Membangun Harapan di Atas Tanah yang Bergetar: Prospek Konstruksi Hijau dan Gedung Tahan Gempa Indonesia
“The future is green energy, sustainability, and renewable energy.” – Arnold Schwarzenegger
Bayangkan seorang ibu yang tinggal di Sumedang tengah memeluk anaknya yang ketakutan saat gempa berkekuatan 4,5 magnitudo mengguncang rumahnya pada Januari 2024.
Sementara di Jakarta, seorang pegawai, kantornya masih bekerja dengan tenang di gedung bersertifikat ramah lingkungan ketika guncangan serupa terasa.
Dua kisah berbeda, satu Indonesia yang sama. Negeri yang dianugerahi kekayaan alam luar biasa, namun sekaligus menanggung risiko bencana geologis yang tidak pernah berhenti mengintai.
Indonesia berdiri di persimpangan empat lempeng tektonik raksasa—Eurasia, Indo-Australia, Pasifik, dan Laut Filipina. Posisi geografis ini menjadikan kita negara dengan gempa terbanyak di dunia, dengan 2.205 kejadian gempa sepanjang 2023 menurut data Badan Geologi.
Hingga September 2025, Indonesia bahkan mencatatkan rekor baru dengan 33 gempa merusak—angka tertinggi dalam sejarah pencatatan. Namun, fakta ini bukan hanya sekadar statistik. Di balik setiap angka, ada rumah yang runtuh, keluarga yang kehilangan tempat berlindung, dan 116.500 jiwa yang menderita dan mengungsi sepanjang 2024.
Paradoksnya, di tengah ancaman bencana yang terus-menerus, kita juga menghadapi tantangan perubahan iklim global. Sektor konstruksi menyumbang konsumsi energi tahunan yang terus meningkat rata-rata tujuh persen setiap dekade, menurut Green Building Council Indonesia. Dua masalah besar ini—kerentanan terhadap gempa dan krisis iklim—menuntut jawaban yang sama: transformasi radikal dalam cara kita membangun.
Di sinilah konstruksi hijau dan gedung tahan gempa bukan lagi pilihan, melainkan keniscayaan. Industri konstruksi Indonesia tengah tumbuh pesat dengan nilai pasar mencapai 273,15 miliar dolar AS pada 2024 dan diproyeksikan mencapai 535,98 miliar dolar AS pada 2030.
Momentum ini harus dimanfaatkan untuk membangun masa depan yang lebih aman dan berkelanjutan. Pemerintah telah mengalokasikan lebih dari 423 triliun rupiah untuk pembangunan infrastruktur pada 2024, dengan fokus meningkat pada keberlanjutan dan ketahanan bencana.
Namun realitasnya, penerapan konstruksi hijau di Indonesia masih jauh dari ideal. Hingga 2023, Green Building Council Indonesia baru menyertifikasi 98 gedung hijau dan mendaftarkan 72 proyek, angka yang sangat kecil dibanding Singapura yang memiliki sekitar 4.600 gedung bersertifikat Green Mark.
Sertifikasi gedung hijau di Indonesia memang tumbuh 15 persen setiap tahun, namun kecepatan ini belum cukup untuk mengejar ketertinggalan.
Kendala terbesar adalah biaya investasi awal yang tinggi. Teknologi Smart Building Management System misalnya, dapat mencapai 10 hingga 30 persen dari total biaya pembangunan.
Banyak pengembang masih memandang teknologi hijau sebagai beban tambahan, bukan investasi jangka panjang. Padahal, gedung hijau dapat menghemat konsumsi energi hingga 50 persen dan air secara signifikan.
Tantangan lainnya adalah kurangnya kesadaran dan pemahaman. Meskipun istilah “green building” semakin populer, pemahaman mendalam tentang prinsip-prinsipnya masih terbatas di kalangan praktisi konstruksi. Keterbatasan tenaga ahli yang kompeten di bidang ini memperparah situasi.
Untuk konstruksi tahan gempa, tantangannya tak kalah kompleks. Meski Indonesia memiliki Standar Nasional Indonesia untuk bangunan tahan gempa, penerapannya belum merata, terutama di daerah-daerah dengan pengawasan yang lemah.
Rumah Instan Sehat Sederhana dari Kementerian PUPR sudah menunjukkan jalan, namun akses masyarakat berpenghasilan rendah terhadap hunian layak berstandar SNI masih sangat terbatas.
Namun, di tengah tantangan, ada secercah harapan yang terus membesar. Pada Juli 2025, Indonesia menorehkan sejarah dengan peresmian Gedung Multi Hazard Early Warning System BMKG, gedung pertama di Indonesia dengan teknologi isolasi seismik tipe Friction Pendulum yang mampu menahan gempa hingga magnitudo 8,8.
Gedung sembilan lantai ini dilengkapi 23 titik isolator yang dirakit lokal oleh anak perusahaan PT Wijaya Karya, meningkatkan nilai Tingkat Kandungan Dalam Negeri.
Inovasi juga datang dari kampus. Mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember menciptakan konsep gedung Eco-Quake yang menggabungkan prinsip Strong Column Weak Beam dengan semen ramah lingkungan dari bahan alternatif seperti cangkang telur dan serbuk granit. Konsep ini terbukti mampu menahan guncangan gempa magnitudo 5,5 dalam pengujian.
Solusi untuk mewujudkan masa depan konstruksi yang lebih baik memerlukan pendekatan holistik. Pertama, pemerintah perlu memperkuat regulasi dan insentif. Pengurangan pajak bagi pengembang yang menerapkan standar hijau dan tahan gempa dapat mendorong adopsi lebih luas.
Pemerintah juga harus mempermudah akses pembiayaan dengan suku bunga rendah untuk proyek-proyek berkelanjutan, sebagaimana direkomendasikan dalam berbagai kajian akademis.
Kedua, edukasi massal harus digalakkan. Program pelatihan untuk arsitek, insinyur, dan kontraktor tentang prinsip konstruksi hijau dan tahan gempa perlu diperluas. Kampanye kesadaran publik melalui media sosial, seminar, dan pameran teknologi dapat membantu mengubah persepsi bahwa teknologi hijau bukan sekadar biaya tambahan, melainkan investasi yang menguntungkan.
Ketiga, inovasi teknologi lokal harus didorong. Pengembangan material ramah lingkungan yang terjangkau dan sesuai dengan kondisi Indonesia dapat menurunkan biaya secara signifikan. Penelitian tentang pemanfaatan bahan lokal seperti bambu, tanah liat yang diperkuat, atau limbah industri untuk konstruksi hijau perlu mendapat dukungan penuh.
Keempat, kemitraan antara pemerintah, sektor swasta, dan akademisi harus diperkuat. Kolaborasi seperti yang dilakukan PT Wijaya Karya dengan Institut Teknologi Bandung dalam pengembangan teknologi tahan gempa dapat menjadi model. Transfer pengetahuan dari universitas ke industri harus difasilitasi dengan lebih baik.
Kelima, standarisasi dan sertifikasi perlu dipermudah namun tetap ketat. Birokrasi yang berbelit dalam proses sertifikasi gedung hijau sering menjadi penghambat. Penyederhanaan prosedur tanpa mengorbankan kualitas akan mendorong lebih banyak pengembang untuk berpartisipasi.
Keenam, infrastruktur pendukung harus dibenahi. Di luar Jawa, keterbatasan jaringan internet dan pemadaman listrik yang sering menghambat penerapan sistem berbasis teknologi pintar. Integrasi sumber energi terbarukan seperti panel surya dengan sistem bangunan dapat mengatasi ketergantungan pada jaringan listrik utama.
Prospek ke depan sebenarnya sangat menjanjikan. Pasar konstruksi hijau di Indonesia mencatat pendapatan 23,58 miliar dolar AS pada 2024 dengan pertumbuhan 5 persen. Target pemerintah untuk membangun 100.000 rumah hijau dan mencapai 100 persen perumahan nol emisi pada 2050 menunjukkan komitmen jangka panjang.
Rencana Indonesia meningkatkan porsi energi terbarukan dari 12 persen menjadi 40 persen pada 2030 akan menciptakan permintaan besar untuk konstruksi terkait proyek energi berkelanjutan.
Kita tidak boleh lupa bahwa di balik semua angka dan teknologi, ada manusia dengan harapan dan impian. Ada keluarga yang ingin tidur nyenyak tanpa takut rumahnya roboh saat gempa. Ada anak-anak yang berhak tumbuh di lingkungan yang sehat. Ada generasi mendatang yang mengandalkan kita untuk meninggalkan planet yang lebih baik.
Jepang telah membuktikan bahwa negara dengan ancaman gempa serupa dapat membangun infrastruktur tangguh melalui aturan ketat dan inovasi berkelanjutan. Dengan jumlah gempa yang lebih sedikit dari Indonesia, Jepang mencatat korban dan kerusakan yang jauh lebih minimal berkat penerapan standar konstruksi yang konsisten. Kita bisa belajar dari mereka sambil tetap mengembangkan solusi yang sesuai dengan konteks lokal Indonesia.
Momentum sedang berpihak pada kita. Kesadaran akan perubahan iklim meningkat, investasi mengalir ke proyek berkelanjutan, dan teknologi semakin terjangkau. Yang kita butuhkan sekarang adalah keberanian untuk bertindak, konsistensi dalam penerapan, dan kolaborasi dari semua pihak. Setiap gedung hijau yang dibangun, setiap rumah tahan gempa yang berdiri, adalah langkah kecil menuju Indonesia yang lebih aman dan berkelanjutan.
Di tangan kita, para praktisi konstruksi, terbentang tanggung jawab besar namun mulia. Kita tidak hanya membangun gedung atau jembatan. Kita membangun harapan, melindungi nyawa, dan membentuk masa depan bangsa.
Di tanah yang bergetar ini, kita punya kesempatan untuk menunjukkan bahwa kerentanan geografis tidak harus menjadi takdir tragis, melainkan dapat menjadi katalis untuk inovasi dan ketangguhan.
Ketika kita menyatukan inspirasi, ilmu, dan tindakan nyata, masa depan tidak lagi dilihat sebagai ancaman gempa semata atau sebagai sekadar tren hijau di kota-kota besar. Masa depan bisa menjadi simfoni ketahanan, harmoni dengan alam, dan kesejahteraan yang bertahan lama.
Dan di akhir narasi ini, mari kita renungkan kata-kata Maya Angelou: “Anda tidak bisa mengubah dunia sekaligus, tetapi Anda bisa mengubah satu hal yang Anda bangun hari ini.”
Semoga setiap bangunan yang direncanakan dan didirikan di Indonesia menjadi langkah kecil namun berarti menuju dunia yang lebih hijau dan lebih aman bagi generasi yang akan datang.
Mari kita mulai berpikir dan membangun dengan cara yang baru: hijau, tangguh, dan penuh harapan untuk Indonesia yang lebih baik.