Seni Melepaskan: Tentang Mendewasa di Negeri yang Terus Berubah
“When I became a man I put away childish things, including the fear of childishness and the desire to be very grown up.” — kalimat C.S. Lewis dari esainya “On Three Ways of Writing for Children” (1952) ini menjadi pintu masuk yang pas untuk merenungkan satu paradoks besar dalam hidup manusia: bahwa salah satu tanda kedewasaan justru adalah keberanian melepaskan, termasuk melepaskan rasa takut dan hasrat untuk tampak sangat dewasa.
Sebagian besar dari kita dibesarkan dengan keyakinan bahwa menjadi dewasa berarti menggenggam lebih banyak : lebih banyak gelar, lebih banyak jabatan, lebih banyak pengikut, lebih banyak pencapaian yang bisa dipamerkan.
Padahal, kedewasaan yang sejati seringkali bergerak ke arah sebaliknya. Ia tumbuh bukan dari seberapa erat kita menggenggam, melainkan dari seberapa lapang kita melepaskan. Seorang anak yang beranjak remaja melepaskan kemanjaannya.
Seorang lulusan melepaskan zona nyaman bangku kuliah. Orang tua melepaskan anak yang merantau. Seorang pemimpin, pada akhirnya, melepaskan kursinya. Hidup adalah rangkaian panjang perpisahan kecil yang, bila kita jalani dengan ikhlas, justru memperkaya ruang batin kita.
Inilah seni melepaskan. Bukan menyerah, bukan pula kalah, melainkan kemampuan untuk berdamai dengan kenyataan bahwa peran kita di dunia tidak pernah tetap. Identitas manusia bersifat cair. Hari ini kita seorang anak, esok seorang pasangan, lusa seorang atasan, dan suatu saat menjadi yang dituakan.
Kedewasaan menuntut kita merangkul tanggung jawab baru tanpa terus meratapi peran lama yang sudah usai. Orang yang dewasa secara batin tahu kapan harus maju memimpin dan kapan harus mundur memberi ruang. Ia tidak menjadikan jabatan sebagai harga diri, dan tidak menjadikan masa lalu sebagai penjara.
Namun melepaskan tidak boleh disalahartikan sebagai membatu. Di sinilah letak ujian yang paling halus. Melepaskan peran lama tidak berarti melepaskan kepekaan. Justru tanda kedewasaan yang paling jernih adalah ketika seseorang mampu berubah peran tanpa kehilangan empati.
Banyak orang yang naik jabatan lalu lupa rasanya menjadi bawahan. Banyak yang sukses lalu lupa rasanya berjuang. Mendewasa yang sehat adalah mendewasa yang membawa serta nuraninya, yang tetap merasakan denyut penderitaan orang lain meski kursinya kini lebih tinggi.
Persoalannya, kemampuan batin yang matang ini sedang diuji oleh zaman yang luar biasa berat. Indonesia hari ini berdiri di persimpangan dua arus besar: gejolak ekonomi dan banjir digital.
Dari sisi ekonomi, kabar baiknya, fondasi negeri ini masih kokoh. Sepanjang tahun 2025, perekonomian Indonesia tumbuh 5,11 persen, sedikit lebih tinggi dibanding capaian tahun sebelumnya. Namun di balik angka makro yang menenangkan itu, tekanan nyata tetap dirasakan jutaan keluarga.
Tingkat pengangguran terbuka pada Agustus 2025 tercatat sebesar 4,85 persen, atau sekitar 7,46 juta orang dari angkatan kerja yang menembus 154 juta orang. Di tengah ketidakpastian global, pemutusan hubungan kerja, dan harga kebutuhan yang merangkak naik, banyak orang dipaksa melepaskan peran yang mereka kira akan dipegang seumur hidup.
Pekerja pabrik beralih jadi pengemudi ojek daring. Pegawai kantoran menjelma pedagang kecil. Perubahan peran yang dulu terjadi sekali dalam satu generasi, kini bisa terjadi beberapa kali dalam satu dekade.
Di sinilah seni melepaskan berubah dari renungan filosofis menjadi keterampilan bertahan hidup. Mereka yang kaku, yang menolak melepaskan identitas lama, paling rentan tumbang.
Sedangkan mereka yang lentur, yang bersedia belajar ulang dan memulai dari nol dengan kepala tegak, justru menemukan jalan baru. Ekonomi yang bergejolak sesungguhnya sedang menyeleksi siapa yang punya kelenturan batin untuk berevolusi.
Pada saat yang sama, arus kedua menghantam lebih senyap namun tak kalah dahsyat. Pada awal 2025, tercatat 143 juta identitas pengguna media sosial di Indonesia, mencakup lebih dari separuh populasi. Layar ponsel telah menjadi alun-alun tempat sebagian besar bangsa ini berkumpul, membandingkan diri, dan mencari pengakuan. Di ruang inilah seni melepaskan menghadapi musuh paling licik: budaya menggenggam yang dirancang secara sistematis.
Algoritma media sosial bekerja dengan satu tujuan, yaitu membuat kita tidak pernah merasa cukup. Selalu ada yang lebih sukses untuk diirikan, selalu ada kehidupan orang lain yang tampak lebih sempurna untuk ditiru. Logika melepaskan bertabrakan keras dengan logika mesin yang justru ingin kita terus mengejar.
Dampaknya tidak main-main, terutama bagi generasi muda. Survei kesehatan jiwa remaja nasional yang pertama di Indonesia menemukan bahwa satu dari tiga remaja mengalami masalah kesehatan mental, setara dengan sekitar 15,5 juta jiwa.
Lebih luas lagi, data Kementerian Kesehatan memperlihatkan bahwa sekitar 20 persen penduduk Indonesia atau sekitar 54 juta orang mengalami gangguan mental emosional. Yang memilukan, di tengah tekanan sebesar itu, layanan dukungan masih sangat timpang. Pemerintah sendiri mengakui jumlah psikolog klinis di puskesmas masih sangat terbatas, yakni sekitar 203 orang.
Bahkan program pemeriksaan kesehatan gratis menemukan gejala cemas dan depresi pada hampir 10 persen anak yang menjalani skrining. Sebuah generasi sedang tumbuh dengan beban batin yang jauh lebih berat daripada generasi mana pun sebelumnya, sementara jaring pengamannya belum siap.
Lalu, apa jalan keluarnya? Solusinya tidak bisa hanya bersifat pribadi, ia harus berlapis. Pada tingkat individu, kita perlu menumbuhkan apa yang bisa disebut sebagai kelenturan batin: kesadaran bahwa harga diri tidak ditentukan oleh jumlah pengikut, oleh jabatan, atau oleh perbandingan dengan hidup orang lain di layar.
Praktik kecil seperti membatasi waktu menatap layar, memberi jeda untuk merenung, dan merawat hubungan tatap muka yang nyata adalah bentuk konkret dari seni melepaskan di era digital. Melepaskan kebutuhan untuk selalu terlihat sempurna adalah pembebasan yang nyata.
Pada tingkat keluarga dan komunitas, kuncinya adalah menghidupkan kembali percakapan yang jujur. Orang tua perlu melepaskan gengsi untuk mengakui bahwa mereka pun tidak punya semua jawaban di dunia yang berubah secepat ini.
Sekolah perlu menjadikan literasi digital dan ketahanan emosional sebagai pelajaran sepenting matematika. Dan pada tingkat kebijakan, negara perlu memperbanyak tenaga kesehatan jiwa, memperluas layanan terjangkau hingga ke pelosok, serta mendorong ruang digital yang lebih sehat. Pertumbuhan ekonomi yang baik akan kehilangan maknanya bila generasi penerusnya rapuh secara jiwa.
Pada akhirnya, semua kembali pada pilihan batin yang sangat personal. Indonesia akan terus berubah, ekonomi akan terus bergejolak, teknologi akan terus berlari lebih cepat dari kemampuan kita mengejarnya. Yang bisa kita kendalikan bukanlah arus itu, melainkan cara kita berdiri di tengahnya.
Kedewasaan sejati adalah keberanian untuk melepaskan apa yang sudah usai, merangkul peran baru dengan ikhlas, dan tetap menyimpan empati sebagai harta yang tak boleh ikut dilepaskan. Sebab di tengah dunia yang sibuk meminta kita menggenggam lebih banyak, keberanian untuk melepaskan dengan lapang dada justru menjadi bentuk kekuatan yang paling langka.
Maka, sebagai penutup, izinkan saya kembali meminjam kalimat C.S. Lewis dalam Mere Christianity yang ringkas namun dalam: “If you are on the wrong road, progress means doing an about-turn and walking back to the right road; and in that case the man who turns back soonest is the most progressive man.”
Kalimat ini mengingatkan bahwa berani mengakui kekeliruan dan melepaskan jalan yang salah bukanlah kemunduran, melainkan bentuk kemajuan yang paling sejati.
Ketika kita berhenti mati-matian mempertahankan diri yang lama, di situlah ruang bagi diri yang seharusnya mulai terbuka. Itulah seninya. Itulah dewasa.