(Narsis) Di Ujung Hujan, Kita Belajar Melepaskan
Malam itu kota terasa lebih sunyi dari biasanya. Lampu-lampu jalan memantul di aspal basah, menciptakan bayangan panjang seperti kenangan yang tak mau pergi.
Di kamar sempitnya, Arga duduk di tepi ranjang, memutar lagu yang sama berulang-ulang—Akhir Rasa Ini.
Setiap baitnya seperti mengetuk pintu hati yang sudah lama ia kunci.
Ia ingat Lila sebagai tawa yang selalu datang lebih dulu sebelum kata-kata.
Sebagai pesan singkat di pagi hari, sebagai suara yang menenangkan saat dunia terasa terlalu berat.
Tapi waktu, lagi-lagi, tak pernah benar-benar memihak. Mereka tak bertengkar hebat, tak pula saling menyakiti dengan sengaja.
Rasa itu hanya lelah: lelah menunggu, lelah berharap.
Ponsel Arga bergetar. Satu pesan masuk, singkat dan ragu:
“Apa kamu masih mau bertemu?”
Arga menatap layar lama sekali.
Dulu, pesan seperti itu akan langsung ia balas tanpa pikir panjang. Kini, ada jeda yang panjang antara keinginan dan kenyataan.
Ia menekan tombol panggil sebelum keberanian itu kembali runtuh.
Mereka bertemu di halte lama, tempat yang dulu menjadi saksi janji-janji kecil tentang masa depan.
Lila berdiri di sana, rambutnya tertiup angin malam, matanya masih sama, penuh cerita yang tak pernah benar-benar selesai.
“Aku kangen,” kata Lila, jujur dan rapuh.
Arga tersenyum, tapi senyum itu tak lagi sampai ke hatinya. “Aku juga. Tapi rindu saja tidak cukup, ya?”
Lila terdiam.
Ia tahu jawaban itu. Mereka berdua tahu.
Ada perasaan yang tetap tinggal, namun tak lagi punya arah pulang.
Lagu di kepala Arga seperti terus memutar kalimat yang sama: tentang rasa yang akhirnya harus diakhiri, bukan karena benci, tapi karena terlalu banyak luka yang dibiarkan sembuh sendiri.
Ia menatap Lila, mencoba menghafal wajah itu untuk terakhir kalinya.
“Aku ingin kamu bahagia,” kata Arga. “Meski bukan denganku.”
Lila mengangguk, air mata jatuh tanpa suara.
Tidak ada pelukan panjang, tidak ada janji untuk kembali. Hanya dua orang yang belajar menerima bahwa cinta pun punya batas waktu.
Saat bus datang, Lila melangkah naik tanpa menoleh.
Arga berdiri sendiri, merasakan dingin malam menyentuh kulitnya. Anehnya, dadanya tak lagi sesak.
Ada sedih, tentu saja, tapi juga lega.
Ia menyadari sesuatu yang sederhana namun menyakitkan: kadang yang benar-benar berakhir bukan pertemuan, melainkan harapan.
Dan di akhir rasa itu, selalu ada ruang kecil untuk memulai, bukan dengan orang yang sama, tapi dengan hati yang lebih jujur pada dirinya sendiri.