Catatan Dari Hati

(Narsis) : Sewindu Kemudian, Masih Kamu

Rintik hujan mulai membasahi kaca jendela kafe ketika Arga melihatnya berdiri di depan pintu.

Delapan tahun. Tepat delapan tahun sejak terakhir kali matanya menatap sosok itu: Sari, dengan rambut yang sedikit lebih pendek, dan senyum yang masih sama hangatnya.

“Boleh aku duduk di sini?” tanya Sari, suaranya gemetar halus, entah karena dingin atau karena hal lain yang sama-sama mereka rasakan.

Arga mengangguk. Tangannya yang memegang gelas kopi sudah tidak merasakan hangat lagi.

Mereka dulu adalah sepasang kekasih yang berpisah bukan karena cinta yang luntur, tetapi karena jalan hidup yang memaksa mereka bergerak ke arah berbeda.

Sari mendapat beasiswa ke luar negeri, dan Arga harus mengurus ibunya yang sakit. Tidak ada pertengkaran.

Tidak ada drama. Hanya air mata di stasiun kereta, dan janji yang keduanya tahu sulit untuk ditepati: “Jika memang ditakdirkan, kita akan bertemu lagi.”

“Kamu… masih suka kopi hitam tanpa gula?” tanya Sari sambil menyeruput pesanannya.

“Masih,” jawab Arga. “Kamu masih takut petir?”

Sari tersenyum tipis. Di luar, langit menggelegar. Refleks, tubuhnya sedikit menegang, dan Arga hampir saja mengulurkan tangan seperti dulu, tetapi dia menahan diri.

Delapan tahun bukan waktu yang singkat. Banyak hal berubah. Arga kini mengelola usaha kecil warisan ibunya yang sudah tiada dua tahun lalu. Sari pulang ke Indonesia setelah menyelesaikan studinya, dan kini bekerja di sebuah LSM internasional.

Mereka sudah bukan lagi anak muda berusia dua puluhan yang penuh mimpi tanpa beban. Mereka sudah membawa luka, kehilangan, dan pelajaran hidup yang masing-masing.

“Aku sering memikirkanmu,” kata Sari tiba-tiba, matanya berkaca-kaca. “Di saat-saat tersulit, aku membayangkan bagaimana kamu akan mendorongku untuk terus bertahan. Aku selalu membawa kenangan kita.”

Arga menelan ludah. “Aku juga. Setiap hujan, aku ingat kamu. Setiap lagu lama yang kita dengar bersama, aku… seolah kembali ke masa itu.”

Keheningan menyelimuti mereka. Bukan keheningan canggung, tetapi keheningan yang penuh makna, seperti dua orang yang sudah saling memahami tanpa perlu banyak kata.

“Arga,” Sari berkata pelan. “Aku tidak tahu apakah ini sudah terlambat atau tidak. Tapi aku ingin kamu tahu… sewindu ini, tidak ada satu hari pun aku berhenti menyayangimu.”

Arga merasakan dadanya sesak.

Delapan tahun penantian, pertanyaan tanpa jawaban, malam-malam di mana dia bertanya apakah keputusan melepaskannya adalah yang terbaik—semuanya terjawab dalam satu kalimat itu.

“Sari,” suara Arga bergetar. “Aku juga tidak pernah berhenti. Aku mencoba melanjutkan hidup, mencoba membuka hati untuk orang lain, tapi… selalu kamu yang ada di sana. Selalu.”

Sari mengulurkan tangannya melewati meja. Arga menyambutnya. Sentuhan telapak tangan mereka yang saling menggenggam terasa begitu familiar, seolah waktu tidak pernah memisahkan mereka.

“Mungkin dulu memang belum waktunya,” kata Sari. “Mungkin kita harus tumbuh sendiri-sendiri dulu, belajar menjadi versi terbaik dari diri kita, supaya ketika bertemu lagi… kita benar-benar siap.”

Arga tersenyum, kali ini tulus. “Dan sekarang?”

“Sekarang,” Sari menghapus air matanya, “aku ingin mencoba lagi. Jika kamu juga mau.”

Hujan di luar semakin deras. Tetapi di dalam kafe kecil itu, dua hati yang pernah terpisah menemukan jalannya kembali.

Bukan untuk mengulangi masa lalu, tetapi untuk menulis cerita baru, yang kali ini, semoga, tidak akan terputus lagi.

Sewindu kemudian, ternyata masih kamu.

Dan akan selalu kamu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *