(Narsis) : Di Antara Diam dan Namamu
Aku tak pernah benar-benar mengerti bagaimana sebuah nama bisa tinggal begitu lama di dada seseorang. Seperti gema yang tak mau reda, seperti nada yang mengendap di ruang paling sunyi.
Namamu—kau—adalah kata yang tak pernah selesai kuucapkan.
Kami pernah berjalan berdampingan di trotoar kecil yang dibasahi hujan. Kau bercerita tentang mimpi-mimpi sederhana: rumah dengan jendela lebar, secangkir kopi hangat setiap pagi, dan seseorang yang menunggu dengan sabar di ujung hari.
Aku mendengarkan, seolah dunia hanya berisi suaramu dan detak jantungku yang tak tahu diri.
Aku tak pernah cukup berani mengatakan bahwa dalam setiap mimpimu, aku ingin menjadi bagian paling kecil sekalipun.
Waktu berjalan seperti biasa. Tak tergesa, tak pula menunggu.
Kau memilih jalanmu, dan aku memilih diamku.
Kita sama-sama yakin bahwa perasaan bisa dikalahkan oleh logika. Bahwa kedewasaan adalah tentang merelakan, bukan mempertahankan.
Namun siapa yang bisa mengatur hati?
Bertahun-tahun kemudian, di sebuah sore yang tenang, lagu lama itu diputar di radio mobilku. Melodinya lembut, sederhana, dan jujur, seperti pengakuan yang tak sempat terucap.
Seketika, wajahmu hadir begitu saja. Senyummu, tawamu, caramu menyebut namaku dengan lembut, seolah aku adalah sesuatu yang penting.
Aku menepi.
Ada hal-hal yang ternyata tak pernah benar-benar pergi. Mereka hanya bersembunyi di balik kesibukan, menunggu satu nada untuk membangunkannya kembali.
Aku menyadari, mencintaimu tak pernah tentang memiliki. Ia tentang bagaimana kehadiranmu pernah mengubahku.
Kau mengajariku bahwa mencintai adalah keberanian untuk tulus, bahkan ketika tak ada jaminan untuk bersama.
Bahwa ada cinta yang tak perlu diumumkan, cukup dirasakan dan dijaga dalam doa.
Kini aku tak lagi menunggu. Hidupku telah berjalan, sebagaimana hidupmu juga pasti telah menemukan bahagianya sendiri.
Tapi di antara banyak hal yang datang dan pergi, ada satu yang tetap tinggal: rasa syukur karena pernah mengenalmu.
Karena melalui kau, aku belajar memahami arti rindu yang dewasa, yang tak memaksa pulang, namun tak pernah benar-benar pergi.
Dan jika suatu hari kita bertemu lagi, mungkin kita akan saling tersenyum.
Bukan dengan getir, melainkan dengan damai. Sebab kita tahu, pernah ada cinta yang tumbuh diam-diam, sederhana, namun begitu dalam.
Dan dalam sunyi yang paling hening, aku masih bisa berbisik pelan:
Kau.