Merawat Diri di Tengah Badai: Nyala Kecil yang Menjaga Kita Tetap Manusia
“Merawat diriku sendiri bukanlah bentuk memanjakan diri, melainkan sebuah upaya mempertahankan diri, dan itu adalah bentuk perlawanan,” tulis Audre Lorde, penyair dan aktivis yang menulis kalimat itu justru ketika tubuhnya sedang berjuang melawan kanker.
Kalimat sederhana namun dalam itu terasa begitu relevan ketika dunia kembali memperingati International Self Care Day setiap 24 Juli, tanggal yang sengaja dipilih karena simbol 24/7, sebuah pengingat bahwa merawat diri bukan aktivitas sesekali, melainkan komitmen yang berjalan sepanjang hari, sepanjang minggu, sepanjang hidup.
Perayaan ini lahir dari gagasan International Self-Care Foundation pada tahun 2011, sebuah yayasan kemanusiaan berbasis di Inggris yang ingin mendorong masyarakat dunia menempatkan perawatan diri sebagai fondasi kesehatan, bukan pelengkap semata. Jejak sejarahnya bahkan lebih tua dari itu.
Sejumlah catatan menunjukkan bahwa akar gagasan perawatan diri sebagai bentuk penghormatan pada tubuh dan jiwa tumbuh sejak gerakan hak sipil tahun 1950-an, ketika para aktivis kulit hitam di Amerika mengangkat perawatan diri sebagai cara bertahan di tengah tekanan sosial yang berat.
Momentum ini terus tumbuh, hingga pada 2014 Senat Amerika Serikat secara resmi mengakui 24 Juli sebagai International Self-Care Day, dan pada 2019 Organisasi Kesehatan Dunia turut menetapkan Self-Care Month yang berlangsung dari 24 Juni hingga 24 Juli.
Dari gerakan kecil, perawatan diri kini menjelma menjadi gerakan global yang menyentuh jutaan orang di berbagai benua.
Namun peringatan tahun ini datang di tengah situasi yang tidak mudah. Dunia sedang bergulat dengan ketidakpastian ekonomi yang belum juga mereda, dan Indonesia turut merasakan getarannya.
Data terbaru menunjukkan Indeks Keyakinan Konsumen nasional terus melemah sepanjang paruh pertama 2026, dari titik 127 pada Januari turun menjadi 120,9 pada Mei, sinyal bahwa masyarakat semakin ragu terhadap masa depan ekonomi mereka sendiri.
Gelombang pemutusan hubungan kerja, deflasi yang berulang, serta melemahnya daya beli menjadi catatan berat yang masih membayangi hingga kini, sementara Bank Indonesia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi nasional 2026 berada di kisaran 4,9 hingga 5,7 persen dan berupaya menjaga inflasi tetap pada rentang 2,5 plus minus 1 persen agar harga kebutuhan pokok tidak semakin membebani rumah tangga.
Tekanan ekonomi semacam ini jarang berdiri sendiri. Ia merembes ke ruang batin masyarakat, membentuk kecemasan yang sunyi namun nyata. Survei Gallup World Poll menunjukkan sekitar 15 persen orang dewasa Indonesia mengaku mengalami stres pada hari sebelumnya, sementara laporan lain mencatat tingkat stres publik Indonesia berada di peringkat tujuh se-ASEAN dengan empat sumber utama tekanan yaitu pekerjaan, keuangan, hubungan sosial, serta kesehatan dan keamanan.
Generasi muda tampak paling rentan. Nielsen Youth Report mencatat 64 persen anak muda Indonesia usia 18 hingga 25 tahun merasa tidak tahu arah hidupnya, meski mereka tumbuh di tengah kemudahan akses pendidikan dan teknologi.
Kabar baiknya, kesadaran mulai bergeser. Survei Kementerian Kesehatan bersama Katadata Insight Center menemukan 72 persen masyarakat urban Indonesia kini menganggap kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik, dan empat dari sepuluh responden mengaku pernah berkonsultasi ke psikolog atau mengikuti kegiatan perawatan diri dalam setahun terakhir.
Situasi ini menghadirkan tantangan yang tidak sederhana ke depan. Ketika harga kebutuhan pokok naik dan pekerjaan terasa makin tidak pasti, banyak orang menomorduakan kesehatan mental dan fisiknya, menganggap perawatan diri sebagai kemewahan yang bisa ditunda.
Padahal justru pada masa sulit itulah tubuh dan jiwa paling membutuhkan perhatian. Tantangan lain datang dari media sosial, ruang yang seharusnya menjadi sumber edukasi kesehatan justru kerap menumbuhkan budaya membanding-bandingkan diri, memicu kecemasan baru di atas kecemasan lama akibat tekanan ekonomi.
Kesenjangan akses layanan kesehatan mental antara kota besar dan daerah juga masih lebar, sementara biaya konsultasi psikolog belum terjangkau bagi sebagian besar masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah.
Meski demikian, harapan tetap terbuka lebar, dan Indonesia memiliki modal sosial yang kuat untuk menjawab tantangan ini. Gotong royong, kebiasaan berkumpul, serta kedekatan komunitas bisa diubah menjadi kekuatan perawatan diri yang kolektif, bukan sekadar urusan individu yang mahal.
Layanan konsultasi psikologi berbasis daring dengan tarif terjangkau perlu terus diperluas hingga ke kota kecil, sementara puskesmas dapat diberdayakan sebagai titik pertama layanan kesehatan jiwa yang murah dan dekat dengan warga. Perusahaan dan tempat kerja pun perlu didorong menghadirkan ruang istirahat psikologis bagi karyawan, mengingat tekanan pekerjaan menjadi salah satu sumber stres terbesar.
Di sisi digital, kreator konten dan praktisi media sosial memegang peran penting untuk mengubah arah percakapan publik, dari budaya pamer dan bandingkan menjadi ruang saling menguatkan, membagikan cara-cara sederhana menjaga kesehatan jiwa tanpa harus mengeluarkan biaya besar seperti berjalan kaki, tidur cukup, bercerita dengan orang terdekat, atau sekadar berhenti sejenak dari gawai.
Pemerintah, lembaga pendidikan, dan keluarga juga perlu bergandengan tangan menanamkan literasi kesehatan mental sejak dini, agar generasi muda tidak lagi merasa sendirian menghadapi ketidakpastian masa depan.
Perawatan diri sejatinya bukan pelarian dari kenyataan yang berat, melainkan bekal untuk terus melangkah menghadapinya. Ketika ekonomi bergejolak dan masa depan terasa kabur, merawat diri menjadi cara paling manusiawi untuk tetap waras, tetap berdaya, dan tetap mampu merawat orang-orang di sekitar kita.
Seperti pesan yang ditinggalkan Eleanor Brown, “istirahat dan perawatan diri itu penting, sebab ketika kita meluangkan waktu mengisi kembali jiwa kita, kita jadi mampu melayani orang lain dari kelimpahan, bukan dari kekosongan, karena kita tidak bisa memberi dari wadah yang telah kering.”
Selamat memperingati Hari Perawatan Diri Internasional, semoga kita semua belajar untuk lebih dulu pulang dan berbaik hati kepada diri sendiri, sebelum melangkah merawat dunia di luar sana.