Catatan Dari Hati

(Narsis) : Dua Cahaya di Satu Langit

“Cinta sejati bukan tentang siapa yang kita pilih untuk hidup bersamanya — melainkan siapa yang tidak sanggup kita bayangkan hidup tanpanya.”Kahlil Gibran

Hujan turun tanpa permisi malam itu. Rizal duduk di tepi jendela kamarnya, secangkir kopi hitam mendingin di tangannya, matanya menatap butiran air yang berlomba-lomba menyusuri kaca.

Di atas mejanya tergeletak dua lembar kertas : satu bertuliskan nama Serena, satu lagi bertuliskan nama Mira.

Bukan surat perpisahan, bukan pula surat cinta.

Hanya dua nama yang ia tulis berulang-ulang hingga penanya kehabisan tinta.

Rizal mengenal Serena sejak mereka sama-sama berdiri di antrian pendaftaran kuliah, dua belas tahun lalu. Serena adalah perempuan yang tertawa lebih keras dari siapapun di ruangan, yang selalu tahu kapan Rizal berbohong meski ia hanya diam, yang pernah menemaninya menangis di lorong rumah sakit saat ibunya menjalani operasi , tanpa berkata apa-apa, hanya menggenggam tangannya erat-erat sampai jam empat pagi.

Cinta mereka tumbuh seperti pohon tua: berakar dalam, penuh luka yang sudah sembuh menjadi lingkaran tahun, dan begitu kokoh hingga Rizal tidak bisa membayangkan kebun hidupnya tanpa pohon itu berdiri di tengahnya.

Tapi kemudian ada Mira.

Mira datang dua tahun lalu, ketika Rizal dan Serena sedang dalam masa yang ia sebut sebagai “musim kemarau” , bukan bertengkar, bukan pula bahagia, hanya dua orang yang hidup berdampingan dalam diam yang semakin tebal.

Mira adalah rekan kerjanya, perempuan yang berbicara tentang seni dan filsafat dengan mata berbinar, yang memperkenalkan Rizal pada film-film lama yang belum pernah ia tonton, yang membuatnya merasa , untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, bahwa ia masih muda, bahwa hidupnya masih bisa mengambil arah yang berbeda.

Rizal tidak merencanakan ini. Tidak ada yang pernah merencanakan hal semacam ini.

Yang paling menyiksanya bukan rasa bersalah itu sendiri , meski rasa bersalah itu nyata, menggigit, seperti duri yang tertancap di tempat yang tidak bisa dijangkau tangannya.

Yang paling menyiksanya adalah kenyataan bahwa ia tidak berbohong ketika ia berkata mencintai keduanya. Bukan cinta yang sama, bukan cinta yang bisa dibandingkan seperti dua angka.

Cintanya pada Serena adalah rumah : empat dinding yang tahu bentuk tubuhnya, lantai yang hafal langkah kakinya, atap yang tidak pernah protes meski ia kembali dalam kondisi paling hancur sekalipun.

Cintanya pada Mira adalah jendela di rumah itu : tempat cahaya masuk dari arah yang belum pernah ia bayangkan, tempat angin membawa bau halaman yang berbeda, tempat matanya melihat cakrawala yang terasa baru.

Bisakah seseorang mencintai rumahnya sekaligus jendela di rumah itu? Bisakah ia memiliki keduanya tanpa menghancurkan salah satunya?

Jawabannya ia temukan bukan dari pertanyaan yang ia ajukan pada dirinya sendiri, melainkan dari satu adegan kecil yang terjadi tiga hari setelah malam hujan itu.

Ia sedang berjalan melewati taman kota ketika melihat seorang anak kecil berlari mengejar layang-layang yang putus benangnya. Anak itu berlari sekuat tenaga, tertawa dan menangis sekaligus, dan layang-layang itu terus terbang semakin jauh. .

Seorang perempuan tua duduk di bangku taman, menatap anak itu dengan senyum yang sangat tenang.

“Biarkan terbang,” katanya kepada siapa pun yang mendengar. “Layang-layang yang paling indah memang yang tidak bisa digenggam.”

Rizal berdiri lama di sana setelah perempuan tua itu pergi.

Ia tahu apa yang harus ia lakukan.

Bukan karena ia berhenti mencintai Mira , ia tidak akan pernah bisa berhenti sepenuhnya, dan ia cukup jujur dengan dirinya untuk mengakui itu.

Tapi ada perbedaan antara mencintai sesuatu dan berhak memilikinya. Ada perbedaan antara rasa yang tumbuh di hati dan pilihan yang diambil oleh tangan.

Serena tidak pernah memintanya berjanji , tapi justru karena itu, janji yang tidak pernah diucapkan itulah yang paling berat untuk dilanggar.

Malam itu ia menelepon Mira.

Percakapan mereka berlangsung singkat — hanya dua belas menit — tapi keduanya menangis cukup lama sebelum mengatakan selamat tinggal.

Mira tidak marah. Mungkin karena ia pun tahu, sejak awal, bahwa ada sesuatu yang tidak bisa dimiliki sepenuhnya tidak peduli seberapa keras kita menginginkannya.

Setelah menutup telepon, Rizal masuk ke kamar dan duduk di sebelah Serena yang sudah setengah tertidur. Serena membuka matanya, menatapnya sebentar, lalu tanpa bertanya apa pun ia mengulurkan tangannya.

Rizal menggenggamnya erat , seperti pertama kali, seperti di lorong rumah sakit itu, seperti semua momen di antara keduanya yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata tapi terasa begitu nyata hingga ke tulang.

“Kamu baik-baik saja?” bisik Serena.

Rizal diam sebentar. Lalu menjawab dengan jujur, “Belum. Tapi aku akan baik-baik saja.”

Dan itu, untuk malam itu, sudah cukup.

***

Di luar jendela, hujan perlahan berhenti. Langit bersih seperti halaman buku yang baru dibuka.

Di suatu tempat di kota yang sama, Mira juga menatap langit itu : mungkin dari jendela apartemennya, mungkin dari atap gedung yang suka ia kunjungi ketika pikirannya terlalu penuh.

Dan di langit yang sama itu, tanpa saling tahu, keduanya melepaskan sesuatu yang sudah terlalu lama mereka genggam terlalu erat.

Tidak semua cinta berakhir dengan kebersamaan. Tidak semua kebersamaan dimulai dari cinta yang sempurna.

Di antara keduanya, ada wilayah yang lebih luas dan lebih sunyi , wilayah tempat manusia belajar bahwa mencintai seseorang tidak selalu berarti berhak atas hidupnya.

Rizal belajar itu malam itu. Dengan cara yang paling menyakitkan, sekaligus paling membebaskan.

“Pilihan terberat manusia bukan antara yang baik dan yang buruk — melainkan antara dua hal yang sama-sama terasa benar, namun hanya satu yang bisa ia bawa pulang.” Paulo Coelho

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *