Author Archives: Amril Taufik Gobel

jm1020 tahun silam, Jepang menjadi negara diluar Indonesia pertama yang saya kunjungi lebih dari sehari. Ketika itu saya mengikuti pelatihan yang diadakan Matsushita Electric Corporation selama satu bulan di salah satu fasilitas produksi mereka di Kyoto. Saya masih ingat saat mendarat di Bandara International Kansai November 1996, saya terkagum-kagum pada interior ruangannya serta kecanggihan teknologi yang dimiliki hingga kemudian dalam beberapa kali kesempatan libur, saya menyempatkan diri mendatangi sejumlah lokasi wisata dan kebudayaan Jepang yang ada di Osaka. Eksotisme kental budaya Jepang yang terlihat dari kesenian tradisional, bangunan-bangunan tua serta pernak-pernik yang menyertainya sungguh sangat mengesankan.

Ketika mengunjungi salah satu kuil tua, saya takjub tidak hanya pada ukiran atau ornamen khas yang ada pada beberapa dinding serta gapura namun juga konsistensi masyarakat Jepang dalam memelihara cagar budaya mereka tersebut dengan baik dan rapi. Interaksi antar manusia yang berbeda latar belakang adab dan perilaku juga berjalan harmonis. Selama sebulan penuh saya mengikuti pelatihan disana, saya menjumpai banyak pengalaman menarik dan penuh kenangan indah dalam menjalin persahabatan dengan kawan maupun pengajar training kami yang berasal dari Jepang.

Saat acara Jak-Japan Matsuri 2016 digelar tanggal 3-4 September 2016 di parkir timur Senayan Jakarta, saya tidak melewatkan kesempatan untuk mengunjungi festival persahabatan kebudayaan Indonesia-Jepang tersebut bersama putra sulung . Tentu tak sekedar mengulang kenangan saat ke Jepang namun juga merasakan kembali nuansa budaya negeri matahari terbit itu dalam suasana kekinian.

Read More…

1620559skkhess-unjungpangkah-jatim-1204-46-780x390780x390-57dd2f264df9fd554a5c8a7c

“Investasi Hulu Migas kita sudah diambang kehancuran,” demikian keluh kawan saya, seorang praktisi migas dalam sebuah diskusi di sebuah gerai kopi di Cilandak. Tatap matanya terlihat suram, sembari menyeruput kopi cappuccinonya yang hampir tandas, ia mengangkut bahu dan menunjukkan raut muka kecewa.

“Harus ada langkah-langkah yang drastis, progresif dan berani dari para pemangku kepentingan di negeri ini agar industri hulu migas kita kembali bergairah. Kalau tidak, maka tunggu saja, ketidakpastian berusaha pasca harga minyak dunia turun drastis kian mendorong industri hulu migas kita makin tak berdaya ,”tukasnya lantang dan bersemangat.

Saya mencermati perbincangan tersebut dan mencoba melihat lebih jernih situasi aktual sesungguhnya investasi di sektor industri hulu migas nasional. Jika iklim investasi industri hulu migas tidak dijaga secara kondusif, maka negeri ini akan mengalami derita darurat energi yang makin parah.

Antisipasi Darurat Energi

Saya tiba-tiba teringat pernyataan mantan wakil ketua BP Migas DR Abdul Muin pada kesempatan acara Focus Group Discussion bidang energi yang diadakan oleh IKA Unhas Jabodetabek 2 tahun silam di ruang Agung Business Center Hotel Sultan .  Dengan lugas beliau menyajikan sejumlah fakta krisis energi yang telah menghadang dunia dan Indonesia didepan mata.

“Darurat energi sudah dekat. Ketersediaan Migas kita kian menipis, Dengan Kondisi Produksi Minyak yang terus menurun secara permanen, sementara Konsumsi Minyak terus meningkat, maka Defisit Pasokan Minyak akan semakin melebar sehingga kontribusi Defisit Anggaran dari Impor Minyak akan semakin membengkak dari sekitar 29 Milyar US Dollars (2015) menjadi sekitar 68,7 Milyar US Dollars (2025),”kata beliau dengan nada prihatin.

“Kondisi Krisis Minyak ini akan semakin diperparah oleh beban Subsidi BBM dan Listrik yang juga terus meningkat. Apakah Kebijakan SubsidiI ini akan dipertahankan? Ketahanan Energi kita sudah terancam! Menimbulkan “multiplier effect” terhadap Kondisi Ekonomi, Sosial Politik dan Ketahanan Nasional secara menyeluruh kedepan”, tambah praktisi migas yang memiliki pengalaman birokrasi dan Internasional, serta pernah bertugas di OPEC ini.

“Situasi tersebut”, imbuh pria yang sebagian besar rambutnya sudah memutih ini,”tidak berlangsung seketika. Faktor fundamental sebagai penyebab dari situasi tersebut antara lain, yang pertama, selama beberapa dekade ini Indonesia tidak memiliki Kebijakan Pengelolaan Energi Strategis yang komprehensif dan terpadu. Yang kedua, tidak adanya suatu Perencanaan Jangka Panjang yang memadai, workable, konsisten berkelanjutan dan berimbang dengan kepentingan publik lainnya dan yang ketiga Kebijakan dari berbagai Departemen masih bersifat sektoral, terlalu berorientasi kepada target jangka pendek, tumpang tindih dan lemah koordinasinya”.

Setelah menghela nafas panjang, DR.Abdul Muin menyatakan, “Upaya untuk mengatasi Subsidi dan Krisis BBM saja akan semakin berat kedepan (dan akan dihadapi oleh Kabinet siapapun) sementara opsi solusi tentunya akan sangat membebani rakyat banyak, dan akan menjadi kebijakan yang tidak “Populer”.

Dalam Situasi “Krisis”, Keberanian untuk mengambil keputusan yang tegas (sekalipun tidak populer) akan dapat dimaklumi rakyat banyak apabila dibarengi dengan sikap Keprihatinan (Penghematan Anggaran, Efisiensi Konsumsi dll) serta tekad dan contoh keteladanan dari para Elite Pemerintah & Politisi untuk memberantas Korupsi dan Tekad berbenah”.

Investasi Hulu Migas kian terasa urgensinya pada situasi menghadapi krisis energi saat ini.  Namun sayangnya, sebagaimana diungkap oleh Kepala Humas SKK Migas, Taslim Z. Yunus dari tautan Kompas.com, iklim investasi yang tidak ramah di sektor hulu migas terlihat dari kurangnya penemuan cadangan baru yang signifikan. Padahal, tanpa adanya penemuan cadangan baru dalam skala besar, Indonesia dibayangi gangguan kemandirian energi.

1110460skk-migas-780x390780x390-57dd2aaf969373316d2c783e

Iklim investasi yang kurang kondusif juga terlihat dari rendahnya minat investor mengikuti lelang wilayah kerja (WK) migas yang dilakukan pemerintah setiap tahun. Penawaran 8 WK migas di 2015 tidak berhasil menetapkan pemenang. Lelang yang tidak laku menunjukkan Indonesia kurang atraktif bagi investor. Indikator lain terlihat dari lamanya jeda waktu antara penemuan cadangan sampai dengan produksi. Dari tahun ke tahun, jeda waktu antara penemuan cadangan dengan produksi semakin lama, yakni antara 8-26 tahun.

“Sebagai contoh, Blok Cepu ditemukan pada 2001, namun puncak produksi baru pada 2016,” kata Taslim.

Solusi Progresif

Menyikapi kondisi aktual yang ada, berbagai solusi progresif ditawarkan. Memperbaiki  iklim usaha eksplorasi migas seperti dengan meninjau dan menghapuskan izin, pengawasan, serta pajak bumi dan bangunan yang tidak masuk akal misalnya merupakan solusi dari sisi regulasi. Pemerintah sepatutnya memberi ruang yang lebih leluasa bagi perusahaan-perusahaan lokal Indonesia untuk berkontribusi secara aktif mendukung sektor migas nasional melalui kemudahan dan simplifikasi  regulasi birokrasi yang lebih ringkas serta praktis. Simplifikasi perizinan menjadi hal yang sangat penting diperhatikan untuk menjamin kelancaran proses eksplorasi.

Guna mewujudkan rencana tersebut, tentunya diharapkan koordinasi dan sinergi yang strategis antar semua pemangku kepentingan dibidang migas Melakukan review terhadap kegiatan penginderaan (seismik) yang telah ada menjadi solusi teknis yang bisa dilakukan. Penginderaan tambahan di lokasi-lokasi baru maupun reinpretasi hasil-hasil penginderaan sebelumnya dilakukan secara masif dan terukur. Keduanya mensyaratkan penggunaan teknologi terkini untuk memperbesar kemungkinan keberhasilan pada masa eksplorasi/produksi. Hasil kegiatan ini harus senantiasa divalidasi secara cermat khususnya untuk memprediksi potensinya di masa depan. Selain itu rela mengandalkan modal asing dengan skema sharing risk dan sharing benefit bisa menjadi pilihan strategis. Persepsi nasionalisme yang sempit justru akan tidak banyak menolong ketika industri hulu migas dibangun dengan kekuatan modal besar.

Sementara itu, disaat yang sama investasi Pertamina didalam wilayah kerjanya harus diintensifkan dengan dana dari Pertamina sendiri baik internal maupun obligasi. Dana dengan memanfaatkan penundaan pembagian deviden juga layak dipertimbangkan. Pengambil alihan WKP yang dikelola oleh PSC (Production Sharing Contractor) asing dilakukan secara bertahap dan taktis sejak 3-5 tahun sebelum masa pengelolaan berakhir.

Hal ini untuk menghindari resiko biaya dan penguasaan teknologi utamanya untuk perawatan dan pemahaman operasi. Pertamina harus segera menggunakan teknologi EOR secara masif dan memastikan bahwa  Peralatan produksinya harus selalu prima, dilain pihak Kemampuan analisis G&G Pertamina harus ditingkatkan serta Sisipan SDM professional dari pasar untuk mempercepat peningkatan mutu SDM Pertamina.

1112260skkmigas-infografis1-780x390780x390-57dd2ea9d69373f84a995f37Mendukung kegiatan eksplorasi untuk menambah cadangan dengan cara memberikan insentif dan perbaikan tata kelola migas, terutama yang mendorong kegiatan-kegiatan eksplorasi di daerah frontier dan berisiko tinggi perlu dilakukan. Keberpihakan pemerintah dalam penyediaan teknologi terkini serta permodalan dalam manufacturing lokal dan lahan untuk berdirinya sentra-sentra fabrikasi yang bisa menyaingi kemampuan fabrikasi di Korea maupun Singapore harus disokong bersama dari seluruh stake holder di bidang investasi hulu migas.

Disarankan pula agar Pertamina membentuk unit keahlian khusus untuk management proyek yang beraksentuasi pada aktivitas perancangan dan pelaksanaan proyek yang lebih baik/cepat dan berakuntibilitas tinggi. Tenaga ahli untuk ini harus dari tenaga ahli nasional mengingat kemampuan merancang/melaksanakan proyek migas nasional dari skala kecil hingga skala besar dan lebih kompleks melibatkan tenaga ahli nasional. Standar acuan pelaksanaan proyek yang khas Pertamina harus dihasilkan pada tahap pertama pembentukan unit khusus tersebut.Dengan pembentukan unit/divisi khusus ini diharapkan Pertamina dapat menghasilkan proyek-proyek yang berkualitas, tepat waktu, tepat sasaran dan efiesien dalam pembiayaan.

Penerapan e-commerce untuk produk-produk barang/jasa yang sudah teruji akan mempercepat proses pengadaan di bidang migas dan mereduksi potensi kolusi dalam proyek pengadaan. Di saat yang sama tentunya ini akan membantu produk-produk lokal.  Selain itu upaya transparansi tata kelola migas baik regulator maupun operator harus dilaksanakan untuk menghindari kerugian yang lebih besar. Meretas Harapan Saya melihat masih ada kesempatan buat kita untuk meretas harapan dalam investasi hulu migas nasional dengan merujuk uraian yang sudah saya sampaikan sebelumnya.  Bahkan, berdasarkan informasi yang dipaparkan disini , Tahun ini pemerintah kembali menawarkan wilayah kerja minyak dan gas bumi  (WK migas). Sebanyak 15 WK migas ditawarkan melalui lelang yang diumumkan akhir Mei lalu. Di tengah krisis harga minyak, konsep baru ini diharapkan dapat menarik investor melakukan eksplorasi di Indonesia.

Pada saat mengumumkan lelang, Direktur Pembinaan Usaha Hulu Migas Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Djoko Siswanto mengatakan konsep baru memungkinkan investor mengajukan penawaran bagi hasil migas (split) dan nilai minimal bonus tanda tangan (signature bonus). Sebelumnya, pemerintah menetapkan split dan nilai minimal signature bonus yang sudah pasti. Sedangkan pada konsep baru, pemerintah terlebih dahulu menyusun perkiraan tingkat keekonomian (owner estimate) yang diinginkan.

Selanjutnya, investor yang berminat dapat mengajukan penawaran split dan signature bonus yang terbaik menurut mereka. Pemerintah akan memilih penawaran terbaik dengan mengacu pada batasan owner estimate yang telah ditetapkan. Model investasi hulu migas dengan konsep anyar ini setidaknya menerbitkan harapan baru karena Skema ini mengoptimalkan penerimaan negara sekaligus melindungi negara dari risiko bisnis hulu migas. Pada situasi penuh ketidakpastian sekarang, memang dibutuhkan strategi yang lebih cerdas dan tepat dalam hal investasi di bidang hulu migas.

Tak salah apa yang diungkapkan oleh Lou Gerstner, orang yang berhasil melakukan corporate turnaround pada IBM ketika perusahaan itu mengalami krisis. Ia mengatakan “Transformation of an enterprise begins with a sense of crisis or urgency” . Perubahan lanskap bisnis yang tidak menentu seyogyanya mendorong kita untuk lebih kreatif mengidentifikasi persoalan dan mencari solusi yang cerdas, terukur serta menguntungkan agar tidak jatuh terpuruk lebih dalam. Ini jauh lebih berarti ketimbang terus mengeluh seakan tak ada jalan keluar dari setiap masalah yang dihadapi.

CruOkf7UsAA7TBjHari Rabu, 7 September 2016, saya menyempatkan diri hadir dan memenuhi undangan untuk mengikuti peluncuran layanan perbankan Citi Priority dari Citibank bertempat di Hotel Kempinski, Jl.MH.Thamrin, Jakarta. Saya hadir agak telat karena meeting dulu sebelumnya dengan client dan saya gembira bisa bertemu lagi disana dengan beberapa rekan blogger seperti Nunik Utami, Fajar.H.Subais, Teddy Rustandi dan lain-lain. Setelah melakukan registrasi, saya diberikan sebuah kartu specimen Citi Priority yang didalamnya ada QR Code untuk mengakses voucher potongan harga dari beberapa merchant e-commerce.

Read More…

017298900_1465898467-WhatsApp-Image-20160614

017298900_1465898467-WhatsApp-Image-20160614Tepat pada peringatan hari Kemerdekaan Indonesia ke-71,  saya mengajak isteri dan kedua anak saya menonton film “3 Srikandi” arahan sutradara dan juga rekan sesama blogger Iman Brotoseno. Seusai ananda Alya sukses melakukan tugasnya sebagai Paskibra serta sang kakak Rizky mengikuti upacara bendera di sekolahnya, kami pun berangkat menuju studio XXI Mega Bekasi. Saya sengaja mengajak kedua anak saya menonton film ini pada momentum perayaan hari Kemerdekaan agar mereka ikut belajar dari pengalaman serta perjuangan 3 Srikandi dalam mencapai impiannya dengan semangat nasionalisme yang menyala-nyala. Semuanya dicapai melalui latihan serta kerja keras yang konsisten.

Tiba di XXI Mega Bekasi, ternyata antrian penonton begitu panjang meski kami datang satu jam sebelum pertunjukan dimulai. Dalam hati saya cemas apakah bisa mendapatkan tiket di tempat favorit kami. Untunglah,kami mendapat tempat duduk yang  diinginkan di Studio 10 XXI untuk pertunjukan pukul 12.45 siang. Saya cukup takjub, hampir seluruh kursi penonton terisi yang menunjukkan antusiasme masyarakat Indonesia untuk menonton!.

Read More…

DSCN9659 (Copy)
Cuaca malam Makassar begitu bersahabat, saat saya tiba di lobi hotel Clarion, Minggu (10/7). Malam itu bertempat di Auditorium Sandeq merupakan acara puncak kegiatan reuni nasional alumni Fakultas Teknik UNHAS Makassar yang digelar dengan tajuk”Rindu Kampus 2016″. Setelah melakukan registrasi saya bergabung bersama kawan-kawan alumni Teknik 1989 dari berbagai jurusan. Ada yang bahkan datang jauh-jauh dari benua lain, seperti Mustofa yang kini bekerja dan berdomisili di Arab Saudi. Alumni Teknik Elektro yang kebetulan mudik ini, disambut hangat oleh kami semua yang lama tak berjumpa.

Read More…

 

13606708_10154303853488486_2772341003600163124_nSatukan Langkah..

Rentangkan Cita..

Kita Membangun Nusa dan Bangsa..

Dibawah Panji Fakultas Teknik, Universitas Hasanuddin..

Demikian penggalan lagu mars Teknik Unhas yang dinyanyikan penuh semangat sembari mengepalkan tangan ke atas oleh sekitar 1000 orang alumni Fakultas Teknik Unhas yang berasal dari berbagai Angkatan dan Jurusan yang hadir dalam acara “Rindu Kampuz” di tepi danau kampus Unhas Tamalanrea, Minggu (10/7). Saya yang berada di tengah-tengah euforia itu mendadak terharu dan ikut menyanyikan lagu yang pertama kali saya kenal saat mengikuti OPSPEk 1989 tersebut dengan gegap gempita.

Read More…

13327412_10206057752106074_1279066362221472898_nJudul Buku : 60 Fakta Kesehatan Mutakhir

Karya : Prof.Taruna Ikrar, M.Pharm, MD, PhD

Editor : S.Alam Dettiro & Syahrir Rasyid

Penerbit : IKA Unhas Jabodetabek

Cetakan : Pertama, Mei 2016

Tebal : 302 halaman

ISBN : 978-602-74609-0-4

Pencetak : PT.Semesta Rakyat Merdeka

Gembira rasanya saya mendapatkan buku ini secara langsung saat momen peluncurannya pada hari Rabu malam, 1 Juni 2016 di Auditorium Gedung BPPT Jln.M.H.Thamrin, Jakarta. Kegembiraan itu terasa lebih lengkap lagi ketika sang penulis, Prof.DR.Taruna Ikrar, M.Pharm, MD, PhD yang ternyata juga adalah senior saya di penerbitan kampus “Identitas” Unhas menorehkan tandatangannya di buku yang saya beli itu. “Terimakasih sudah beli bukunya ya, semoga bermanfaat,” katanya seraya tersenyum ramah bahkan melayani ajakan saya untuk berfoto bersama.

Read More…

Surga-MenantiFilm “Surga Menanti” saya tonton bersama keluarga dua pekan silam di Cinemaxxtheatre Orange County Cikarang. Sebuah film yang sudah kami sekeluarga tunggu setelah melihat promosi trailernya di salah satu kanal media sosial. Setelah membeli tiketnya secara online, kami bergegas menuju bioskop yang hanya berjarak 3 km dari rumah kami itu.

Adalah seorang remaja bernama Dafa (Syakir Daulay) yang memiliki cita-cita yang mulia untuk menjadi seorang Hafizh Qur’an dengan mengikuti pelajaran disebuah pesantren. Sayangnya, keinginannya tak bisa terwujud, Dafa mengalami ujian berat yang membuatnya harus meninggalkan kawan-kawannya di Pesantren.

Oleh Dokter , Sang ibu, Humaira (Umi Pipiek Dian Irawati) divonis menderita leukimia akut. Sang ayah, Yusuf (Agus Kuncoro) memohon kepada Dafa untuk pulang dan menemani ibunya yang tengah dalam keadaan kritis. Dafa akhirnya kembali ke rumah dan pindah bersekolah di kampungnya. Babak baru kehidupan Dafa pun dimulai, ia mesti menjaga sang ibu, sekaligus meraih cita-citanya sebagai penghafal Al Qur’an yang handal. Dan semua itu tak mudah. Beragam hambatan ia hadapi termasuk cobaan berat menjelang ia menghadapi pertandingan berskala nasional yang menguji dan menjajal kemampuannya membaca Al Qur’an.

Read More…

3d436042-4695-4798-8eea-28646246f7c8

06427c1d-5e29-42bc-9398-daf8ec00fea4 Setelah mengarungi kemacetan panjang akhir pekan, saya akhirnya tiba juga di Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jum’at malam (13/5). Di tempat ini saya akan menyaksikan pentas “I La Galigo, Asekku!” persembahan IKA UNHAS Jabodetabek. Ini adalah pementasan hari kedua, konon pada pementasan perdana sehari sebelumnya, penonton sempat membludak memenuhi ruang teater tersebut. Saya melirik jam, dan ternyata sudah pukul 20.00 WIB artinya saya sudah terlambat setengah jam dari jadwal semula. Read More…

065982000_1456807275-super_didi_2

065982000_1456807275-super_didi_2

Hari Sabtu, 23 April 2016, kami sekeluarga menonton film “Super Didi” di XXI Botani Garden Bogor. Film bergenre komedi ini mendadak mengingatkan saya pada aktifitas saya dulu sebagai “Papi Sitter” saat mengasuh kedua buah hati saya Rizky dan Alya (bisa baca kisahnya disini dan disitu). Menggantikan peran ibu sementara dalam menjaga anak-anak, memang tak mudah dan tentu saja perlu berlapis-lapis kesabaran untuk dapat memenuhi serta mengatasi keinginan anak-anak secara bijak.

Read More…

April 2017
M T W T F S S
« Feb    
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930

Profil di LinkedIn

Arsip

My Karaoke @ SoundCloud

Kicauanku di Twitter

Iklan

Creative Commons License

Lisensi Creative Commons
ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-NonKomersial-BerbagiSerupa 3.0 Tanpa Adaptasi. Silakan anda mengambil atau mengutip sebagian maupun seluruh isi blog ini asalkan jangan lupa mencantumkan sumber asli tulisannya. Terimakasih atas pengertian anda

Recent Comments

    My Instagram

    Good Reads Book Shelf

    Amril's books

    Nge-blog Dengan Hati
    3 of 5 stars
    Blogisme ala Ndoro Kakung Judul Buku : Ngeblog Dengan Hati Penulis : Wicaksono “Ndoro Kakung” Editor : Windy Ariestanty Penerbit : Gagas Media, Terbitan : Cetakan pertama, 2009 Jumlah Halaman : 142 Di ranah blog Indonesia, nama N...

    goodreads.com

    Page Rank Checker

    Free Page Rank Tool Pagerankchecker.com — Check your Pagerank Website reputation
    Alexa rank,Pagerank and website worth
    Powered by WebStatsDomain
    Blog

    Live Traffic Feed

    badge