Catatan Dari Hati

(Narsis) : Langit yang Sama, Doa yang Satu

Rendra selalu percaya bahwa ada momen dalam hidup seseorang — satu momen tunggal yang rapuh seperti embun di ujung daun — di mana seluruh alam semesta seperti menahan napas bersama.

Malam itu, ia menemukannya.


I. Sebuah Kotak Kecil Berwarna Beludru

Kotak itu sudah tersimpan selama tiga bulan di laci paling bawah lemari bajunya, terkubur di bawah sweater abu-abu yang jarang dipakai. Tiga bulan ia membukanya setiap pagi,  mengangkatnya, menatapnya, lalu menutupnya kembali dengan alasan yang berbeda-beda.

Belum waktu yang tepat.

Ia sedang sibuk dengan proyeknya.

Mungkin tunggu akhir tahun saja.

Tapi malam ini, ketika Amara menelepon hanya untuk bilang, “Ren, aku masak opor ayam. Kamu mau ke sini?” yang spontan membuat sesuatu di dalam dadanya berdenyut keras.

Bukan karena opor ayamnya. Bukan. Melainkan karena cara Amara mengucapkan namanya. Dua suku kata sederhana. Ren. Seperti rumah. Seperti pulang.

Ia membuka laci itu.

Mengangkat kotak beludru biru tua itu untuk terakhir kalinya dari persembunyiannya.

Dan memasukkannya ke saku jaket.


II. Tujuh Tahun yang Tidak Bisa Dijelaskan

Tujuh tahun bukan waktu yang sebentar. Tapi anehnya, bagi Rendra, tujuh tahun bersama Amara terasa seperti sebuah novel yang terlalu indah untuk ditutup — setiap babnya membuat ia ingin terus membalik halaman, takut cerita itu akan berakhir, namun lebih takut lagi membacanya separuh jalan.

Mereka bertemu di perpustakaan kampus. Amara duduk di sudut terjauh, dikelilingi tumpukan buku sejarah, rambutnya sedikit berantakan, dan ada sebuah permen cokelat yang ditaruh begitu saja di atas catatan kuliahnya : seolah permen itu adalah penanda halaman yang paling absurd di dunia.

Rendra, yang kebetulan mencari buku yang sama persis dengan yang sedang dibaca Amara, mendekatinya dengan gugup dan berkata sesuatu yang hingga kini masih ia sesali:

“Permisi, kamu sedang membaca buku itu atau mendudukinya?”

Amara mengangkat kepala. Menatapnya dua detik. Lalu tertawa , bukan tawa yang halus dan terkontrol, melainkan tawa yang nyata, yang memaksa ia menutup mulutnya dengan punggung tangan karena terlalu keras untuk perpustakaan.

Dari situlah semuanya bermula.

Dari sebuah pertanyaan bodoh, satu tawa yang jujur, dan dua orang yang kemudian tidak bisa berhenti menemukan alasan untuk terus bertemu.

Tujuh tahun kemudian, Rendra masih ingat dengan sempurna bagaimana suara tawa itu terdengar.

Dan ia tahu , ia tahu dengan seluruh keberadaannya , bahwa ia ingin mendengar suara itu seumur hidupnya.


III. Malam dan Opor Ayam

Apartemen Amara selalu berbau kayu manis dan buku lama. Sebuah kombinasi yang aneh, namun bagi Rendra, itu adalah aroma paling menenangkan di dunia.

Ia tiba pukul tujuh malam. Amara membukakan pintu dengan celemek bermotif bunga matahari yang sudah noda kunyit di bagian depannya, rambutnya dikuncir asal, dan ada tepung di pipinya , meski ia sama sekali tidak sedang membuat kue.

“Kamu ada tepung di pipi,” kata Rendra.

“Aku tahu,” jawab Amara santai. “Itu dari roti yang kubuat tadi pagi. Sudah mau cuci muka tapi males.”

Rendra memandangnya. Perempuan ini — perempuan yang mungkin adalah satu-satunya orang di dunia yang bisa dengan tenang mengaku malas cuci muka — adalah perempuan yang ingin ia ajak tua bersama.

Betapa lucunya hidup.

Malam itu mereka makan berdua di meja kecil dekat jendela, dengan opor ayam yang terlalu gurih, nasi yang sedikit keras, dan obrolan yang mengalir dari topik paling remeh hingga pertanyaan-pertanyaan besar tentang semesta.

Amara bercerita tentang proyeknya — ia seorang kurator di galeri seni kecil di selatan kota — tentang seniman muda yang karyanya membuat ia menangis tanpa ia mengerti kenapa. Rendra mendengarkan, seperti selalu, dengan cara yang membuat Amara selalu merasa kata-katanya paling penting di dunia.

Itu yang Amara tidak pernah tahu: bahwa bagi Rendra, memang begitulah adanya.


IV. Ketika Langit Menahan Napas

Setelah makan malam, mereka duduk di balkon kecil. Jakarta di bawah mereka bergerak tanpa henti : klakson bersahutan, cahaya lampu yang berpendar, suara kehidupan yang tidak pernah benar-benar berhenti.

Tapi di balkon itu, segalanya terasa begitu sunyi. Begitu khusyuk.

Amara bersandar pada pagar, menatap langit malam yang samar-samar berbintang di balik polusi cahaya kota.

“Ren,” katanya tiba-tiba, “kamu pernah nggak ngerasa… takut bahagia? Kayak, kamu lagi di momen yang terlalu bagus, terus tiba-tiba kamu takut karena nggak tau kapan ini akan berakhir?”

Rendra menatapnya dari samping.

Di dalam saku jaketnya, kotak beludru biru tua itu terasa berat seperti seluruh masa depan.

“Selalu,” jawabnya pelan. “Makanya aku nggak mau nunggu lagi.”

Amara menoleh. Ada sesuatu di nada suaranya yang berbeda. “Nunggu apa?”

Rendra menarik napas panjang. Tujuh tahun. Tiga bulan kotak tersembunyi. Satu malam dengan opor ayam dan tepung di pipi dan langit Jakarta yang setengah berbintang.

Ia berbalik menghadap Amara sepenuhnya. Tangannya masuk ke saku jaket. Kotak beludru itu keluar, dan dengan gerakan yang lebih canggung dari yang pernah ia bayangkan dalam semua latihan di depan cermin — ia berlutut.

Satu lutut.

Di atas lantai balkon yang sedikit berdebu.

Amara membeku.

“Amara,” suara Rendra sedikit bergetar, tapi ia tidak peduli. Ini bukan waktunya untuk terdengar sempurna. “Tujuh tahun kamu sudah jadi orang yang paling susah kulupakan, paling mudah kurindu, dan paling berat kutinggalkan. Kamu tepung di pipi yang nggak mau dicuci. Kamu opor ayam yang terlalu gurih. Kamu tawa di perpustakaan yang masih bisa kudengar sampai sekarang.”

Matanya memanas.

“Aku nggak mau nanya apakah kamu mau jadi hidupku. Aku cuma mau nanya apakah kamu mau kita , kamu dan aku , menjadi resmi untuk selamanya.”

Ia membuka kotak itu.

Di dalamnya, cincin sederhana dengan satu batu kecil berwarna biru laut : warna favorit Amara, warna langit saat fajar, warna yang ia pilih sendiri tiga bulan lalu dengan tangan gemetar di toko perhiasan.

“Maukah kamu menikah denganku?”


V. Jawaban yang Tidak Butuh Kata

Amara tidak menjawab dengan kata-kata.

Ia menjawab dengan cara yang jauh lebih Amara dari itu: ia duduk berjongkok di depan Rendra yang masih berlutut, menyamakan posisi mereka, lalu mengambil wajahnya dengan kedua tangan , tangan yang masih berbau kunyit dan kayu manis , dan menyandarkan dahi mereka satu sama lain.

Di situ mereka tinggal sejenak. Dahi bertemu dahi. Napas bertemu napas.

Di bawah mereka, Jakarta terus berdenyut. Di atas mereka, bintang-bintang yang samar itu seperti menyaksikan.

“Ren,” bisik Amara akhirnya, dan suaranya seperti pecah di ujungnya, “dari dulu jawaban aku cuma satu.”

“Apa?”

Ia tersenyum. Senyum yang sama persis dengan tujuh tahun lalu di sudut perpustakaan itu.

“Iya. Dari dulu, iya.”


Rendra memasangkan cincin itu ke jari Amara dengan tangan yang gemetar.

Dan di momen itu — di antara dua orang yang berjongkok berhadapan di balkon kecil dengan lantai berdebu, di bawah langit Jakarta yang tanggung berbintang, dengan aroma opor ayam yang masih mengambang dari dalam — seluruh alam semesta seperti membuang napas panjang.

Lega.

Seolah ini memang yang sudah lama ia tunggu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *