Catatan Dari Hati

FLASH FICTION: TUNTUTAN

Lelaki itu duduk didepanku dengan wajah tertunduk lesu.

Terkulai lemas diatas kursi.

Mendadak lamunanku terbang melayang ke beberapa tahun silam. Pada lelaki itu yang telah memporak-porandakan hatiku dengan pesona tak terlerai.

Tak hanya ketampanan sensasional yang dimilikinya, tubuh yang tinggi kekar namun aura yang memancar gemilang dari setiap tingkahnya –juga gombalannya–membuatku luluh terpikat dalam sebuah cinta terlarang.

Aku mengabaikan segala kehidupan sempurna, mewah dan megah bersama suami dan anak-anakku, hanya untuk dia.

“Jangan tinggalkan aku..tak sanggup hidup tanpamu,”ucapku lirih ke telinganya.

Lelaki itu kemudian meraih dan memelukku erat diatas pembaringan. Desah nafasnya terasa di ubun-ubunku, ia lalu membelai rambutku perlahan. Tanpa kata. Tapi buatku, ini membuatku percaya padanya.

Tak lama setelah itu, dia menghilang. Pergi entah kemana.

Semua saluran komunikasi yang menghubungkan kepadanya tak terjawab. Sirna.

Aku terpuruk. Tak percaya bisa kehilangan dia. Selamanya.

Untunglah aku bisa bangkit kembali berkat suami dan anak-anakku yang setia mendampingiku.

Dan kini dia duduk dihadapanku.

Tak ada rindu lagi kepadanya. Tak ada lagi harapan untuknya.

Semua harus selesai sampai disini.

“Ibu hakim, maaf, silakan dibacakan tuntutannya kepada terdakwa,” salah seorang angota majelis hakim mendadak berbisik kepadaku mengingatkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *