Catatan Dari Hati

(Narsis) Di Ujung Jalan yang Ingin Kembali

Langit senja menggantung muram di atas terminal kecil kota itu. Angin membawa bau solar, debu jalanan, dan rindu yang terlalu lama dipendam. Di antara orang-orang yang datang dan pergi, Arga berdiri sendiri dengan tas tua di pundaknya, menatap papan keberangkatan yang berkedip redup.

Sudah sebelas tahun ia meninggalkan rumah.

Sebelas tahun mengejar hidup yang katanya akan membuat semuanya lebih baik.

Namun kota-kota besar ternyata pandai mengajarkan manusia cara bertahan, sekaligus perlahan mencuri hatinya sedikit demi sedikit. Arga pernah bekerja di pelabuhan, menjadi kuli bangunan, sopir malam, bahkan penjaga toko kecil yang tak pernah benar-benar memberinya tempat untuk pulang.

Yang tersisa kini hanya tubuh letih dan hati yang dipenuhi penyesalan.

Di sakunya tersimpan sebuah surat lusuh yang sudah berkali-kali dibaca hingga tintanya mulai pudar.

Surat dari Nayla.

Perempuan yang dulu selalu menunggunya di beranda rumah kayu dekat sawah.

Perempuan yang pernah menggenggam tangannya sambil berkata,
“Kalau suatu hari kau lelah dengan dunia, pulanglah. Aku akan tetap ada.”

Namun Arga terlalu keras kepala untuk percaya bahwa cinta bisa menunggu selama itu.

Ia memilih pergi.

Dan waktu berjalan tanpa meminta izin.

***

Bus malam mulai memasuki terminal. Mesin tuanya meraung pelan. Arga melangkah naik dengan dada berdebar aneh, seperti seorang anak kecil yang takut dimarahi ibunya setelah terlalu lama hilang.

Perjalanan menuju kampung memakan waktu hampir dua belas jam.

Sepanjang jalan, hujan kenangan turun di kepalanya.

Ia teringat wajah ayahnya yang diam saat melepas kepergiannya. Ibunya yang menyelipkan uang receh sambil menahan tangis. Dan Nayla… perempuan itu berdiri paling jauh, tapi matanya paling sulit dilupakan.

Arga memejamkan mata.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia merasa benar-benar ingin pulang.

Bukan karena gagal.

Bukan karena kalah.

Tetapi karena ia sadar, sejauh apa pun manusia berjalan, hatinya tetap akan mencari tempat di mana ia pernah dicintai tanpa syarat.

***

Pagi itu kampung masih sama.

Sawah membentang hijau. Pohon-pohon kelapa melambai pelan. Udara pagi terasa begitu asing sekaligus akrab.

Arga berjalan perlahan melewati jalan tanah yang dulu sering ia lewati bersama Nayla sepulang sekolah.

Namun langkahnya terhenti ketika melihat rumah kayu itu masih berdiri.

Dan di berandanya…

Seorang perempuan sedang menyiram bunga melati.

Nayla.

Rambutnya kini lebih panjang. Wajahnya lebih dewasa. Tetapi matanya masih sama—mata yang selalu membuat Arga merasa pulang bahkan sebelum sampai rumah.

Perempuan itu menoleh.

Ember kecil di tangannya jatuh begitu saja.

Mereka saling diam cukup lama.

Tak ada musik. Tak ada kata-kata dramatis. Hanya suara angin pagi dan jantung yang sama-sama berdebar menahan rindu bertahun-tahun.

“Aku pikir… kau tidak akan kembali,” suara Nayla lirih.

Arga tersenyum pahit.
“Aku juga sempat berpikir begitu.”

Nayla menahan air matanya.
“Kenapa sekarang?”

Arga menatap perempuan itu lama sekali, seolah takut kehilangan lagi.

“Karena akhirnya aku mengerti… ada tempat yang tak pernah bisa digantikan dunia.”

Nayla menangis kecil.

Dan untuk pertama kalinya setelah sebelas tahun yang melelahkan, Arga merasa seluruh perjalanan hidupnya berhenti di titik yang benar.

Ia melangkah mendekat.

Tidak ada pelukan tergesa. Tidak ada janji berlebihan.

Hanya dua manusia yang sama-sama terluka oleh waktu, lalu dipertemukan kembali oleh kerinduan yang tidak pernah benar-benar mati.

Di beranda rumah sederhana itu, Arga akhirnya memahami satu hal:

Kadang-kadang, cinta bukan tentang menemukan tempat baru untuk bahagia.

Tetapi tentang kembali… kepada seseorang yang sejak awal selalu menjadi rumah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *