CINTA DAN JALAN PULANG TAK BERTEPI – BAGIAN KEDUAPULUHTIGA
Made menelepon Andini pada malam keempat puluh hari setelah perpisahan Andini dan Randy.
Ia tidak menyebut angka itu. Ia hanya menelepon. Dan Andini mengangkat.
“Hei,” kata Made.
“Hei,” jawab Andini.
“Aku mau ke Situ Lembang besok sore. Mau ikut?”
“Jam berapa?”
“Empat sore?”
“Oke.”
Made tiba lebih dulu. Sambil menunggu, ia duduk di bangku kayu tua dan melakukan sesuatu yang jarang ia lakukan di tempat umum: ia membiarkan inderanya beristirahat sepenuhnya. Tidak membaca. Tidak mendengarkan. Tidak merasakan ke depan.
Hanya duduk.
Hanya taman ini, suara bebek, dan angin yang membawa bau rumput basah.
Ketika langkah Andini terdengar — ia tidak perlu indera apapun untuk mengenalinya, hanya telinga biasa dan memori yang sudah terlalu hafal — Made tidak berbalik langsung.
Ia menunggu sampai suara langkah itu berhenti, sampai seseorang duduk di ujung bangku yang lain.
“Made,” kata Andini tanpa basa-basi. Tapi bukan pertanyaan tentang masa lalu atau masa depan. “Kamu membawa sesuatu?”
Made mengeluarkan diary biru dari tasnya. Ia membukanya ke halaman terakhir, mengambil amplop di sana, dan menyerahkannya.
Andini. Hanya nama itu di permukaannya.
Andini menerima amplop itu, membukanya, dan membaca.
Made duduk diam, memandang bebek-bebek di danau, membiarkan Andini membaca tanpa mengintip reaksinya.
Tapi inderanya — meski ia tidak menggunakannya dengan sengaja — menangkap sesuatu yang lembut dari arah sampingnya: ketenangan yang perlahan turun, seperti ketegangan yang pelan-pelan dilepaskan.
Andini membaca dua kali. Tiga kali.
Lalu ia melipat surat itu kembali dengan hati-hati.
“Sejak kapan surat ini ditulis?”
“Malam setelah aku ketemu Randy di acara networking.”
Andini mengangguk pelan. “Kamu bilang dalam surat ini bahwa kamu membiarkan inderamu merasakanku malam itu. Memangnya rasanya seperti apa?”
Made memikirkan cara menjawabnya.
“Seperti mendengar seseorang menyanyikan lagu yang sudah lama tidak kamu dengar, tapi kamu hafal setiap nadanya,” kata Made akhirnya. “Bukan gambaran. Bukan kata-kata. Hanya… kehadiran. Yang terasa berat. Seperti seseorang yang membawa sesuatu sendirian.”
Andini menatapnya. Mata yang teduh itu menatap balik , langsung, tanpa buru-buru.
“Made. Aku mau jujur.”
“Silakan.”
“Aku tidak langsung siap. Aku baru saja keluar dari sesuatu. Aku butuh waktu untuk memastikan bahwa apa yang aku rasakan sekarang bukan sekadar pelarian.” Ia berhenti. “Kamu berhak untuk lebih dari sekadar itu.”
“Aku tahu.”
“Dan aku juga tidak tahu persis apa yang aku rasakan. Aku hanya tahu bahwa setiap kali aku berbicara padamu — dulu sebagai dark-knight, sekarang sebagai Made — aku merasa seperti orang yang akhirnya bisa bernapas lega.” Ia memandang danau. “Entah itu artinya apa.”
Made memandangnya.
Dan untuk pertama kalinya dalam percakapan ini, ia mengizinkan inderanya bekerja, sedikit saja, seperti membuka celah kecil di balik tirai.
Yang ia rasakan: bukan kabut putih seperti biasanya.
Masih hangat — selalu hangat — tapi kali ini ada sesuatu yang berbeda. Seperti kabut yang mulai bergerak, seperti awan yang perlahan terdorong angin.
Waktunya sedang datang, bisiknya pada dirinya sendiri. Pelan. Tapi datang.
“Itu sudah cukup,” kata Made. Ia tidak mencapai tangannya. Tidak memeluknya. Hanya duduk di sampingnya, hadir sepenuhnya, tanpa menuntut apapun. “Aku tidak kemana-mana, Andini.”
“Boleh aku simpan ini?” Andini menunjukkan amplop di tangannya.
“Memangnya bukan milikmu?”
Andini meliriknya. Made tersenyum kecil.
Dan Andini tertawa , bukan tawa yang dipaksakan, bukan yang dibuat untuk mengisi keheningan. Tawa yang keluar begitu saja karena tidak ada lagi alasan untuk menahannya.