CINTA DAN JALAN PULANG TAK BERTEPI – BAGIAN KEDUAPULUHEMPAT
Sebulan kemudian, Putry mendapat telepon dari sebuah studio desain di Bandung.
“Bandung?” Made terdengar terkejut saat Putry mengabarkannya. “Kamu mau pindah lagi?”
“Aku sudah di sini selama ini karena sebuah alasan yang sekarang sudah tidak ada lagi. Bandung ada tawaran yang bagus. Dan sudah saatnya aku mulai berjalan untuk diriku sendiri.”
“Kamu baik-baik saja, Put?”
“Lebih dari itu.” Ada senyum di suaranya. “Aku baik-baik saja dengan cara yang belum pernah aku rasakan sebelumnya.”
Hening sejenak. Lalu Made berkata, “Putry. Kamu tahu apa artinya kamu bagiku, kan?”
“Teman terbaikmu.” Putry mengucapkannya tanpa getir , kali ini benar-benar tanpa getir. “Dan aku bangga dengan itu. Serius.”
“Aku akan merindukanmu.”
“Bandung tidak jauh. Dan Made—”
“Ya?”
“Jadilah bahagia ya. Beneran. Bukan pura-pura.”
Jeda.
“Kamu layak untuk itu.”
Made tidak langsung menjawab. Lalu: “Kamu juga, Put. Kamu juga.”
Setelah menutup telepon, Made berdiri di teras belakang Om Nuntung, menatap langit sore.
Ia membiarkan inderanya beristirahat. Tidak ada gambaran yang dicari, tidak ada sinyal yang dibaca. Hanya sore ini, langit ini, perasaan yang perlahan-lahan mengambil bentuk.
Bukan pre-kognisi. Hanya harapan.
Dan ternyata, keduanya tidak selalu berbeda.
Tiga hari sebelum Putry berangkat, ia mengundang Made dan Andini untuk makan siang di restoran Makassar di Tebet.
Made duduk di antara mereka, memperhatikan dua orang yang masing-masing pernah ia sakiti tanpa bermaksud dan keduanya, dengan cara masing-masing yang mengagumkan, masih duduk di sini.
Inderanya, yang tidak pernah bisa ia matikan sepenuhnya, menangkap sesuatu dari meja makan itu: bukan gambaran masa depan, hanya kehadiran saat ini.
Dan kehadiran itu terasa seperti sesuatu yang sudah lama ia tunggu tanpa tahu ia sedang menunggu.
Ini, bisiknya pada dirinya sendiri. Ini yang dimaksud Pak Hasan dengan “cara yang paling manusiawi.”
Di tengah makan siang, Putry mengangkat gelasnya.
“Untuk perjalanan baru.”
Made mengangkat gelasnya. Andini juga.
“Dan untuk orang-orang yang kita temukan di tengah jalan,” tambah Andini pelan. Matanya sebentar bertemu dengan mata Made.
Putry melihat itu. Tersenyum kecil. Minum.
Tidak ada yang perlu dikatakan lagi.