Gelisah di Tengah Arus: Kelas Menengah Digital dan Ketakutan Kehilangan Relevansi
Di suatu pagi yang cerah, seorang perempuan paruh baya duduk di sudut kedai kopi sambil menatap layar ponselnya dengan resah. Jemarinya bergerak cepat, menggeser satu demi satu unggahan di media sosial.
Wajahnya menampakkan kecemasan yang tak terucap. Ia bukan satu-satunya. Di seluruh dunia, jutaan orang dari kelas menengah mengalami perasaan yang sama: takut tertinggal, takut kehilangan relevansi, takut menjadi tidak berarti di tengah derasnya arus digital yang terus mengalir tanpa henti.
Era digital telah menciptakan sebuah fenomena yang menarik sekaligus mengkhawatirkan. Lebih dari 4,6 miliar pengguna media sosial di seluruh dunia pada tahun 2024 menghabiskan rata-rata 2 jam 16 menit setiap harinya di platform digital.
Angka ini bukan sekadar statistik; ia adalah cerminan dari bagaimana kita, terutama kelas menengah, telah mengintegrasikan dunia digital ke dalam setiap aspek kehidupan. Namun, di balik konektivitas yang luar biasa ini, tersembunyi sebuah paradoks yang menggelisahkan: semakin terhubung kita, semakin kesepian dan cemas kita rasakan.
Kelas menengah digital: mereka yang memiliki akses penuh terhadap teknologi, pendidikan yang memadai, dan kemampuan finansial untuk terus terhubung, kini menghadapi dilema eksistensial yang unik.
Dilema ini bukan tentang tidak memiliki akses, melainkan tentang ketakutan mendalam akan kehilangan posisi mereka dalam hierarki sosial yang semakin didefinisikan oleh kehadiran dan aktivitas digital.
Penelitian menunjukkan bahwa hampir 48% remaja di Amerika Serikat mengatakan media sosial berdampak negatif pada teman sebaya mereka, meningkat dari 32% pada tahun 2022. Ini bukan hanya tentang generasi muda, orang dewasa di kelompok usia menengah mengalami tekanan yang sama, bahkan mungkin lebih intens.
Ketakutan kehilangan relevansi ini memiliki akar yang dalam. Gautam Adani, dalam pidatonya yang menggugah, menyatakan bahwa setiap transisi teknologi besar membawa dua kekuatan yang berlawanan: peluang luar biasa dan kecemasan yang mendalam.
Ketakutan akan perpindahan, ketakutan akan ketidakrelevanan, ketakutan menyerahkan kendali pada sistem yang belum kita pahami sepenuhnya , ujarnya dengan tepat. Kelas menengah digital merasakan ketakutan ini dengan tajam karena mereka berada di posisi yang rentan: cukup terpelajar untuk memahami perubahan yang terjadi, namun tidak cukup kuat secara struktural untuk merasa aman dari dampaknya.
Fenomena Fear of Missing Out (FOMO) atau takut ketinggalan telah berevolusi menjadi sesuatu yang jauh lebih kompleks. Ini bukan lagi sekadar takut melewatkan pesta atau acara sosial, tetapi takut kehilangan peluang karier, koneksi profesional, pengetahuan terkini, dan bahkan identitas diri.
Kelas menengah digital hidup dalam tekanan konstan untuk terus memperbarui keterampilan, memperluas jaringan, dan mempertahankan visibilitas online mereka. Data menunjukkan bahwa 45% remaja mengaku menghabiskan terlalu banyak waktu di media sosial, meningkat dari tahun-tahun sebelumnya, dan pola ini juga terlihat pada orang dewasa. Lebih dari 40% dari mereka melaporkan bahwa penggunaan media sosial mengganggu produktivitas dan kualitas tidur mereka.
Tantangan yang dihadapi kelas menengah digital saat ini sangat beragam dan saling terkait. Pertama, ada tekanan untuk selalu tampil sempurna. Media sosial telah menciptakan panggung global di mana setiap orang merasa perlu menampilkan versi terbaik dari diri mereka.
Sebanyak 41% perempuan merasa tertekan untuk menampilkan diri mereka dengan cara tertentu di media sosial. Tekanan ini menciptakan siklus perbandingan sosial yang tidak sehat, di mana individu terus-menerus mengukur nilai mereka berdasarkan metrik digital: jumlah pengikut, likes, komentar, dan validasi virtual lainnya.
