CINTA DAN JALAN PULANG TAK BERTEPI – BAGIAN KELIMA
“Cinta adalah rumah yang tak pernah benar-benar kita tinggalkan.
Meski pintunya telah lama kita kunci, jendela-jendelanya
tetap terbuka menyambut angin yang membawa namanya.”
Pesawat itu mendarat di Bandara Soekarno-Hatta tepat ketika langit Jakarta menumpahkan dirinya.
Tapi bagi Made, hujan itu bukan kejutan.
Sejak dua hari sebelum keberangkatan, ia sudah melihatnya , bukan dengan mata biasa, melainkan dengan indera yang selama bertahun-tahun lebih sering menjadi kutukan daripada anugerah.
Dalam setengah tidur di malam terakhirnya di Makassar, gambaran itu hadir begitu saja: tetesan air di kaca jendela pesawat, lampu landasan yang buram dibalik tirai hujan, dan bau aspal basah yang menyambut ketika pintu terbuka. Ia bahkan sudah memasukkan jaket tipis di tas kabin sebelum Putry sempat mengingatkannya.
Pre-kognisi, begitu Pak Hasan menamainya. Kemampuan membaca cuplikan masa depan sebelum ia tiba.
Bukan selalu jelas. Bukan selalu akurat dalam detail. Lebih seperti menonton film yang kualitas gambarnya buruk , kamu mengenali bentuknya, tapi tidak selalu warnanya.
Made — Ahmad, yang lebih akrab dipanggil dengan suku kata terakhir namanya itu — berdiri di depan pintu kedatangan Terminal 2, membiarkan hujan deras itu membuktikan bahwa penglihatannya tidak salah.
Koper hitamnya berdiri tegak di sampingnya. Di tangan kirinya, tas ransel coklat muda yang sudah menemaninya sejak kuliah. Di kantong kemejanya, selembar kertas kecil berisi alamat rumah Om Nuntung di Sunter.
Itu saja. Tidak lebih dari itu yang dibawanya ke Jakarta , selain, tentu saja, rindu yang telah bertahun-tahun ia peram dalam diam.
Andini, batinnya. Aku datang.
Taksi meluncur membelah Jakarta yang basah. Ia memandang keluar jendela dengan perasaan yang sulit dijelaskan , bukan sekadar mengamati kota, tapi juga membaca kota.
Begitulah cara inderanya bekerja sejak ia kecil: dunia tidak pernah hanya tampak, tapi selalu terasa. Ada lapisan makna di balik setiap hal yang terlihat biasa.
Gedung-gedung pencakar langit berdiri angkuh di balik tirai hujan. Lampu-lampu jalanan memantul di genangan air, menciptakan pantulan cahaya yang seperti serpihan bintang jatuh di atas aspal.
Dan di tengah semua itu, Made merasakan sesuatu yang tidak biasa.
Bukan gambaran. Bukan suara. Lebih seperti… tarikan. Semacam kompas batin yang jarum-jarumnya tiba-tiba bergetar lemah ke satu arah , arah yang tidak ia tahu namanya, tapi yang terasa seperti menuju sesuatu yang sudah lama menunggunya.
Ia teringat pesan terakhir Pak Hasan: “Jangan gunakan kemampuanmu untuk menemukan Andini, Made. Bukan karena kamu tidak bisa. Tapi karena jika kamu menemukannya dengan cara itu, kamu tidak akan pernah tahu apakah ia memilihmu karena cinta, atau karena takdir yang kamu rekayasa sendiri.”
Made mengerutkan dahi mengingat kalimat itu. Ada logika yang menyakitkan di dalamnya.
“Temukan dia dengan cara yang paling manusiawi, anakku. Dengan langkah kaki. Dengan keberanian. Dengan waktu.”
Ia mengangguk dalam hati. Baik, Pak Hasan. Dengan langkah kaki.
Taksi berhenti di depan rumah sederhana namun terawat di Sunter.
Lampu teras menyala hangat, dan Om Nuntung langsung muncul seolah tahu kapan tepatnya keponakannya itu akan tiba.
Atau mungkin memang begitu, batin Made. Indera itu kadang menurun dalam keluarga.
“Made! Alhamdulillah sampai dengan selamat,” seru Om Nuntung, memeluknya erat. Ia berbau kopi dan kayu cendana : bau yang sejak kecil selalu membuat Made merasa aman.
Di dalam rumah, Tante Ros sudah menyiapkan meja makan. Nasi hangat, sup ikan, dan sambal yang warnanya saja sudah membuat keringat dingin.
“Makan dulu, baru cerita,” kata Tante Ros tegas.
Made tersenyum. Untuk pertama kalinya sejak meninggalkan Makassar, senyumnya terasa tulus.
Malam itu, setelah semua tertidur, Made duduk di teras belakang. Hujan sudah mereda menjadi gerimis halus. Ia mengeluarkan diary biru dari ransel, membukanya pada halaman terakhir, membaca surat untuk perempuan bermata lembut itu untuk kesekian kalinya.
Lalu ia mencoba — sekali saja, melanggar pesan Pak Hasan sekali saja — memusatkan pikirannya pada wajah Andini.
Yang muncul hanyalah kabut putih yang tebal dan hangat.
Seperti biasa. Seperti yang selalu terjadi setiap kali ia mencoba menjangkau perempuan itu dengan kemampuannya.
Cinta, ia kini benar-benar percaya, memang mampu membutakan bahkan indera keenam sekalipun.
Ia menutup diary itu dan berbisik pada gerimis.
“Aku sudah di sini, Andini. Kamu ada di mana?”