan lidah terasa kelu.

“Tolong, ajari saya matematika ya?”, katanya pelan sedikit tersipu.

Saya tak bisa berkata apa-apa. Hanya terpana (lebih tepatnya menganga).

Tak percaya rasanya mendapat anugerah sebesar ini. Saya seumpama tokoh Ikal di film Laskar Pelangi ketika pertama kali bertemu dengan A-Ling ketika membeli kapur tulis di Toko Sinar Harapan. Ada kupu-kupu beterbangan dan bunga-bunga indah bertebaran dihadapan saya dan dia. Indah sekali.

Sampai kemudian ia menyentakkan lamunan saya dengan tawa pelan, yang, amboi..sungguh mempesona. Bagai gempa bumi 9 scala richter berpotensi tsunami yang menggetarkan relung-relung hati paling dalam. Ini sebuah anugerah luar biasa yang sama sekali tak terduga dan sangat diharapkan.

Dan begitulah dengan segala keikhlasan dan kerelaan, saya pun menemani dan mengajari Diajeng belajar matematika di teras rumahnya yang megah setidaknya seminggu dua kali. Dengan gagah berani-bagai ksatria perkasa berbaju zirah menunggang kuda sembrani- saya mengendarai sepeda Jengki berwarna Oranye saya kerumahnya yang berjarak kurang lebih 1,5 km dari rumah saya itu.

Sepeda butut saya tersebut selalu dipacu kencang menuju kesana, tak sabar ingin segera bertemu. Kerapkali rantai sepeda lepas dipinggir jalan dan merepotkan saya untuk memasangnya kembali.

Saya sudah berdandan rapi memakai minyak rambut tancho hijau yang memiliki daya lengket luar biasa dan memberikan efek ala rambut Al Pacino dalam film “Godfather” itu serta menyemprotkan parfum murahan ayah saya dari rumah. Sebuah upaya sistematis romantis untuk (sedikit) meningkatkan derajat ketampanan.

Meski akhirnya penampilan itu jadi sia-sia belaka ketika semuanya luntur saat tiba disana oleh yang keringat mengucur deras karena letih mengayuh sepeda. Semua “penderitaan” itu terbayar tunai hanya dengan melihat senyum manisnya yang menyambut saya, bagai Naysila Mirdad menyongsong Dude Herlino-nya dalam sebuah episode sinetron masa kini :)

Saya ingat betul, dalam kondisi ngos-ngosan, Diajeng menyodorkan air putih dingin kepada saya. “Minum dulu, capek ya? Makanya jangan ngebut-ngebut naik sepedanya,” kata Diajeng sembari memamerkan senyumnya yang fenomenal itu. Terasa benar rasa letih saya mendadak menguap ke udara dan terganti dengan rasa bahagia menyeruak di dada. Dengan tangan yang masih ada sisa oli pelumas rantai sepeda, saya meraih gelas yang disodorkan Diajeng lantas mereguknya dengan lahap, melampiaskan dahaga. Ia menyaksikan aksi spontan saya itu sambil tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepala.

Sebagai “bintang kelas” tak ada kesulitan buat saya mengajarkan soal-soal matematika kepada sang wanita pujaan hati. Meski memang konsentrasi saya kadang buyar karena saya kerap lebih menikmati pesona wajahnya ketimbang serius mengajari matematika.

Walau tak terkatakan, dari sorot matanya saya tahu, Diajeng juga menyukai saya selalu berada didekatnya, berbagi serta bercerita tentang banyak hal. Dan kami sama-sama menjaga perasaan itu tersembunyi didalam lubuk hati masing-masing, secara utuh dan elegan. Cinta memang tak mesti diungkapkan secara verbal.

Ketika Diajeng harus pergi mengikuti penugasan sang ayah ke kota lain, betapa hati saya jadi layu dan terluka karenanya. Saya tak sempat mengungkapkan perasaan terdalam bahkan ketika perpisahan itu tiba hanya berselang beberapa hari setelah acara perpisahan sekolah kami.

Di hari terakhir saya bertemu dengannya, kami berjabat tangan dan berjanji akan saling mengirim kabar. Ada kepedihan terlihat dimatanya. Ia terlihat rikuh saat menarik kembali tangannya yang sudah saya genggam lama.  Saya tersenyum malu. Ia tertawa pelan lalu mengangguk saat saya berkata lirih, “Jangan lupakan saya ya?”. Dengan langkah gontai saya meninggalkan teras pekarangan rumahnya tempat dimana saya dulu sering mengajarinya matematika. Ia masih berdiri disana saat saya menoleh kebelakang. Ia melambaikan tangan dan menangis. Ah, sepenggal hati saya tertinggal disana..

Dua hari setelah Diajeng pergi, saya jatuh sakit selama seminggu. Kedua orang tua saya sempat bingung, putra sulungnya tiba-tiba sakit tak jelas, mogok makan dan mogok sekolah. Susah rasanya membangun kembali hati yang porak-poranda gara-gara cinta pertama yang berakhir memilukan begini.

Kehilangan itu sungguh sangat membekas dihati. Bahkan ketika memasuki masa SMA saya memilih untuk lebih berkonsentrasi belajar dan mengurus OSIS SMA ketimbang menjalin hubungan cinta (baca kisah “kelanjutan” cerita ini di “Love at The First Voice”). Saya masih memendam harapan pada Diajeng yang ketika itu sering mengirim surat pada saya. Di tahun kedua setelah kepergiaannya, saya kehilangan jejak dan kami tak pernah lagi saling berkirim surat.

Kenangan cinta pertama memang tak terlupakan. Dan kehangatannya masih tetap terasa hingga kini. Saya menandai momen terindah dalam sepotong episode kehidupan saya ini sebagai sebuah monumen berharga. Entah disuatu ketika (bisa jadi setelah kami sudah sama-sama tua), saat kami akhirnya bertemu kembali, saya ingin mengajaknya mengenang masa-masa indah itu, sembari bersenandung lagu lawas Iwan Fals “Jendela Kelas Satu” yang kerap saya dendangkan dengan rindu membuncah saat mengayuh sepeda menuju rumahnya mengajari Matematika

Ah, Diajeng…semoga kebahagiaan selalu berada bersamamu..


Duduk dipojok bangku deretan belakang

Didalam kelas penuh dengan obrolan

Slalu mengacau laju hayalan

 

Dari jendela kelas yang tak ada kacanya

Dari sana pula aku mulai mengenal

Seraut wajah berisi lamunan

 

Bibir merekah dan merah selalu basah

Langkahmu tenang kala engkau berjalan

Tinggi semampai gadis idaman

 

Kau datang membawa

Sebuah cerita

Darimu itu pasti lagu ini tercipta

Darimu itu pasti lagu ini tercipta

 

Dari jendela kelas yang tak ada kacanya

Tembus pandang kekantin bertalu rindu

Datang mengetuk pintu hatiku

 

34 Comments

  1. Kunjungan pertama, salam kenal.

    Reply
  2. First love yang manis… hehehe…

    Reply
  3. He…he…. Ternyata ada hal yang tidak selesai di SMP Neg 2 Maros ya ???

    –Wah, ada saksi hidupnya ikutan ngintip…hehehe. Please keep it secret ya bro :))

    Reply
  4. apakah sampai sekarang belum bertemu lagi dengan diajeng, pak?

    Reply
  5. so sweet bang, cinta pertama emang tidak bisa di lupakan… :) :)

    Reply
  6. duh crita nya bagus
    cinta pertama mang dx bisa d lupakan..
    aq ud hmpir 6 thun berharap 1st love ku kmbali..
    msh berharap

    Reply
    • amriltg

      Wah..mudah2-an tidak cuma berharap, harus segera action dong..hehehe. Sukses ya

      Reply
    • Hezty

      waaah… berbalik denganku dong cinta lama yang uda pergi slama 6 tahun kini dia kembali…
      dan sekarang dia gk akan aku lepasin lagi..!!! :)

      Reply
  7. bagus banget bang gambaran jantungnya tau yang terbuat dari awan itu…salam kenal ya,,,

    Reply
  8. woww…keren banget to mas,,,,thanks to info yah,,,,

    Reply
  9. inchi

    first love so sweet yang tak terlupakan ….wow good banget deh….
    bravo brother maju terus

    Reply
  10. inchi

    sy sdh bisa mengira siapa orangnya karena dia adalah salah satu teman dgn saya oh first love yang begitu indah klu dikenang betapa kita merindukan masa2 waktu itu, karena saya juga merasakannya rasa rindu itu terhadap teman2…oh Tuhan kapan kita bisa dipertemukan lagi kepada orang2 yg kita sayangi

    Reply
  11. wah romantis banget…salam kenal, nanti mampir ya mas…

    Reply
  12. cinta pertama sememangnya indah..
    hanya yang merasa pasti tahu apa itu makna cinta pertama..
    namun cinta pertama mengajar segalanya agar kita lebih dewasa…
    cinta itu tk seharusnya memilik..
    tap cukuplah sekadar dia mengerti..
    namun tidak mampu memiliki org yg kita sayang sudah pasti cukup buat kita kecewa..
    ada yang sangup berjalan kekanca hina semata-mata dendam pada cinta pertama…

    Reply
  13. wah komplit bnget romantisnya, ada gambar yng indah,kisah mnghanyutkan, dan lagu bang iwan yang menggambarkan,, jadi ngerasa ngalami sendiri….

    Reply
  14. Hahaha..
    Hal-hal yang tidak selesai di Maros…

    Hahaha, mengesankan kanda..

    Reply
  15. hampir sama nie ceritanya dengan aQ….
    pepatah syair” cinta pertama takkan terlupakan”.

    Reply
  16. Tanpa Aran

    huhhhh,..
    mantap cerita’a ,sampai sekarang saya masih merasakan kenangan manis itu,..hemmmmmmm

    Reply
  17. memorial banget emang lagu iwan fals ini, apalagi kalau di iringi suara gitar klasiknya. jangan lupa berkunjung yah ke http://sewa-mobil-bali-murah.blogspot.com

    Reply
  18. DJAilani Hasan

    Merencanakan ke depan memang mudah, tapi melupakan kenangan masa lalu sangatlah sulit

    Reply
  19. amel

    aku nangisz baca kisahnyaa ;(

    Reply
  20. Sampai sekarang aku terus memimpikan’y wlpun dh pnya seorang wnita d si”ku…
    Byangan’y sllu hdir dlam sela wktu kosng dlm benakku…

    Reply
  21. Salam kenal :)

    Kunjungan pertama nih…

    Reply
  22. YANG LALU BIARLAH BERLALU PAK, KALO DI GALI LAGI BISA RUSAK RUMAH TANGGA KITA DAN DIA YNG KITA SAYANGI, LEBIH BAIK BERSIKAP JANTAN MENGHADAPI MASA DEPAN YANG AKAN KITA LALUI HEHEHE.

    Reply
    • Amril Taufik Gobel

      I’m fine kok. Semua sudah jadi bagian dari kenangan masa lalu. Saatnya “mewarnai” hari dengan mensyukuri yang sudah diperoleh dan bersemangat menghadapi sekarang dan masa depan

      Reply
  23. waow! sepenggal kisah yg sgt berarti ya pak? so sweet! masa lalu tdk pernah akan kembali tp akan memberi pengaruh yg berarti selamanya jika kita menempatkannya pada tempat semestinya sebagai aset kehidupan kita yg tidak dimiliki orang lain ya pak? kekayaan bathin/karsa mungkin.dia indah pada masanya………

    Reply
  24. rahmawati

    indah sekali,,alhamdulillah saya akhrnya nikah ma 1st love dari kelas 4sd.sekarangjalan 7 tahun.padahal uda trpisah ruang da
    n waktu yang lama

    Reply
  25. Wawan Pramono

    heheheeee….kisah yg hampir serupa q alami…thn berapah anda mengalaminya…dan beruntungnya setelah 20 thn lost kontak q bs bersama lg, walau dlm sikon yg telah jauh berbeda….

    Reply
  26. kisah yang tak kan pernah terlupakan saat" duduk di bangku sekolah,,,,

    Reply
  27. cerita nya bagus. cinta pertama emang sulit banget untuk di lupakan.! apa lgi klw kita menikah dengan cinta yg keberapa pasti cinta pertama masih dn tetap bebekas di hati.

    Reply
  28. sangat hebat tulisan anda, semoga bermanfaat bagi kita semua para pembaca, salam kenal

    Reply
  29. :p

    Reply
  30. Cerita yang satu ini.. kdang bikin sesak hati

    Reply

3 Trackbacks/Pingbacks

  1. CATATAN TERCECER DARI BLOGSHOP DAN TEMU KOMUNITAS DI YOGYAKARTA /  Catatan Dari Hati 15 10 10
  2. Catatan Tercecer Dari Blogshop dan Temu Komunitas di Yogyakarta | Komunitas Blogger Bekasi 16 10 10
  3. BERSEPEDA DENGAN (SEPENUH) HATI | Catatan Dari Hati 23 10 11

Add Your Comment