Catatan Dari Hati

CINTA DAN JALAN PULANG TAK BERTEPI – BAGIAN KESEMBILANBELAS

Mereka bertemu keesokan harinya. Di Taman Situ Lembang.

Andini tiba lebih dulu. Made tiba tiga menit kemudian dan ketika ia melangkah masuk ke taman itu, inderanya langsung menangkap kehadiran Andini sebelum matanya menemukannya.

Bukan karena kemampuan yang ia gunakan dengan sengaja. Hanya karena setelah semua ini, ia seperti sudah terprogram untuk mengenali frekuensi itu di mana pun.

Ia duduk di ujung bangku. Mereka memandang danau.

“Sejak kapan?” tanya Andini. Suaranya tenang. Terlalu tenang.

“Sejak malam pertamaku di Jakarta. Aku tidak tahu kamu yang ada di seberang layar,” jawab Made jujur.

“Tapi setelah tahu?”

“Setelah tahu…” Made berhenti. “Aku takut. Aku mundur sebentar untuk berpikir.”

“Berpikir tentang apa?”

“Tentang apakah aku punya hak untuk kembali masuk ke hidupmu.” Made menatap danau. “Tentang sesuatu yang Putry katakan — bahwa aku tidak bisa membangun sesuatu di atas pondasi yang goyah.”

“Dan kemampuanmu?” tanya Andini pelan. “Kamu tidak bisa melihat bagaimana ini akan berakhir?”

Made menatapnya.

Andini balik menatap , langsung, tanpa mengelak. Di matanya ada pertanyaan nyata, bukan retorika.

“Tidak,” jawab Made. “Untuk kamu — tidak pernah. Kabut itu selalu ada. Selalu. Dari dulu, dari sekarang, mungkin sampai nanti.” Ia menghela napas. “Pak Hasan bilang itu karena cintaku padamu sudah terlalu dalam untuk dijangkau dari luar. Bahwa indera pre-kognisi tidak bisa menembus sesuatu yang sudah menjadi bagian dari struktur jiwa seseorang.”

Andini diam sebentar. Memproses kalimat itu.

“Jadi selama ini kamu mencari aku tanpa tahu bagaimana akhirnya?” katanya akhirnya. “Tanpa gambaran apapun?”

“Tanpa gambaran apapun,” konfirm Made. “Hanya keyakinan. Yang kadang terasa sangat tidak cukup.”

Ada sesuatu yang bergerak di wajah Andini , sesuatu yang halus, seperti lapisan es yang mulai retak dari dalam, bukan dari luar.

“Made,” katanya dengan suara yang lebih pelan dari sebelumnya. “Kamu tahu hal yang paling menyebalkan dari kamu?”

“Apa?”

“Kamu selalu punya alasan yang terdengar sangat mulia untuk melakukan hal yang sebenarnya kamu lakukan karena takut.”

Made memandangnya. Dan inderanya — yang sepanjang pagi sudah mencoba ia tahan — tanpa ia minta membisikkan sesuatu: bahwa kata-kata keras itu diucapkan bukan dengan kemarahan, tapi dengan sesuatu yang jauh lebih kompleks. Dengan rasa peduli. Dengan harapan yang sedang mencari bentuknya.

“Kamu benar,” katanya pelan.

“Aku tahu.”

“Aku memang takut.”

“Aku tahu itu juga.”

Mereka saling memandang. Dan Made, untuk pertama kalinya, memilih untuk tidak membaca apapun dari pandangan itu. Memilih untuk hanya hadir , sebagai manusia biasa, tanpa kemampuan apapun, tanpa jaring pengaman berupa gambaran masa depan.

Hanya dia. Hanya Andini. Hanya momen ini.

“Aku masih mencintaimu,” kata Made. Sederhana. Tanpa ornamen. “Dan aku tidak kemana-mana.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *