CINTA DAN JALAN PULANG TAK BERTEPI – BAGIAN KEDUAPULUHDUA
Tiga minggu berlalu.
Andini tidak menghubungi Made. Made tidak menghubungi Andini.
Bukan karena tidak mau.
Tapi karena keduanya — tanpa berkoordinasi — memahami bahwa ada ruang yang dibutuhkan.
Bagi Made, tiga minggu itu adalah latihan yang paling berat: menahan inderanya.
Setiap kali dorongan itu datang , keinginan untuk merasakan bagaimana keadaan Andini, apakah ia sudah lebih baik, apakah waktunya sudah tepat , ia menolaknya dengan sengaja.
Bukan karena kemampuannya tidak akan memberikan gambaran apapun (kemungkinan besar tidak akan, kabut itu masih ada), tapi karena ia perlu membuktikan kepada dirinya sendiri bahwa ia bisa memilih berdasarkan kepercayaan, bukan penglihatan.
Ini ujian yang sesungguhnya, bisik Pak Hasan dalam ingatannya. Bukan apakah kamu bisa melihat , tapi apakah kamu bisa memilih untuk tidak melihat.
Ia mengisi tiga minggu itu dengan menulis di buku catatan baru — buku yang halamannya masih putih dan belum diberi beban apapun. Tulisan yang bukan untuk dibaca siapapun, tapi yang membantunya memilah apa yang ia rasakan dari apa yang hanya ia takutkan.
Dan Putry mengisi waktunya dengan melukis , kanvas pertama, warna-warna senja Losari yang ia tuangkan dengan kuas besar.
Made, saat melihat foto kanvas itu yang Putry kirim lewat email, merasakan sesuatu yang akrab: gambaran yang pernah ia lihat sekilas di kamar itu, saat Putry menangis. Perempuan yang melukis dengan tenang.
Kamu akan baik-baik saja, Put, batinnya. Seperti yang sudah aku tahu sejak malam itu.