Membangun di Tengah Guncangan: Kisah Infrastruktur Indonesia Menghadapi Badai Global
“Di tengah badai, setiap negara harus belajar menari dengan angin, bukan melawannya.” – John F. Kennedy
Matahari pagi belum sepenuhnya menyingsing ketika Pak Budi, mandor proyek jalan tol di Jawa Tengah, sudah berhadapan dengan realitas pahit. Harga besi beton yang kemarin masih Rp 13.500 per kilogram, hari ini melambung menjadi Rp 16.200.
Pemasok semen menunda pengiriman karena pasokan batubara untuk pabrik mereka terganggu. Di layar gawainya, berita tentang konflik Rusia-Ukraine dan ketegangan di Laut Merah terus bergulir. Ia tak pernah membayangkan bahwa gejolak di belahan dunia sana akan sampai menghantam proyek yang sedang dikelolanya, proyek yang menjadi harapan ribuan warga untuk akses lebih baik menuju pusat ekonomi.
Kisah Pak Budi adalah potret kecil dari tantangan besar yang menghadang proyek infrastruktur Indonesia di tengah ketegangan global yang kian menghangat.
Sejak tahun 2022, dunia konstruksi tanah air menghadapi ujian berat yang datang bertubi-tubi: perang perdagangan antara kekuatan ekonomi besar, konflik bersenjata yang mengganggu rantai pasok global, inflasi yang melonjak di berbagai negara maju, hingga kebijakan proteksionisme yang menguat.
Semua ini bukan sekadar angka dalam grafik ekonomi, melainkan realitas yang dirasakan langsung oleh jutaan pekerja konstruksi, kontraktor, hingga masyarakat yang menanti jembatan, jalan, dan rumah sakit yang dijanjikan pemerintah.
Data dari Kementerian PUPR menunjukkan bahwa pada tahun 2023, sekitar 23 persen proyek strategis nasional mengalami keterlambatan, naik signifikan dari 14 persen di tahun 2021.
Penyebab utamanya bukanlah kegagalan perencanaan atau ketidakmampuan para insinyur kita, tetapi guncangan eksternal yang datang dari luar kendali: kenaikan harga bahan baku impor hingga 40 persen, kelangkaan komponen tertentu, dan kenaikan suku bunga global yang membuat biaya pembiayaan proyek membengkak.
Ketegangan geopolitik telah mengubah peta perdagangan dunia. Jalur pelayaran yang biasanya lancar kini harus memutar jauh menghindari zona konflik, menambah waktu dan biaya pengiriman.
Kenaikan premi asuransi pelayaran mencapai 300 persen untuk rute tertentu, beban yang akhirnya dibebankan pada proyek infrastruktur. Sementara itu, kebijakan negara-negara maju yang menahan ekspor komoditas strategis demi kebutuhan dalam negeri mereka sendiri membuat Indonesia harus berjuang lebih keras mendapatkan pasokan yang selama ini diandalkan.
Bagi seorang kontraktor seperti, sebut saja namanya, Ibu Sari di Kalimantan Timur yang mengerjakan pembangunan jembatan menuju Ibu Kota Nusantara, tantangan ini terasa sangat nyata.
Ketika komponen baja khusus dari Eropa terlambat tiga bulan karena gangguan rantai pasok, ratusan pekerjanya harus menganggur. Upah tetap harus dibayar, biaya mobilisasi alat berat terus berjalan, sementara pemasukan tertunda.
Kendala yang dihadapi proyek infrastruktur Indonesia akibat ketegangan global ini bersifat berlapis. Pertama, adalah ketidakpastian harga yang membuat perhitungan anggaran proyek menjadi sangat sulit.
Kontrak yang ditandatangani setahun lalu dengan asumsi harga tertentu kini harus berhadapan dengan realitas kenaikan biaya 30 hingga 50 persen. Menurut data Badan Pusat Statistik, indeks harga perdagangan besar bahan konstruksi mengalami kenaikan signifikan pada periode 2022-2023.
Kedua, gangguan rantai pasok yang tidak terprediksi. Komponen vital seperti turbin untuk pembangkit listrik, sistem kontrol otomatis untuk jalan tol, hingga material khusus untuk konstruksi pelabuhan harus diimpor.
Ketika jalur pasok terganggu, seluruh jadwal proyek berantakan. Waktu tunggu yang seharusnya dua bulan bisa melambung menjadi enam bulan, menciptakan efek domino pada proyek-proyek lain yang saling terkait.
Ketiga, tekanan pada pembiayaan proyek. Bank Indonesia mencatat bahwa kenaikan suku bunga acuan di Amerika Serikat dan negara-negara maju lainnya telah memicu pelarian modal dari negara berkembang, termasuk Indonesia. Ini membuat biaya pinjaman untuk membiayai proyek infrastruktur menjadi lebih mahal. Dana yang seharusnya cukup untuk menyelesaikan sepuluh kilometer jalan kini hanya mampu membangun tujuh kilometer.
Namun di tengah segala tantangan ini, bangsa Indonesia bukanlah bangsa yang mudah menyerah. Seperti kata pepatah lama, “Batu yang keras dipecah dengan strategi, bukan dengan kekuatan semata.” Solusi untuk mengatasi dampak ketegangan global terhadap proyek infrastruktur memerlukan pendekatan yang komprehensif, kolaboratif, dan inovatif.
Langkah pertama yang krusial adalah memperkuat kemandirian dalam penyediaan bahan baku konstruksi. Indonesia memiliki cadangan sumber daya mineral yang melimpah, namun sebagian besar masih diekspor dalam bentuk mentah.
