(Narsis) Hati yang Memilih Menunggu
Ia selalu duduk di bangku paling ujung taman itu, tepat di bawah pohon flamboyan yang bunganya gugur seperti hujan kecil berwarna merah.
Setiap sore, pada jam yang hampir sama, ia datang, bukan untuk menunggu seseorang, melainkan untuk menjaga kenangan agar tidak sepenuhnya hilang.
Namanya tak pernah ia ucapkan lagi.
Bukan karena lupa, tetapi karena terlalu utuh untuk disebutkan.
Ada perasaan yang jika dilafalkan justru terasa seperti pengkhianatan terhadap keheningan yang telah lama ia rawat.
Dulu, mereka sering berjalan berdampingan di taman ini.
Tak banyak kata, tapi dunia terasa cukup. Ia ingat betul caranya tersenyum, senyum yang tidak berisik, tapi menetap lama di dada. Senyum yang membuatnya percaya bahwa cinta tidak selalu harus diumumkan, cukup dirasakan dan dijaga.
Namun waktu, seperti biasa, memilih jalannya sendiri.
Mereka berpisah tanpa pertengkaran, tanpa drama. Hanya jarak yang perlahan tumbuh, lalu menjadi tembok yang tak tahu cara diruntuhkan.
Ia tak pernah bertanya mengapa.
Ada cinta yang memang tidak menuntut penjelasan.
Kini, setiap sore, ia membawa rahasia itu sendirian.
Tentang rindu yang tidak pernah menua. Tentang doa-doa yang diam-diam ia sisipkan di antara napas. Tentang rasa yang tak berubah meski nama itu kini mungkin telah bahagia dalam hidup yang lain.
Ia tahu, mungkin ia tak akan pernah menjadi orang yang dipilih.
Tapi di lubuk hatinya, ia percaya: mencintai dengan tulus, meski tanpa memiliki, adalah bentuk keberanian yang jarang dimiliki banyak orang.
Saat matahari mulai tenggelam dan langit berwarna jingga, ia berdiri.
Sebelum melangkah pergi, ia menatap taman itu sekali lagi, lalu berbisik pelan: bukan untuk didengar siapa pun.
“Jika suatu hari kau merasa sendiri, ketahuilah… ada hati yang diam-diam selalu pulang padamu.”
Dan dengan itu, ia pergi, membawa rahasia hatinya: tetap utuh, tetap setia, tetap hidup.