Catatan Dari Hati

Enam Puluh Tujuh Menit untuk Dunia: Merawat Api Mandela di Tengah Badai Ekonomi

“The heroes are those who make peace and build,” demikian pesan Nelson Mandela yang diabadikan Perserikatan Bangsa Bangsa sebagai ruh peringatan hari kelahirannya.

Pahlawan sejati, kata Mandela, bukanlah mereka yang pandai merusak, melainkan mereka yang sabar membangun dan merajut damai.

Kalimat itu terasa semakin relevan hari ini, Sabtu, 18 Juli 2026, ketika dunia kembali memperingati Hari Nelson Mandela Internasional di tengah situasi ekonomi global yang penuh ketidakpastian.

Sejarah peringatan ini bermula dari penghormatan dunia kepada seorang lelaki yang lahir di desa kecil Mvezo, Afrika Selatan, pada 18 Juli 1918. Nelson Rolihlahla Mandela menghabiskan 27 tahun hidupnya di balik jeruji penjara karena melawan politik apartheid, sistem pemisahan ras yang merendahkan martabat manusia.

Alih alih keluar dengan dendam, ia keluar dengan tangan terbuka, memimpin rekonsiliasi nasional, meraih Nobel Perdamaian 1993, lalu menjadi presiden kulit hitam pertama Afrika Selatan pada 1994.

Atas jejak panjang itu, Majelis Umum PBB pada November 2009 menetapkan 18 Juli sebagai Hari Nelson Mandela Internasional, dan peringatan pertamanya digelar pada 2010.

Setiap tahun, warga dunia diajak menyisihkan 67 menit untuk berbuat baik bagi sesama, sebagai simbol 67 tahun pengabdian Mandela kepada kemanusiaan.

Tahun ini, sebagaimana diumumkan Pemerintah Afrika Selatan, peringatan mengusung tema yang menggetarkan sekaligus menggugah: “It’s still in our hands to combat poverty and inequity”, masih di tangan kitalah perjuangan melawan kemiskinan dan ketimpangan itu berada.

Tema tersebut bukan sekadar slogan. Ia lahir dari kenyataan yang pahit. Laporan terbaru Bank Dunia mencatat sekitar 831 juta manusia masih hidup dalam kemiskinan ekstrem pada 2025, bertahan dengan pengeluaran kurang dari 3 dolar AS per hari, dan sekitar 412 juta di antaranya adalah anak anak.

Sementara itu, mesin ekonomi dunia justru melambat. Dalam pembaruan World Economic Outlook edisi Juli 2026, Dana Moneter Internasional memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global hanya 3,0 persen tahun ini, tertekan oleh perang di Timur Tengah, harga energi yang bergejolak, serta laju penurunan inflasi yang tersendat.

Ketika dunia sibuk berhitung soal senjata dan tarif dagang, kaum papa di berbagai belahan bumi berhitung soal apakah besok masih bisa makan.

Indonesia berdiri di persimpangan cerita itu dengan bekal yang patut disyukuri sekaligus diwaspadai.

Kabar baiknya, Badan Pusat Statistik melaporkan tingkat kemiskinan nasional pada September 2025 turun menjadi 8,25 persen, setara 23,36 juta jiwa, berkurang sekitar 490 ribu orang dibanding Maret 2025.

Ekonomi nasional juga tumbuh 5,04 persen pada kuartal ketiga 2025, dan menurut Antara, pertumbuhan kuartal keempat 2025 bahkan tercatat tertinggi sejak pandemi. Namun di balik angka yang membaik, wajah ketimpangan masih menganga.

Lebih dari separuh penduduk miskin, sekitar 12,32 juta jiwa, terkonsentrasi di Pulau Jawa, sementara garis kemiskinan rumah tangga kini menembus Rp3,05 juta per bulan, angka yang terasa berat bagi jutaan keluarga pekerja informal.

Data BPS juga mencatat 7,46 juta orang masih menganggur per Agustus 2025, dengan tingkat pengangguran terbuka 4,85 persen dan rata rata upah buruh hanya Rp3,33 juta. Yang paling menyayat, pengangguran usia muda 15 sampai 24 tahun mencapai 16,89 persen.

Di sinilah tantangan terbesar kita ke depan: gelombang pemutusan hubungan kerja di sektor industri, tekanan harga pangan dan energi akibat gejolak dunia, serta anak anak muda yang berbondong memasuki pasar kerja namun belum tentu disambut lapangan pekerjaan yang layak.

Lalu apa yang bisa kita lakukan? Mandela mengajarkan bahwa perubahan besar selalu dimulai dari keberanian orang biasa. Dalam konteks Indonesia, solusinya sesungguhnya sudah mengakar dalam budaya kita sendiri: gotong royong.

Pertama, negara perlu memastikan perlindungan sosial benar benar tepat sasaran, dari bantuan pangan hingga program makan bergizi bagi anak sekolah, agar setiap rupiah anggaran menjadi jembatan keluar dari kemiskinan, bukan sekadar penahan lapar sesaat.

Kedua, penciptaan lapangan kerja harus berpihak pada usaha mikro, kecil, dan menengah yang menampung mayoritas pekerja kita, lewat kemudahan modal, pendampingan, serta akses pasar digital.

Ketiga, anak muda mesti dibekali keterampilan yang sesuai kebutuhan zaman, dari literasi digital hingga kecakapan vokasi, agar bonus demografi tidak berubah menjadi beban demografi.

Keempat, dan ini yang paling dekat dengan keseharian kita sebagai warga digital, mari jadikan media sosial sebagai ladang kebaikan.

Gerakan 67 menit ala Mandela bisa diterjemahkan menjadi 67 menit mengajar anak kurang mampu, 67 menit menggalang donasi daring untuk keluarga prasejahtera, atau sekadar 67 menit membagikan informasi lowongan kerja dan peluang beasiswa.

Di tangan jutaan pengguna internet Indonesia, kebaikan kecil yang viral bisa lebih kuat daripada kebijakan besar yang mandek.

Peringatan Hari Nelson Mandela Internasional 2026 pada akhirnya bukan tentang mengenang seorang tokoh, melainkan tentang menagih janji pada diri sendiri. Dunia boleh melambat, harga boleh melonjak, tetapi kepedulian tidak boleh ikut resesi.

Setiap kita, dari pejabat hingga pelajar, dari pengusaha hingga pengemudi ojek daring, memegang sepotong kunci untuk membuka pintu keadilan sosial. Sebab seperti diingatkan Mandela sendiri dalam pesan yang dikutip Pemerintah Afrika Selatan, “It is in your hands to make our world a better one for all”, di tanganmulah dunia yang lebih baik bagi semua itu diwujudkan, terutama bagi mereka yang miskin, rentan, dan terpinggirkan. Selamat Hari Nelson Mandela Internasional. Mari mulai dari 67 menit hari ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *