Catatan Dari Hati

(Narsis) : Bintang yang Tak Pernah Jatuh

Malam selalu punya caranya sendiri untuk membuat manusia merasa kecil.

Arga berdiri di tepi pantai, memandangi langit yang bertabur cahaya. Sejak kecil, ia percaya bahwa setiap orang punya satu bintang yang dititipkan Tuhan khusus untuknya. Bintang yang menyimpan doa, rindu, dan harapan.

Dulu, Raina yang mengajarkannya itu.

“Kalau suatu hari aku pergi jauh, lihatlah ke langit,” kata Raina sambil tersenyum. “Aku akan jadi bintang yang paling terang buat kamu.”

Arga waktu itu hanya tertawa. Baginya, kepergian hanyalah kata yang terlalu jauh untuk dipikirkan. Mereka masih muda, masih punya mimpi yang belum selesai, masih punya janji yang belum ditepati.

Namun hidup tidak selalu meminta izin sebelum merenggut sesuatu.

Kecelakaan itu datang seperti badai yang mematahkan musim semi. Raina pergi tanpa sempat berpamitan. Tanpa pesan terakhir. Tanpa kesempatan untuk Arga mengatakan bahwa ia sudah menabung cukup lama untuk membeli cincin kecil yang disembunyikannya di laci meja.

Sejak malam itu, Arga membenci langit.

Ia menutup jendela kamar, menarik tirai, dan memadamkan lampu lebih cepat dari biasanya. Ia tak ingin melihat bintang. Ia tak ingin percaya bahwa seseorang yang begitu hidup kini hanya tinggal cahaya jauh yang tak bisa disentuh.

Namun rindu selalu menemukan jalannya sendiri.

Suatu malam, listrik di rumahnya padam. Tak ada lampu, tak ada gawai, tak ada pengalih perhatian. Hanya gelap dan sunyi.

Dengan langkah berat, Arga keluar rumah, mencari udara.

Dan di sanalah ia—langit luas dengan ribuan bintang.

Arga mencoba mengalihkan pandangan, tetapi satu cahaya kecil seolah memanggilnya. Tidak paling besar, tidak paling mencolok. Namun entah mengapa, terasa paling dekat.

Dadanya sesak.

“Kalau kamu benar-benar di sana,” bisiknya lirih, “kenapa rasanya masih sesakit ini?”

Angin malam menyentuh wajahnya lembut, seperti tangan yang dulu sering mengusap pipinya ketika ia lelah. Ingatannya berkelindan: tawa Raina, caranya memanggil nama Arga dengan nada manja, mimpinya untuk membuka perpustakaan kecil di sudut kota.

Air mata yang lama tertahan akhirnya jatuh.

Dan untuk pertama kalinya sejak kepergian itu, Arga tidak merasa marah.

Ia merasa… ditemani.

Bukan karena Raina benar-benar menjadi bintang. Tapi karena cintanya belum pernah benar-benar pergi. Cinta itu masih hidup dalam kenangan, dalam mimpi yang pernah mereka rajut bersama, dalam keberanian untuk tetap melangkah meski hati terasa patah.

Arga tersenyum di sela tangisnya.

“Baiklah,” katanya pelan. “Aku akan lanjutkan mimpi kita.”

Hari-hari berikutnya tak lagi sama. Ia mulai membuka kembali jendela kamar. Ia membiarkan cahaya malam masuk. Ia menulis rencana, mengumpulkan buku-buku, menyisihkan gaji sedikit demi sedikit.

Beberapa tahun kemudian, sebuah perpustakaan kecil berdiri di sudut kota, dengan papan kayu sederhana bertuliskan: “Raina’s Star.”

Setiap malam, setelah perpustakaan tutup, Arga duduk di bangku depan, memandangi langit.

Ia tak lagi bertanya kenapa. Ia tak lagi menunggu jawaban.

Ia hanya tersenyum pada satu bintang kecil yang selalu terasa paling terang.

Karena ia tahu sekarang—

Ada cinta yang tak bisa digenggam,
namun tak pernah benar-benar hilang.

Dan selama ia masih berani bermimpi,
bintang itu tak akan pernah jatuh.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *