Catatan Dari Hati

Menjaga Asa di Setiap Struktur: 66 Tahun Nindya Karya Mengabdi untuk Negeri

Pada suatu hari di tahun 1960, di sebuah kantor Kementerian Pekerjaan Umum dan Tenaga Republik Indonesia yang masih muda, sebuah nama baru lahir ke dunia : Perusahaan Bangunan Nindya Karya.

Nama itu bukan sekadar rangkaian huruf. Ia adalah sebuah pernyataan: bahwa Indonesia, negara yang baru saja merebut kemerdekaannya dari tangan penjajah dan mewarisi puing-puing tatanan kolonial, kini siap membangun dengan tangannya sendiri.

Setahun kemudian, pada 11 Maret 1961, berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 59 Tahun 1961, Nindya Karya resmi ditetapkan sebagai Perusahaan Negara. Hari itu bukan hanya tanggal berdirinya sebuah institusi, namun hari itu adalah hari Indonesia memutuskan untuk percaya pada kemampuannya sendiri untuk membangun peradaban.

Kini, enam puluh enam tahun telah berlalu. Rambut-rambut baja itu telah memutih, beton-beton itu telah mengeras menjadi fondasi kehidupan jutaan orang.

PT Nindya Karya bukan lagi sekadar perusahaan konstruksi milik negara. Ia telah menjelma menjadi sebuah kisah manusia : kisah tentang insinyur-insinyur yang bekerja dalam terik matahari Sulawesi, tentang mandor-mandor yang menghitung waktu pengecoran di tengah hujan Kalimantan, tentang para perencana yang bermimpi soal jembatan dan bendungan yang akan mengubah nasib desa-desa terpencil di pelosok Nusantara.

Perjalanan Nindya Karya bermula dari sebuah ironi sejarah yang kaya makna. Cikal bakalnya adalah N.V. Nederlandsche Aannemings Maatschappij (NEDAM), sebuah perusahaan konstruksi Belanda yang pertama kali menginjak bumi Indonesia pada tahun 1921.

Ketika Republik Indonesia menegakkan keaulatan penuh dengan menasionalisasi perusahaan-perusahaan Belanda melalui Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 1958, NEDAM pun ikut dialihkan. Dari tangan asing ke tangan putra-putri bangsa sendiri , itulah esensi kelahiran Nindya Karya.

Warisan teknik dan pengalaman ratusan proyek peninggalan Belanda itu kemudian dipadukan dengan semangat kebangsaan, menghasilkan kombinasi yang tak ternilai.

Selama enam dekade lebih, Nindya Karya telah membangun Indonesia dari ujung barat Aceh hingga ujung timur Papua. Ia hadir dalam wujud Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno-Hatta yang kini masuk dalam jajaran Top 100 World Airports versi Skytrax 2024 sekaligus Top 5 Best Airports in Asia Pacific versi 18th Annual Readers’ Choice Awards 2025.

Ia hadir pula dalam keindahan Bandara Belimbingsari Banyuwangi yang terinspirasi filosofi Jawa dan berhasil meraih Aga Khan Award for Architecture 2022, penghargaan arsitektur paling bergengsi di dunia Islam.

Ia berdiri kokoh dalam bentuk Jembatan Sungai Sambas di Kalimantan Barat, menggunakan metode Telescopic Strutt yang menjadi yang pertama di Indonesia, meraih penghargaan inovasi tingkat nasional. Dan ia memantul lembut dalam cahaya gemilang The Meru Sanur di Bali, sebuah hotel yang masuk dalam daftar 100 hotel terbaik dunia versi Savour BlackBookAsia 2025.

Yang paling menyentuh hati, mungkin, adalah Kawasan Taman Kusuma Bangsa di Ibu Kota Nusantara , proyek yang merekam impian besar sebuah bangsa tentang masa depannya. Di sana, Nindya Karya membangun tiang bendera setinggi 79 meter yang pada tahun 2024 tercatat sebagai Rekor MURI sebagai konstruksi tiang bendera tertinggi di Indonesia.

Tiang itu bukan sekadar besi dan baja. Ia adalah simbol bahwa setelah 66 tahun membangun dari bawah, Nindya Karya kini turut mengangkat bendera bangsa ke tempat yang lebih tinggi.

Dalam lima tahun terakhir saja, rekam jejak Nindya Karya berbicara dengan lantang. Perolehan kontrak tumbuh dengan tingkat pertumbuhan tahunan gabungan (CAGR) sebesar 30,62 persen, dari Rp5,50 triliun pada 2021 melonjak hingga mencapai Rp20,92 triliun pada 2025. Pendapatan usaha juga tumbuh stabil dengan CAGR 9,52 persen, dari Rp5,76 triliun menjadi Rp9,07 triliun pada 2025. Semua data itu bukan sekadar angka di laporan keuangan : ia adalah cerminan kepercayaan yang diberikan bangsa kepada perusahaan ini untuk terus membangun.

Dalam lima tahun terakhir pula, Nindya Karya telah menyelesaikan lebih dari 200 proyek di berbagai segmen: 37 proyek ketahanan pangan termasuk Bendungan Pamukkulu di Takalar dan Bendungan Karalloe di Gowa, 40 proyek konektivitas termasuk ruas Tol IKN Segmen SP. Tempadung–Jembatan Pulau Balang dan LRT Jakarta Fase 1B, 23 proyek pendidikan termasuk Gedung Health Science Kampus A Universitas Airlangga, serta 15 proyek rumah sakit yang tersebar dari Sorong hingga Jakarta.

Yang terbaru dan paling menyentuh sisi kemanusiaan adalah keterlibatan Nindya Karya dalam pembangunan Sekolah Rakyat Tahap 2 di empat kabupaten di Sulawesi Selatan , sebuah proyek yang tak hanya membangun gedung, melainkan membangun harapan anak-anak dari keluarga kurang mampu untuk mengakses pendidikan berkualitas.

Nindya Karya yang berusia 66 tahun ini bukanlah perusahaan yang berdiam diri mengagumi masa lalunya. Ia terus bergerak, terus berinovasi. Sebesar 92 persen proses bisnisnya kini telah terdigitalisasi, mencakup sistem ERP terintegrasi dengan modul mulai dari pemasaran, pengadaan, keuangan, hingga sumber daya manusia, ditambah berbagai aplikasi pendukung seperti sistem pemantauan QHSE dan aset.

Inovasi NICAF (Nindya Carbon Footprint Counter for Building and Construction Work) menjadikan Nindya Karya sebagai perusahaan konstruksi pertama di Indonesia yang memiliki kalkulator jejak karbon sendiri : sebuah langkah kecil yang bermakna besar dalam perjalanan menuju pembangunan yang bertanggung jawab terhadap bumi.

Keberanian berinovasi itu pula yang melahirkan terobosan-terobosan teknis yang mengharumkan nama perusahaan di kancah nasional. Pemanfaatan Fly Ash dan Bottom Ash sebagai pengganti semen dengan komposisi 10 hingga 40 persen berhasil meraih penghargaan dari Ditjen Bina Konstruksi Kementerian PUPR.

Implementasi Beton Densitas Tinggi pada Gedung Proton Beam RSPAD Gatot Soebroto untuk mencegah kebocoran radiasi nuklir mengukuhkan Nindya Karya sebagai pionir konstruksi berteknologi tinggi di Tanah Air.

Sejak 2015, perusahaan ini telah mengumpulkan lebih dari 70 penghargaan di berbagai bidang, dari teknis, keselamatan kerja (HSE), tanggung jawab sosial (CSR), pengembangan sumber daya manusia, hingga teknologi informasi , ditambah 5 Rekor MURI atas karya-karya konstruksi terbaiknya.

Di balik semua pencapaian itu, di balik beton dan baja, terdapat manusia-manusia yang menjadi jiwa perusahaan ini. Figur-figur kepemimpinan handal dan teruji yang menahkodai Nindya Karya yang memahami bahwa membangun infrastruktur pada akhirnya adalah tentang membangun kehidupan.

Nindya Karya kini melangkah dengan tagline yang bukan sekadar slogan: Leading to Excellence. Sebuah undangan bagi seluruh organisasi untuk memimpin perubahan bersama, relevan dengan tantangan BUMN konstruksi masa kini yang menuntut tata kelola yang baik, kematangan dalam mengelola risiko, dan keberlanjutan jangka panjang.

Sebagai bagian dari Holding Danareksa yang dinaungi oleh Danantara Indonesia, Nindya Karya kini berdiri di persimpangan antara warisan dan masa depan. Struktur kepemilikan yang jelas : Pemerintah Republik Indonesia memegang 1 saham Seri A Dwi Warna, sementara PT Danareksa (Persero) memegang 5.949.999 saham Seri B dan C , menegaskan bahwa perusahaan ini adalah amanah rakyat yang harus dikelola dengan sepenuh hati dan sepenuh kemampuan.

Amanah itu tidak hanya berbentuk konstruksi fisik, tetapi juga dalam pengembangan sumber daya manusia yang dilakukan secara sistematis melalui Nindya Learning Center, pusat pengembangan kompetensi yang menjadi tulang punggung kapasitas 500 lebih karyawan.

Sertifikasi internasional yang dimiliki Nindya Karya membentang panjang: SNI ISO 9001:2015 untuk manajemen mutu, SNI ISO 14001:2015 untuk manajemen lingkungan, SNI ISO 45001:2018 untuk keselamatan dan kesehatan kerja, ISO 37001:2016 untuk manajemen anti penyuapan, ISO 19650:2018 Kitemark untuk implementasi BIM level 5, hingga ISO 37000:2021 untuk tata kelola, ISO 31000:2021 untuk manajemen risiko, dan ISO 37301:2021 untuk kepatuhan.

Deretan sertifikasi itu bukan sekadar pajangan di dinding kantor, namun ia adalah komitmen yang dinyatakan kepada dunia bahwa Nindya Karya membangun dengan standar tertinggi, dengan integritas, dan dengan tanggung jawab penuh kepada generasi yang akan mewarisi bangunan-bangunan itu.

Enam puluh enam tahun adalah usia yang matang. Ia bukan usia yang merasa sudah selesai, melainkan usia yang telah cukup berpengalaman untuk tahu bahwa perjalanan masih panjang.

Indonesia sedang dalam fase pembangunan yang paling ambisius dalam sejarahnya — Ibu Kota Nusantara, percepatan infrastruktur daerah terpencil, target ketahanan pangan, transisi energi, dan transformasi digital sektor publik. Di semua medan itu, Nindya Karya hadir bukan sebagai penonton, melainkan sebagai pembangun.

Di usia yang ke-66 ini, Nindya Karya memilih untuk menyatakan dirinya kepada dunia dengan tiga kata yang sarat makna: Leading to Excellence. Bagi sebagian orang, ini mungkin terdengar seperti frasa korporat biasa. Tetapi bagi siapa pun yang mengenal perjalanan panjang perusahaan ini, ketiga kata itu menyimpan kedalaman yang sungguh tak sederhana.

Leading  (memimpin) bukan berarti berjalan paling depan sambil meninggalkan yang lain di belakang. Dalam konteks Nindya Karya, memimpin berarti mengambil tanggung jawab penuh atas perubahan.

Ia berarti berani menjadi yang pertama: pertama menggunakan Metode Telescopic Strutt pada jembatan bertipe Network Tied Arch, pertama memiliki kalkulator jejak karbon untuk industri konstruksi, pertama mengimplementasikan Beton Densitas Tinggi yang terberat di Indonesia.

Memimpin juga berarti tidak menunggu perintah untuk berbuat baik : memimpin pembangunan Sekolah Rakyat, memimpin adopsi digitalisasi di saat banyak perusahaan masih ragu, memimpin perubahan budaya dari dalam organisasi sendiri. Kata leading dalam slogan ini adalah panggilan moral kepada setiap insan Nindya Karya: jadilah agen perubahan, bukan penunggu instruksi.

To — kata penghubung yang kecil namun bermakna besar. Ia menunjukkan bahwa keunggulan bukan titik awal, melainkan tujuan yang terus dikejar. Kata “to” menegaskan bahwa Nindya Karya tidak mengklaim dirinya telah sempurna , ia sedang dan akan terus berproses.

Inilah kerendahan hati yang sesungguhnya: sebuah perusahaan dengan lebih dari tujuh puluh penghargaan nasional dan lima Rekor MURI, yang tetap mau belajar, tetap mau berbenah, tetap mau mengakui bahwa selalu ada ruang untuk menjadi lebih baik lagi.

Dalam tradisi konstruksi, ini setara dengan prinsip bahwa sebuah struktur yang baik bukan hanya yang kuat menahan beban hari ini, tetapi yang mampu beradaptasi terhadap beban-beban tak terduga di masa mendatang.

Excellence — keunggulan — bukan tentang mengalahkan kompetitor. Keunggulan dalam jiwa Leading to Excellence adalah keunggulan yang lahir dari dalam: keunggulan rekayasa teknik yang menghasilkan bangunan tahan uji, keunggulan tata kelola yang bersih dari praktik korupsi dan penyuapan, keunggulan manusia yang berakhlak dan berkompeten, serta keunggulan komitmen terhadap bumi dan lingkungan yang akan diwariskan kepada anak cucu.

Ketika Nindya Karya menyebut excellence, ia tidak sedang berbicara tentang piala di lemari kaca. Ia sedang berbicara tentang standar hidup yang dijaga setiap hari di setiap proyek, di setiap keputusan, di setiap interaksi dengan pelanggan, mitra, dan masyarakat sekitar proyek.

Secara keseluruhan, Leading to Excellence adalah pernyataan identitas yang lengkap. Ia mengajak seluruh jajaran — dari Direktur Utama hingga pekerja di lapangan — untuk tidak sekadar hadir dalam pekerjaan, tetapi untuk memimpin dengan keteladanan dan menghasilkan karya terbaik tanpa kompromi.

Tagline ini muncul bukan di saat Nindya Karya sedang nyaman, melainkan di saat tantangan BUMN konstruksi Indonesia sedang berada pada titik paling kompleks: persaingan dengan kontraktor asing yang semakin agresif, tekanan efisiensi anggaran negara, tuntutan keberlanjutan lingkungan, dan kebutuhan transformasi digital yang tak bisa ditunda. Dalam konteks itulah, Leading to Excellence bukan sekadar semangat : ia adalah strategi bertahan sekaligus strategi berkembang.

Setiap jembatan yang berdiri adalah cerita tentang dua tepi yang akhirnya bisa saling menyapa. Setiap bendungan yang terisi air adalah cerita tentang sawah yang kembali hijau dan petani yang kembali tersenyum.

Setiap gedung rumah sakit yang selesai dibangun adalah cerita tentang ibu yang melahirkan dengan aman, tentang anak yang sembuh dari sakit, tentang nyawa yang terselamatkan.

Nindya Karya, dalam 66 tahun perjalanannya, telah menjadi bagian tak terpisahkan dari ribuan cerita seperti itu — cerita-cerita kecil yang bersama-sama membentuk kisah besar bernama Indonesia.

Selamat ulang tahun ke-66, PT Nindya Karya.

Teruslah membangun , bukan hanya gedung dan jalan, tetapi harapan dan martabat bangsa yang kita cintai bersama.

“Hal-hal besar dalam bisnis tidak pernah dilakukan oleh satu orang. Mereka dilakukan oleh sekelompok manusia.”Steve Jobs

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *