(Narsis) : Adinda, Cinta yang Kupeluk dalam Doa
Di senja yang jatuh perlahan, ketika cahaya matahari mengendap di sela dedaunan dan azan magrib menggema dari kejauhan, aku kembali mengingat namamu: Adinda.
Namamu tak pernah keras di kepalaku. Ia datang seperti angin sore: pelan, sejuk, dan diam-diam mengubah suasana.
Aku menyebutmu dalam hati, sebagaimana orang menyebut doa: tanpa tuntutan, tanpa syarat.
Hanya harap yang jujur.
Kita tak pernah benar-benar merencanakan pertemuan. Kita dipertemukan oleh waktu yang berjalan seadanya, oleh obrolan singkat yang tumbuh menjadi kebiasaan, oleh senyum yang tak pernah kita akui sebagai rindu.
Kau selalu duduk di bangku kayu dekat jendela itu, membaca atau sekadar menatap hujan.
Aku sering berpura-pura sibuk agar bisa berada di dekatmu: cukup dekat untuk merasa tenang, cukup jauh untuk tetap sopan.
Aku tahu, cinta tak selalu harus gaduh. Ada cinta yang memilih diam agar tak melukai, yang memilih sabar agar tak memaksa.
Seperti caraku padamu. Seperti caramu yang selalu menunduk ketika aku menatap terlalu lama, seakan mengingatkanku bahwa perasaan juga perlu adab.
Suatu sore kau bercerita tentang ayahmu, tentang sawah yang menguning, tentang doa ibu yang selalu kau simpan di lipatan kerudung.
Suaramu bergetar, bukan oleh sedih, melainkan oleh syukur. Di saat itulah aku mengerti: mencintaimu berarti merawat yang kau bawa dari rumah: nilai, harapan, dan kesederhanaan yang tak bisa ditawar.
“Kalau nanti kita berjauhan,” katamu pelan, “jangan biarkan rindu menjadi beban.”
Aku mengangguk, meski hatiku ingin menyangkal.
Sebab rindu memang berat, Adinda.
Ia tak bisa dipikul sendirian. Tapi kau mengajarkanku satu hal penting: rindu yang disandarkan pada Tuhan tak pernah sia-sia.
Hari perpisahan itu sederhana.
Tak ada pelukan yang berlebihan, tak ada janji yang tergesa.
Hanya doa yang saling kita titipkan.
Kau tersenyum, senyum yang sama seperti pertama kali kita bertemu, lalu melangkah pergi.
Aku menahan diri untuk tidak memanggil namamu. Bukan karena tak ingin, melainkan karena percaya: yang dititipkan dengan ikhlas akan kembali dengan cara yang indah.
Malam-malam setelahnya, aku belajar menyebut namamu dalam sujud. Bukan untuk memilikimu, tapi untuk menjaga perasaan ini tetap bersih.
Aku belajar bahwa mencintai tak selalu tentang bersama, melainkan tentang kesediaan menunggu dengan tenang, tentang menerima jika takdir memilih jalan yang berbeda.
Dan bila kelak kita bertemu kembali, di waktu yang lebih ramah, di keadaan yang lebih matang, aku ingin menyapamu tanpa gemetar.
Aku ingin berkata bahwa aku pernah mencintaimu dengan cara paling sederhana: dengan menjaga jarak, dengan mendoakan diam-diam, dengan tidak menuntut apa-apa selain kebaikan untukmu.
Jika pun kita tak bertemu lagi, biarlah namamu tinggal sebagai lagu yang lembut di ingatan.
Lagu tentang cinta yang tak berisik, tentang rindu yang beradab, tentang hati yang belajar ikhlas.
Adinda, di antara banyak hal yang berubah, satu hal tetap sama: doaku untukmu.
Semoga langkahmu ringan, semoga hatimu tenang, dan semoga cinta: dalam bentuk apa pun, selalu menemukanmu dengan lembut.