Program hilirisasi yang digalakkan pemerintah perlu dipercepat, tidak hanya untuk nikel dan bauksit, tetapi juga untuk bahan konstruksi lainnya. Membangun pabrik pengolahan baja berkualitas tinggi di dalam negeri, mengembangkan industri semen dengan teknologi ramah lingkungan, dan menciptakan ekosistem produksi komponen konstruksi lokal akan mengurangi ketergantungan pada impor.
Kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, dan institusi pendidikan menjadi kunci kedua. Universitas-universitas teknik perlu didorong untuk mengembangkan riset material alternatif yang lebih murah namun tetap berkualitas.
Startup teknologi konstruksi perlu diberi ruang dan dukungan untuk menghadirkan inovasi. Sudah saatnya Indonesia memiliki teknologi pracetak dan modular yang dapat mempercepat pembangunan sekaligus mengurangi ketergantungan pada material impor.
Diversifikasi sumber pasokan juga menjadi strategi yang tidak bisa ditawar. Jangan menaruh semua telur dalam satu keranjang, kata pepatah bijak. Indonesia perlu memperluas jaringan perdagangan dengan berbagai negara, tidak hanya bergantung pada satu atau dua pemasok utama.
Kemitraan dengan negara-negara ASEAN, Afrika, dan Amerika Latin dapat membuka alternatif pasokan yang lebih stabil dan kompetitif dari segi harga.
Dari sisi pembiayaan, model pembiayaan kreatif seperti blended finance yang menggabungkan dana pemerintah, swasta, dan filantropi perlu dikembangkan. Skema pembiayaan hijau yang semakin diminati investor global dapat dimanfaatkan untuk proyek infrastruktur yang berkelanjutan. Obligasi infrastruktur dengan insentif pajak bisa menarik partisipasi masyarakat luas untuk ikut membiayai pembangunan negeri.
Tak kalah penting adalah peningkatan efisiensi dan transparansi dalam pengelolaan proyek. Teknologi digital seperti Building Information Modeling, sistem manajemen proyek berbasis artificial intelligence, dan blockchain untuk tracking material dapat mengurangi pemborosan dan meningkatkan akuntabilitas. Setiap rupiah yang dihemat dari inefisiensi adalah rupiah yang bisa dialokasikan untuk mempercepat pembangunan.
Pemerintah juga perlu memberikan perlindungan yang lebih baik bagi kontraktor dari risiko kenaikan harga yang tidak terduga. Mekanisme eskalasi biaya yang lebih fleksibel dan adil perlu diformulasikan, sehingga kontraktor tidak menanggung sendiri beban guncangan global yang di luar kendali mereka. Ini bukan tentang memanjakan pelaku usaha, tetapi tentang menciptakan ekosistem konstruksi yang sehat dan berkelanjutan.
Di balik semua angka dan kebijakan, jangan lupakan dimensi manusianya. Jutaan pekerja konstruksi yang setiap hari berkeringat di bawah terik matahari, para insinyur muda yang berjuang keras merancang solusi terbaik dengan keterbatasan yang ada, dan masyarakat yang dengan sabar menanti infrastruktur yang dijanjikan.
Mereka semua adalah wajah nyata dari pembangunan Indonesia. Ketika kita berbicara tentang proyek infrastruktur yang terhambat, kita berbicara tentang impian tertunda dari anak-anak di desa terpencil yang menanti jalan untuk bisa sekolah, tentang petani yang mengharap jembatan agar hasil panen tidak membusuk di perjalanan, tentang ibu hamil yang berharap ambulans bisa tiba tepat waktu karena jalan sudah mulus.
Ketegangan global memang menciptakan badai yang mengguncang fondasi pembangunan kita. Namun badai juga mengajarkan kita untuk membangun struktur yang lebih kuat, menemukan cara yang lebih cerdas, dan yang terpenting, bersatu dalam menghadapi tantangan.
Proyek infrastruktur bukan sekadar tentang beton dan besi, tetapi tentang harapan dan masa depan bangsa. Dan masa depan itu terlalu berharga untuk kita serahkan begitu saja pada ketidakpastian global.
Indonesia telah melewati berbagai krisis sepanjang sejarah. Dari setiap krisis, bangsa ini selalu bangkit dengan lebih tangguh. Ketegangan global saat ini adalah ujian baru, tetapi bukan yang pertama dan tidak akan yang terakhir.
Yang membedakan adalah bagaimana kita meresponsnya: dengan keluh kesah yang tak berujung, atau dengan kerja keras dan inovasi yang menghasilkan solusi.
Pak Budi di pagi hari tadi mungkin menghadapi tantangan berat, tetapi ia tidak menyerah. Ia menelepon pemasok lokal, mencari alternatif material, berdiskusi dengan tim tentang penyesuaian rancangan yang lebih efisien.
Begitu pula dengan Ibu Sari dan ribuan pelaku konstruksi lainnya di seluruh nusantara. Mereka adalah pahlawan tanpa tanda jasa yang terus berjuang membangun negeri ini, apapun tantangannya.
Jalan masih panjang, tantangan masih besar, tetapi semangat untuk membangun Indonesia yang lebih baik tidak boleh padam. Karena pada akhirnya, infrastruktur yang kita bangun hari ini adalah warisan yang akan dinikmati generasi mendatang.
Dan warisan terbaik yang bisa kita tinggalkan adalah bukan hanya jalan yang mulus atau jembatan yang kokoh, tetapi juga kisah tentang sebuah bangsa yang tidak pernah menyerah dalam menghadapi badai.