Kedua, ada ancaman nyata dari otomasi dan kecerdasan buatan. McKinsey Global Institute melaporkan bahwa sekitar 60% dari semua pekerjaan memiliki setidaknya 30% aktivitas yang secara teknis dapat diotomasi dengan teknologi yang tersedia saat ini.
Bagi kelas menengah yang banyak bekerja di sektor jasa dan profesional, ini bukan sekadar statistik abstrak, ini adalah ancaman eksistensial terhadap stabilitas ekonomi dan identitas profesional mereka. Ketakutan akan digantikan oleh mesin atau algoritma menciptakan kecemasan yang meresap dalam kehidupan sehari-hari.
Ketiga, ada masalah kesehatan mental yang semakin memburuk. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa remaja yang menghabiskan lebih dari tiga jam sehari di media sosial memiliki risiko dua kali lipat mengalami masalah kesehatan mental seperti kecemasan dan depresi.
Lebih mengkhawatirkan lagi, lebih dari 63% pengguna media sosial melaporkan perasaan kesepian, sebuah paradoks yang ironis di era hiperkonektivitas ini. Kelas menengah digital, yang sering menjadi pengguna paling aktif dari teknologi ini, menanggung beban kesehatan mental yang signifikan.
Keempat, ada fenomena yang oleh para psikolog disebut sebagai kecemasan ambien—stres tingkat rendah yang konstan dari selalu terhubung dan selalu tersedia.
Remaja menggambarkan perasaan tidak bisa sepenuhnya rileks karena seseorang mungkin mencoba menghubungi mereka, atau mereka mungkin melewatkan sesuatu yang penting.
Orang dewasa dari kelas menengah mengalami versi yang lebih intens dari kecemasan ini, ditambah dengan tekanan untuk merespons email kerja, mengikuti tren industri, dan mempertahankan kehadiran profesional mereka secara online.
Namun, di tengah semua tantangan ini, ada harapan. Solusi untuk mengatasi ketakutan kehilangan relevansi dan tekanan digital tidaklah sederhana, tetapi sangat mungkin dicapai. Yang pertama dan mungkin paling penting adalah kesadaran dan pendidikan digital.
Kita perlu mengajarkan literasi digital yang sejati—bukan hanya cara menggunakan teknologi, tetapi juga cara memahami dampaknya terhadap kesehatan mental, hubungan sosial, dan kesejahteraan keseluruhan.
Penelitian menunjukkan bahwa membatasi penggunaan media sosial hingga 30 menit per hari mengurangi kecemasan dan depresi sebesar 35%. Ini adalah bukti bahwa kontrol yang disengaja atas konsumsi digital kita dapat membuat perbedaan yang signifikan.
Solusi kedua adalah membangun kembali koneksi manusia yang autentik. Di era di mana lebih dari 210 juta orang di seluruh dunia diperkirakan mengalami kecanduan media sosial pada tahun 2025, kita perlu secara aktif menciptakan ruang untuk interaksi tatap muka yang bermakna.
Ini berarti menetapkan waktu bebas teknologi, menciptakan ritual keluarga dan komunitas yang tidak melibatkan layar, dan menghargai kualitas daripada kuantitas dalam hubungan sosial kita. Kelas menengah digital memiliki sumber daya dan pengetahuan untuk memelopori perubahan ini.
Solusi ketiga adalah mendefinisikan ulang ukuran kesuksesan dan relevansi. Kita perlu berani menentang narasi bahwa nilai kita ditentukan oleh visibilitas online, produktivitas tanpa henti, atau kemampuan untuk terus mengikuti setiap tren teknologi terbaru.
Relevansi sejati datang dari kontribusi yang bermakna, hubungan yang autentik, dan pertumbuhan pribadi yang berkelanjutan, bukan dari jumlah pengikut atau frekuensi posting di media sosial. Seperti yang diungkapkan oleh para ahli, sejarah telah berulang kali menunjukkan bahwa teknologi tidak menghancurkan pekerjaan; mereka mengubah peran dan memperluas kemungkinan.
Solusi keempat adalah mengembangkan keterampilan yang bersifat inheren manusiawi—kreativitas, empati, pemikiran kritis, dan kemampuan untuk beradaptasi. Sementara kecerdasan buatan mungkin dapat mengotomasi banyak tugas, kemampuan untuk berpikir secara kreatif, memahami nuansa emosional, dan membuat keputusan etis yang kompleks tetap menjadi domain unik manusia.
Kelas menengah digital harus berinvestasi dalam pengembangan keterampilan-keterampilan ini, bukan hanya untuk diri mereka sendiri tetapi juga untuk generasi mendatang.
Solusi kelima adalah praktik kesadaran dan perawatan diri yang konsisten. Penelitian menunjukkan bahwa orang yang melakukan detoksifikasi digital melaporkan tingkat kebahagiaan yang lebih tinggi dan kejelasan mental yang lebih baik.
Menonaktifkan notifikasi dapat mengurangi stres yang disebabkan oleh media sosial hingga 25%. Terlibat dalam hobi offline mengurangi efek negatif media sosial hingga 40%. Ini bukan tentang menolak teknologi sepenuhnya, tetapi tentang menggunakannya dengan cara yang melayani kesejahteraan kita, bukan sebaliknya.
Pada akhirnya, ketakutan kehilangan relevansi yang dialami oleh kelas menengah digital adalah refleksi dari transformasi sosial yang lebih luas. Kita hidup di masa transisi, di persimpangan antara dunia lama dan dunia baru, antara cara-cara tradisional untuk mendefinisikan nilai dan identitas serta paradigma digital yang masih terus berkembang. Ketakutan ini adalah manusiawi dan valid. Namun, kita tidak boleh membiarkannya melumpuhkan kita.
Kita harus mengingat bahwa relevansi sejati tidak pernah datang dari validasi eksternal atau metrik digital. Ia datang dari kemampuan kita untuk membuat perbedaan dalam kehidupan orang lain, untuk berkontribusi pada komunitas kita, untuk terus belajar dan berkembang, dan untuk tetap setia pada nilai-nilai kemanusiaan kita di tengah perubahan teknologi yang cepat.
Kelas menengah digital memiliki kesempatan unik untuk memimpin jalan menuju hubungan yang lebih sehat dan lebih seimbang dengan teknologi—untuk menunjukkan bahwa kita dapat memanfaatkan kekuatan transformatif digital tanpa kehilangan kemanusiaan kita dalam prosesnya.
Perjalanan ini tidak akan mudah. Akan ada momen keraguan, godaan untuk kembali ke pola lama, dan tekanan sosial untuk terus mengikuti arus. Tetapi dengan kesadaran, niat yang jelas, dukungan komunitas, dan komitmen terhadap kesejahteraan jangka panjang, kita dapat menciptakan cara baru untuk berada di dunia digital : cara yang memberdayakan daripada menguras, yang menghubungkan daripada mengisolasi, dan yang memperkaya kehidupan kita daripada mendominasi mereka.
Mungkin inilah yang kita butuhkan saat ini: teknologi yang benar-benar bekerja untuk kita, bukan sebaliknya. Teknologi yang melayani nilai-nilai kemanusiaan kita, bukan yang memaksa kita untuk menyesuaikan diri dengan logika algoritmanya. Kelas menengah digital memiliki kekuatan untuk menuntut dan menciptakan masa depan seperti itu. Saatnya kita menggunakan kekuatan itu.
Akhirnya, kita perlu memupuk empati lintas generasi. Digital bukanlah sekat yang memisahkan generasi; ia bisa menjadi jembatan jika digunakan untuk kolaborasi.
Generasi yang lebih muda bisa membantu kelas menengah memahami cara kerja platform baru, sementara pengalaman hidup dan jaringan profesional kelas menengah tetap menjadi aset bernilai tinggi. Ketika pengetahuan teknis bertemu pengalaman praktis, lahirlah ruang bagi inovasi yang inklusif.
Kisah kelas menengah digital adalah kisah yang lebih besar dari sekadar pasar atau teknologi , ini soal martabat manusia di era baru. Ketakutan kehilangan relevansi dapat diubah menjadi bahan bakar pembelajaran dan solidaritas, bukan bahan bakar kompetisi yang mengikis kebersamaan.
Jika kita menempatkan manusia di jantung transformasi digital , dengan keterampilan, kebijakan, dan empati yang tepat , maka relevansi bukan lagi sesuatu yang mengejar kita, melainkan sesuatu yang kita bentuk bersama.