Sebelum Kata Terakhir Terlupakan: Refleksi Hari Bahasa Ibu Internasional
“Satu bahasa menempatkan Anda di koridor kehidupan. Dua bahasa membuka setiap pintu di sepanjang jalan.” — Frank Smith, pakar linguistik dan penulis pendidikan
Ada momen yang paling lembut dalam hidup manusia, yakni ketika seorang ibu menyebut nama anaknya dalam bahasa yang hanya mereka berdua pahami sepenuhnya.
Bukan karena kata itu tidak ada terjemahannya, tetapi karena nadanya membawa sejarah, membawa tanah, membawa ingatan tentang siapa kita sesungguhnya.
Itulah bahasa ibu.
Bukan sekadar alat komunikasi, melainkan jantung dari identitas peradaban.
Setiap tanggal 21 Februari, dunia memperingati International Mother Language Day atau Hari Bahasa Ibu Internasional. Bagi banyak orang, mungkin ini hanya satu lagi tanggal dalam kalender. Namun di baliknya tersimpan kisah yang berdarah, gigih, dan penuh cinta terhadap kata-kata.
Sejarah peringatan ini berakar di Bangladesh, tepatnya pada 21 Februari 1952. Pada hari itu, sekelompok mahasiswa di Dhaka, yang kala itu masih menjadi bagian dari Pakistan Timur, turun ke jalan mempertahankan hak mereka berbicara dalam bahasa Bengali.
Pemerintah Pakistan saat itu memaksakan bahasa Urdu sebagai satu-satunya bahasa resmi negara, sebuah kebijakan yang terasa seperti pisau di tenggorokan bagi jutaan penutur Bengali. Para mahasiswa itu menolak.
Mereka berteriak dalam bahasa ibu mereka. Dan mereka ditembak. Abul Barkat, Rafiquddin Ahmed, Abul Barkat, Shafiur Rahman, dan Jabbar gugur di jalanan Dhaka , bukan karena mengangkat senjata, tetapi karena mempertahankan kata-kata mereka sendiri.
Pengorbanan itu tidak sia-sia. Pada 1999, UNESCO secara resmi menetapkan 21 Februari sebagai Hari Bahasa Ibu Internasional, yang kemudian pertama kali dirayakan secara global pada tahun 2000.
Sejak saat itu, setiap tahun dunia diajak berhenti sejenak : bukan hanya untuk merayakan keberagaman bahasa, tetapi untuk merenungkan berapa banyak bahasa yang sedang sekarat tanpa kita sadari.
Dan angkanya sungguh mencekam. Menurut data UNESCO, dari sekitar 7.000 bahasa yang ada di dunia saat ini, sekitar 43 persen terancam punah. Setiap dua minggu, satu bahasa menghilang bersama meninggalnya penutur terakhirnya.
Bersama bahasa itu, lenyap pula cara pandang unik terhadap semesta, kearifan lokal yang tak terdokumentasi, dan sepotong sejarah manusia yang tak akan pernah bisa dipulihkan.
Indonesia berdiri di titik yang paling kritis sekaligus paling kaya dalam konteks ini. Dengan 718 bahasa daerah yang tercatat , menjadikannya negara dengan keberagaman bahasa terbesar kedua di dunia setelah Papua Nugini , Indonesia sesungguhnya adalah perpustakaan hidup peradaban manusia. Namun perpustakaan itu sedang terbakar perlahan.
Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbudristek mencatat bahwa dari ratusan bahasa daerah tersebut, sebanyak 11 bahasa telah dinyatakan punah dan 25 bahasa lainnya berada dalam kondisi kritis.
Bahasa-bahasa dari wilayah Indonesia Timur , Maluku, Papua, Nusa Tenggara , menjadi yang paling rentan. Anak-anak generasi baru di wilayah itu kerap lebih fasih berbahasa Indonesia, bahkan bahasa Inggris lewat gawai mereka, dibandingkan bahasa leluhur yang telah hidup ribuan tahun di tanah tempat mereka dilahirkan.
Tantangan terbesar bukan datang dari kebijakan penguasa yang memaksa seperti tragedi 1952 di Dhaka. Tantangan hari ini jauh lebih halus dan karenanya jauh lebih berbahaya: ia datang dalam bentuk algoritma, layar sentuh, dan gengsi sosial.
Sebuah survei yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik pada 2020 menunjukkan bahwa hanya 20,69 persen penduduk Indonesia menggunakan bahasa daerah sebagai bahasa utama dalam kehidupan sehari-hari, turun signifikan dibandingkan dekade sebelumnya. Sementara itu, penggunaan bahasa Indonesia terus meningkat, dan penggunaan bahasa asing — terutama Inggris — melonjak tajam di kalangan generasi muda perkotaan.
Di media sosial, yang kini menjadi ruang utama ekspresi anak muda Indonesia, bahasa daerah nyaris tak terlihat. Konten berbahasa Jawa, Sunda, Bugis, atau Batak kalah bersaing secara algoritmik dengan konten berbahasa Indonesia atau Inggris yang lebih “universal.”
Platform digital, tanpa bermaksud jahat, secara sistematis meminggirkan bahasa-bahasa kecil. Orang tua yang masih fasih berbahasa daerah pun kerap memilih mengajarkan anaknya bahasa Indonesia atau Inggris demi “masa depan yang lebih baik” : sebuah keputusan yang bisa dipahami, namun meninggalkan luka yang tak kelihatan pada pohon silsilah budaya sebuah bangsa.
Namun di balik keprihatinan itu, Indonesia juga menyimpan semangat yang tidak boleh diremehkan. Berbagai inisiatif muncul dari akar rumput. Komunitas seperti Yayasan Suluh Nuswantara Bakti aktif mendokumentasikan bahasa-bahasa daerah yang terancam punah melalui rekaman audio dan kamus digital.
Pemerintah melalui Kemendikbudristek telah meluncurkan program revitalisasi bahasa daerah yang pada 2022–2023 menjangkau lebih dari 39 bahasa daerah di 13 provinsi. Di Bali, pelajaran bahasa Bali tetap menjadi muatan wajib dalam kurikulum sekolah, sebuah model yang seharusnya diadopsi lebih luas.
Solusinya tidak cukup hanya berupa kebijakan dari atas. Ia harus tumbuh dari kesadaran pribadi dan keberanian budaya. Pertama, digitalisasi bahasa daerah harus dipercepat, bukan sekadar mendokumentasikan, tetapi menciptakan konten kreatif yang menarik dalam bahasa daerah agar algoritma pun “belajar” mengenal dan mendistribusikannya.
Kedua, sekolah harus kembali menjadikan bahasa ibu bukan sebagai mata pelajaran tambahan yang membebani, melainkan sebagai jendela pertama anak untuk memahami dunia dan dirinya sendiri.
Ketiga, keluarga — terutama orang tua — perlu didorong untuk tidak merasa malu berbicara bahasa daerah di rumah. Karena rumah adalah tempat bahasa pertama kali belajar hidup.
Yang paling penting, kita perlu mengubah cara pandang. Menguasai bahasa daerah bukan berarti tertinggal zaman. Justru sebaliknya, penelitian dari Cambridge University Press menunjukkan bahwa anak-anak yang tumbuh dengan dua bahasa atau lebih memiliki kemampuan kognitif yang lebih fleksibel, lebih kreatif dalam pemecahan masalah, dan lebih empatik dalam memahami perspektif berbeda. Bahasa ibu bukan penghalang kemajuan. Ia adalah akar yang membuat pohon tidak tumbang ditiup angin globalisasi.
Hari ini, 21 Februari, adalah hari yang tepat untuk kita pulang.
Pulang ke kata-kata pertama yang pernah kita dengar.
Pulang ke nama yang disebut ibu kita saat kita menangis di tengah malam.
Pulang ke bahasa yang membawa kita, sebelum dunia mengajarkan kita menjadi orang lain.
Karena sebuah bangsa yang kehilangan bahasanya bukan hanya kehilangan kata-kata. Ia kehilangan cara untuk ingat siapa dirinya.