Catatan Dari Hati

SELAMAT ULANG TAHUN KEDUA, PANYINGKUL!

01juli2008a.jpg
Pada hari ini, 1 Juli 2008, Jurnalisme Orang Biasa berbasis Makassar, Panyingkul, memasuki usia tahun kedua. Media yang mengangkat tulisan-tulisan khas orang biasa dan bukan pewarta media “mainstream”pada umumnya ini akan menerbitkan buku kedua yang bertitel “Indonesia di Panyingkul” setelah buku pertamanya “Makassar di Panyingkul” diterbitkan pada momen ulang tahun pertama media ini. Meski hanya  4 tulisan saya yang telah dimuat di media ini, namun saya turut merasakan sebuah kebanggaan ikut serta menjadi bagian dalam spirit dan gairah berkabar dalam media orang biasa (Penasaran mau baca? silakan klik disini, disana, disitu dan disini lagi 😀 ).

panyingkul

Seperti yang pernah diulas disitus Mycityblogging/Makassar sebelumnya, PANYINGKUL, dalam bahasa Makassar berarti Persimpangan. Sebuah Junction atau penanda persilangan. Situs ini berangkat dari spirit untuk mengangkat berita dan cerita dari sudut pandang orang biasa, yang berbeda dengan media konvensional yang telah ada. Panyingkul, seperti yang diungkapkan dalam pengantarnya, tidak mengembangkan jurnalisme yang angkuh dan menjadi bagian dari elitisme media mainstream.

Menarik sekali membaca tulisan 2 pengelola Panyingkul Lily Yulianti Farid dan suaminya, Farid Ma’ruf Ibrahim pada kata pengantar di buku kedua Panyingkul berjudul “Merindukan Jurnalis dari Planet Mars” yang antara lain menyatakan, “Eksperimen citizen journalism yang dijalankan Panyingkul! di Indonesia dalam dua tahun terakhir menunjukkan bahwa kekakuan pola relasi antara wartawan dan narasumber, misalnya, telah mencair. Para jurnalis warga telah membuktikan bahwa status sebagai wartawan, meskipun penting, bukan lagi determinan dalam mengakses informasi dari narasumber, atau peristiwa.Pelbagai kabar yang disampaikan melalui situs www.panyingkul.com, yang pilihan-pilihan tematiknya kami anggap mewakili spirit jurnalisme orang biasa yang dihimpun dalam buku ini, memang masih mencoba membedakan diri dari kabar-kabar di media mainstream – terutama dalam pendekatannya kepada peristiwa. Ia bisa berupa kejadian yang telah lama, isu-isu yang terkesan sepele, sudut pandang yang personal atas peristiwa besar, atau bahkan fenomena yang tidak lagi mendapat tempat di media mainstream”.

Selamat Ulang Tahun kedua, Panyingkul!

3 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *