Generasi Alfa dalam Pusaran Digital: Harapan dan Kegelisahan di Hari Anak Nasional
“Anak-anak adalah sumber daya terpenting di dunia dan harapan terbaik untuk masa depan.”?—?John F. Kennedy
Kemarin, 20 November 2025, kita kembali merayakan Hari Anak Nasional, sebuah momentum yang seharusnya membuat kita berhenti sejenak dari hiruk-pikuk kehidupan dan merenungkan: sudahkah kita memberikan yang terbaik bagi generasi penerus bangsa?
Namun tahun ini, perayaan itu terasa berbeda. Di setiap sudut rumah, di setiap ruang tunggu, bahkan di taman bermain yang seharusnya dipenuhi tawa riang, kita justru menyaksikan pemandangan yang sama: anak-anak dengan kepala tertunduk, jemari sibuk menggesek layar, mata berbinar pada cahaya buatan, bukan pada keajaiban dunia nyata di sekitar mereka.
Indonesia memiliki populasi sekitar 285 juta jiwa, dengan 28 persen di antaranya adalah anak-anak. Mereka adalah generasi yang tumbuh di era yang sangat berbeda dari generasi sebelumnya.
Data menunjukkan bahwa penetrasi internet di Indonesia telah mencapai 79,5 persen pada awal tahun 2024, dengan 9,17 persen pengguna internet berasal dari kelompok anak di bawah 12 tahun. Lebih mengkhawatirkan lagi, data menunjukkan bahwa 22 persen anak tidak mematuhi durasi penggunaan internet yang ditetapkan oleh orang tua mereka.
Angka-angka ini bukan sekadar statistik dingin, melainkan gambaran nyata tentang bagaimana masa kecil telah berubah fundamental dalam satu dekade terakhir.
Saya menyaksikan langsung bagaimana teknologi membawa berkah sekaligus kutukan bagi tumbuh kembang anak.
Di satu sisi, dunia digital membuka akses terhadap pengetahuan yang tak terbatas. Seorang anak di pelosok Papua kini bisa belajar coding, menonton dokumenter museum Louvre, atau berkomunikasi dengan teman sebaya dari berbagai negara.
Namun di sisi lain, kita menghadapi krisis yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah pengasuhan manusia.
Tantangan pertama dan paling mendesak adalah ancaman terhadap kesehatan mental anak. Berdasarkan Survei Kesehatan Mental Remaja Nasional Indonesia 2022, sebanyak 15,5 juta atau 34,9 persen remaja mengalami masalah kesehatan mental dan 2,45 juta atau 5,5 persen remaja mengalami gangguan mental.
Yang lebih memprihatinkan, hanya 2,6 persen dari remaja dengan masalah kesehatan mental yang mengakses layanan konseling, baik emosional maupun perilaku.
Media sosial, yang dirancang untuk orang dewasa namun dikonsumsi oleh anak-anak, menciptakan tekanan untuk selalu tampil sempurna. Budaya suka-suka dan komentar kejam menjadi penentu harga diri mereka.
Seorang anak perempuan berusia 11 tahun pernah bercerita kepada saya bagaimana ia menangis semalaman karena fotonya hanya mendapat 23 suka, sementara temannya mendapat ratusan. Ini bukan lagi tentang teknologi, ini tentang bagaimana kita membiarkan algoritma menentukan kebahagiaan anak-anak kita.
Tantangan kedua adalah kemerosotan kemampuan sosial dan empati. Anak-anak yang terlalu banyak berinteraksi melalui layar kehilangan keterampilan membaca ekspresi wajah, nada suara, dan bahasa tubuh. Mereka mahir mengetik emoji namun kikuk saat harus menghibur teman yang sedih.
Penelitian menunjukkan bahwa anak-anak yang menghabiskan lima hari tanpa layar di kamp alam menunjukkan peningkatan signifikan dalam kemampuan membaca isyarat emosi nonverbal, yang berarti paparan layar yang berlebihan menghambat perkembangan keterampilan sosial penting ini.
Beberapa ahli percaya bahwa tingkat empati yang diekspresikan oleh anak-anak dan remaja telah menurun sebanyak 25 persen dalam 10 tahun terakhir. Studi dari Universitas UCLA menunjukkan bahwa berkurangnya kepekaan terhadap isyarat emosional?—?kehilangan kemampuan untuk memahami emosi orang lain?—?adalah salah satu biaya dari waktu layar yang berlebihan.
Akibatnya, kita melihat meningkatnya kasus perundungan, baik daring maupun luring, karena anak-anak tidak lagi merasakan dampak emosional dari perbuatan mereka terhadap orang lain.
Ketiga, ada krisis konsentrasi dan kreativitas. Otak anak yang terbiasa dengan rangsangan instan dari video pendek, notifikasi tanpa henti, dan pergantian konten setiap beberapa detik, kehilangan kemampuan untuk fokus dalam waktu lama.
Anak-anak usia 8 hingga 12 tahun di Amerika Serikat rata-rata menghabiskan 4 hingga 6 jam waktu layar setiap hari, sebuah tren yang juga terjadi di Indonesia. Guru-guru melaporkan bahwa murid-murid mereka kesulitan menyelesaikan tugas yang membutuhkan pemikiran mendalam. Penelitian menunjukkan bahwa waktu layar yang berlebihan?—?lebih dari empat jam per hari?—?berpotensi berisiko untuk perkembangan anak.
Ironisnya, di era yang menawarkan segala informasi ini, anak-anak justru kehilangan kemampuan berpikir kritis karena terbiasa menelan mentah-mentah konten yang disajikan untuk mereka oleh algoritma. Anak-anak dan remaja yang menghabiskan lebih banyak waktu menggunakan media layar menunjukkan kesejahteraan psikologis yang lebih rendah, dengan kemampuan regulasi emosi yang buruk, ketidakmampuan menyelesaikan tugas, rasa ingin tahu yang lebih rendah, dan lebih sulit berteman.
Keempat, globalisasi membawa tantangan identitas budaya. Anak-anak kita lebih fasih menyanyikan lagu K-pop daripada lagu daerah, lebih mengenal superhero Hollywood daripada tokoh pewayangan.
Mereka tumbuh sebagai warga dunia, namun tanpa akar budaya yang kuat. Ini terjadi karena algoritma media sosial cenderung memaparkan anak-anak pada konten global yang viral, bukan konten lokal yang kaya akan nilai budaya. Padahal, identitas budaya yang kuat adalah fondasi penting bagi ketahanan mental dan karakter anak di tengah arus globalisasi yang deras.
Kelima, dan mungkin paling mengkhawatirkan, adalah paparan konten berbahaya. Dari pornografi yang muncul tiba-tiba, konten kekerasan yang dinormalisasi, hingga ajakan untuk tindakan berbahaya demi mendapat perhatian di media sosial.
Lebih memprihatinkan lagi, penelitian Disrupting Harm menemukan bahwa 2 persen anak?—?sekitar 500.000 anak di Indonesia?—?melaporkan menjadi korban eksploitasi seksual dan penyalahgunaan daring dalam setahun terakhir.
Yang lebih menyedihkan, hingga 56 persen anak-anak yang mengalami eksploitasi seksual daring tidak pernah menceritakan pengalaman mereka kepada siapa pun. Angka ini mencengangkan, dan menunjukkan bahwa banyak orang tua bahkan tidak menyadari apa yang diakses anak mereka di dunia maya.
Namun, di tengah kegelapan ini, selalu ada harapan. Sebagai bangsa yang telah melewati berbagai krisis, kita memiliki ketahanan dan kebijaksanaan untuk menemukan solusi. Yang kita butuhkan adalah pendekatan menyeluruh yang melibatkan semua pihak.
Solusi dimulai dari rumah, dari orang tua yang harus kembali hadir secara utuh. Bukan hanya secara fisik, namun secara emosional. Makan malam bersama tanpa gawai, berbicara tentang hari yang dijalani, mendengarkan kegelisahan anak tanpa menghakimi , hal-hal sederhana ini memiliki dampak luar biasa pada kesehatan mental anak.
Penelitian membuktikan bahwa anak yang rutin makan malam bersama keluarga minimal empat kali seminggu memiliki risiko depresi yang lebih rendah. Orang tua perlu mengingat bahwa kehadiran emosional jauh lebih penting daripada sekadar kehadiran fisik.
Kita perlu menetapkan aturan digital yang jelas namun masuk akal. Bukan melarang total, melainkan mengajarkan penggunaan yang sehat. Zona bebas gawai di kamar tidur, waktu layar yang dibatasi, dan yang terpenting, orang tua yang menjadi teladan.
Mustahil mengharapkan anak melepas gawai saat orang tuanya sendiri tidak bisa lepas dari telepon pintar. Organisasi Kesehatan Dunia merekomendasikan tidak ada waktu layar untuk anak-anak selama 2 tahun pertama dan kurang dari 1 jam sehari untuk anak-anak berusia 2–4 tahun. Untuk anak yang lebih besar, batasan waktu layar perlu disesuaikan dengan usia dan kebutuhan mereka, namun tetap harus ada.
Sekolah harus berevolusi. Kurikulum perlu memasukkan literasi digital, bukan hanya cara menggunakan teknologi, namun cara berpikir kritis tentang informasi yang diterima. Anak-anak perlu diajarkan tentang jejak digital, privasi, dan konsekuensi dari tindakan daring mereka.
Lebih penting lagi, sekolah harus menjadi tempat di mana karakter, empati, dan nilai-nilai kemanusiaan ditanamkan dengan kuat. Sayangnya, meskipun 86,67 persen sekolah negeri di Jakarta melakukan pendidikan kesehatan mental, program ini masih menghadapi berbagai isu seperti keterbatasan dana, kurangnya pelatihan guru, kesadaran orang tua tentang masalah kesehatan mental, dan stigma budaya tradisional seputar kesehatan mental.
Pemerintah memiliki peran vital dalam membuat regulasi yang melindungi anak di dunia digital tanpa mengekang kebebasan berekspresi. Ini bukan pekerjaan mudah, namun sangat mendesak. Verifikasi usia yang lebih ketat untuk platform media sosial, pembatasan konten berbahaya, dan sanksi tegas bagi pelaku kejahatan siber terhadap anak harus menjadi prioritas.
Pemerintah Indonesia telah menerbitkan PP Tunas tentang Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Perlindungan Anak, yang mewajibkan setiap perusahaan penyedia layanan daring menyediakan fitur kontrol orang tua yang efektif, menetapkan pengaturan privasi tinggi secara bawaan untuk akun anak-anak, dan melarang pelacakan lokasi untuk anak. Ini adalah langkah awal yang baik, namun implementasi dan pengawasannya harus dilakukan dengan serius.
Komunitas dan masyarakat perlu menciptakan ruang-ruang aman bagi anak untuk bermain, berkreasi, dan bersosialisasi di dunia nyata. Taman kota yang ramah anak, perpustakaan komunitas, sanggar seni, dan klub olahraga , semua ini adalah investasi untuk masa depan yang tidak kalah penting dari infrastruktur fisik lainnya.
Ketika anak-anak memiliki alternatif kegiatan yang menarik dan bermakna di dunia nyata, mereka akan secara alami mengurangi ketergantungan pada layar.
Yang tidak kalah penting adalah memberdayakan anak-anak sendiri. Mereka bukan objek pasif yang harus dilindungi, namun subjek aktif yang bisa diajak berdialog. Libatkan mereka dalam diskusi tentang penggunaan teknologi yang sehat.
Dengarkan perspektif mereka. Sering kali, anak-anak memiliki pemahaman yang lebih baik tentang dinamika dunia digital daripada orang tua mereka.
Ajari mereka untuk berpikir kritis tentang konten yang mereka konsumsi, mengenali tanda-tanda manipulasi, dan memahami konsekuensi dari tindakan mereka di dunia maya.
Kita juga perlu menghidupkan kembali permainan tradisional, dongeng sebelum tidur, dan nilai-nilai kearifan lokal. Bukan dengan cara memaksa atau menjadikannya terasa kuno, namun dengan cara yang relevan dan menarik.
Seorang anak yang kuat akarnya akan lebih siap menghadapi terpaan badai globalisasi. Cerita rakyat nusantara, permainan seperti congklak atau gobak sodor, dan lagu-lagu daerah sebenarnya sama menariknya dengan konten digital jika dikemas dengan baik dan diajarkan dengan penuh semangat.
Peran keluarga besar juga tidak bisa diabaikan. Kakek nenek, paman bibi, dan sepupu-sepupu adalah bagian dari sistem dukungan sosial yang penting bagi anak. Interaksi dengan anggota keluarga yang lebih luas memberikan perspektif yang beragam dan memperkaya pengalaman sosial anak.
Sayangnya, struktur keluarga modern yang cenderung inti dan tersebar geografis membuat interaksi ini semakin jarang. Kita perlu upaya sadar untuk mempertahankan ikatan keluarga besar, meski harus melalui cara kreatif seperti pertemuan rutin atau acara keluarga berkala.
Di Hari Anak Nasional ini, mari kita tidak hanya sekadar merayakan dengan seremonial semata. Mari kita berkomitmen untuk benar-benar hadir dalam kehidupan anak-anak.
Matikan sejenak notifikasi, tatap mata mereka, peluk mereka, dan katakan bahwa mereka berharga bukan karena berapa banyak suka yang mereka dapat, bukan karena prestasi akademik mereka, namun karena mereka adalah manusia yang unik dan istimewa. Validasi emosional seperti ini sangat penting untuk membangun harga diri yang sehat pada anak.
Masa depan Indonesia tidak ditentukan oleh seberapa canggih teknologi kita, namun oleh seberapa bijak kita menggunakannya untuk merawat generasi penerus. Anak-anak kita berhak tumbuh dalam dunia yang aman, penuh kasih sayang, dan memberikan mereka kesempatan untuk menjadi versi terbaik dari diri mereka sendiri.
Dengan hampir 20 persen dari total populasi Indonesia berusia 10–19 tahun, populasi remaja memiliki peran penting dalam pembangunan Indonesia, terutama untuk mencapai bonus demografi dan mewujudkan visi Generasi Emas Indonesia 2045.
Tantangan mendidik anak di era digital dan globalisasi memang berat, namun bukan tidak mungkin. Yang kita butuhkan adalah keberanian untuk mengakui bahwa ada yang salah, kebijaksanaan untuk menemukan jalan keluar, dan komitmen untuk mengambil tindakan nyata.
Setiap orang tua, guru, pemimpin, dan warga negara memiliki peran dalam misi besar ini. Tidak ada yang terlalu kecil atau terlalu besar untuk berkontribusi dimana setiap tindakan positif, sekecil apa pun, akan memberikan dampak.
Kita perlu mengubah paradigma dari sekadar melindungi anak dari bahaya menjadi memberdayakan mereka untuk menghadapi dunia dengan bijak. Anak-anak yang tumbuh dengan fondasi emosional yang kuat, keterampilan sosial yang baik, identitas budaya yang jelas, dan literasi digital yang memadai akan menjadi generasi yang tangguh.
Mereka tidak akan mudah terombang-ambing oleh arus informasi yang deras, tidak akan mudah terpengaruh oleh tekanan sosial yang negatif, dan akan mampu memanfaatkan teknologi untuk kebaikan.
Mari kita pastikan bahwa warisan yang kita tinggalkan adalah dunia yang lebih baik, lebih manusiawi, dan lebih penuh harapan.
Selamat Hari Anak Nasional 2025. Semoga kita semua diberi kekuatan untuk menjadi pelindung cahaya masa depan Indonesia.
Masa depan bangsa ini ada di tangan kecil mereka, dan tugas kita adalah memastikan tangan-tangan itu cukup kuat untuk memegangnya.