SURAT CINTA TERBUKA UNTUK ISTRIKU (Refleksi 13 Tahun Usia Pernikahan)

Posted 20 Apr 2012 — by
Category Kisahku

Istriku sayang,

Sudah beberapa hari, peringatan tahun ketigabelas usia pernikahan kita berlalu. Kesibukan mempersiapkan perhelatan syukuran khitanan anak sulung kita, Rizky, telah begitu banyak menyita waktu dan kesempatan untuk sekedar menuliskan catatan rutin sederhana ini buatmu.  Sebagaimana setiap tahun aku membuatkan surat cinta terbuka tepat di perayaan ulang tahun perkawinan kita, maka saat ini aku menuliskan kembali surat serupa. Entahlah, mungkin saja kamu akan jenuh membaca berulang-ulang ungkapan cinta dan kalimat yang sama substansinya pada tiap surat yang kupersembahkan, tiap tahun, secara gombal dan bersahaja.

Mungkin saja kamu akan menanggapinya dengan bibir nyengir (yang, entahlah membuatku selalu gemas melihatnya) atau tersenyum penuh pesona (yang, sungguh mati, bisa membuat jantungku senantiasa berdegup tidak karuan sama seperti pertama kali jumpa denganmu).

Biarlah. Biar saja. Apapun bentuk dan rupa ekspresimu, aku tetap akan menulis surat ini kepadamu. Tidak sebatas sebagai tanda cinta, tetapi menjadi sebuah upaya sistemik menandai setiap interaksi kita sejak mengucap ikrar pernikahan 10 April 1999, dengan ungkapan cerita penuh makna dan kenangan.

Istriku sayang,

Sudah 156 purnama kita lalui. Dan aku mendadak teringat, ketika kita menyaksikan bulan purnama bulat bundar bersinar lembut dirangka langit pertengahan bulan lalu dari teras rumah mungil kita.

“Bulan yang indah, semoga kita akan selalu menikmati cahayanya. Selalu. Bersama,” katamu pelan sambil menggenggam erat jemariku. Senyum manis tersungging di bibirmu.

Aku mengangguk dan merasakan kesejukan mengalir di setiap kapiler rasa dalam tubuhku. Dan kebahagiaan meruap ke segenap semesta. Tak terlerai.

Kupeluk pundakmu dan kita berdendang kecil lagu yang kita senangi : Yen In Tawang ono Lintang.

Yen ing tawang ana lintang, cah ayu [jika dilangit ada bintang,cah ayu ]

aku ngenteni tekamu [aku menanti hadirmu]

marang mega ing angkasa [kepada awan di langit]

ingsun takokke pawartamu [Aku menanyakan kabarmu ]

Janji-janji aku eling, cah ayu [semua janji aku ingat]

sumedhot rasane ati [terputus rasanya hati ]

lintang-lintang ngiwi-iwi, nimas [bintang-bintang mengoda aku, nimas]

tresnaku sundhul wiyati [cintaku tak berbatas, setinggi langit]

Dhek semana janjiku disekseni mega kartika [Semenjak itu janjiku di saksikan awan bintang]

kairing rasa tresna asih [teriring rasa cinta kasih]

Yen ing tawang ana lintang, cah ayu [jika dilangit ada bintang, cah ayu]

rungokna tangising ati [dengarkan rasa terdalam hatiku]

binarung swarane ratri, nimas [resapi suara diwaktu malam hari]

ngenteni mbulan ndadari [ menunggu bulan purnama]

Entahlah, disebabkan kekuatan apa yang membuatku sampai berusaha sekuat tenaga menghafal lagu ini. Aku ingat kamu seringkali terkikik geli sambil menutupi mulutmu ketika aku salah menyanyikan lagu lawas yang diciptakan Anjar Any itu. Tantanganmu ini memang sungguh berat, terutama untukku yang sudah terbiasa dengan logat daerah yang berbeda.

Aku mendadak tersadarkan, kita seringkali melupakan momen-momen “biasa” namun indah dan mengesankan karena terlalu sering tenggelam pada masalah-masalah, pertanyaan-pertanyaan atau peristiwa-peristiwa besar. Dan malam itu, menyanyikan kembali lagu ini bersamamu, dengan cahaya lembut purnama menghiasi langit, bersama anak-anak kita di beranda, aku merasakan kehidupan ini kian terasa lengkap dan penuh semangat. Bersamamu.

Tawa anak kita yang lepas saat melihatku bernyanyi terbata-bata serta raut wajah gemasmu mengajarkanku kembali bait demi bait syair lagu tersebut, aku jadi tahu, betapa penting dan dashyatnya kebersamaan ini sebagai pilihan titik takdir kita. Menyaksikan Alya menari dan Rizky dengan gayanya yang lucu menggoda adiknya menyadarkanku bahwa kedua buah hati kita ini menjadi bagian integral semesta kebahagiaan.

Tiba-tiba aku ingat pertanyaan seorang filsuf terkemuka Walter Benjamin “kenapa kita seringkali tak bisa menikmati waktu, tak bisa menikmati hidup ?”. Ia menjawab bahwa karena kita bagaikan jarum jam dalam arloji. Setiap saat terus berputar, mengitari angka-angka. Melewati tempat dan angka yang sama. Berulang. Terus menerus. Rutin. Sama seperti yang kita lakukan sendiri hingga kemudian lupa memaknai apa yang telah kita kerjakan. Padahal ada begitu banyak momen-momen kecil, sederhana, remeh dan nyaris tersisihkan yang sesungguhnya memiliki makna besar bagi setiap jejak perjalanan kehidupan.

Dan saat ini, di peringatan Ulang Tahun Pernikahan kita ke-13, kita berusaha untuk tidak menjadi jarum dalam arloji. Kita mengambil jeda sejenak. “Berhenti”. Berkontemplasi. Introspeksi dan berkaca pada cermin diri. Kemudian memahami lebih dalam makna setiap perjalanan serta bagaimana kita mengelolanya, dengan maupun tanpa rasa perih atau kehilangan. Semua menjadi pelajaran berharga untuk menentukan kiprah selanjutnya.

Istriku sayang,

Bersamamu. Bersama anak-anak.. Kita telah saling menggenapi segala makna atas perjalanan kehidupan. Aku mensyukuri segala anugerah dan nikmat yang tercurah dari Allah SWT, menyusuri detik demi detik, tahun demi tahun dalam suka dan duka. Terimakasih atas segala kasih sayang dan cinta yang telah terpatri indah mulai dari peristiwa-peristiwa kecil pada jejak langkah kita. Kelak, kita akan selalu berhenti sejenak, tak sekedar “melambat” dari roda rutinitas, tapi berupaya memahami keberadaan, menyentak ruang kesadaran dan mengevaluasi harapan juga mengamati keindahan sekeliling untuk kemudian terus maju dengan optimis.

Perjalanan masih panjang dan tentu tak mudah, istriku. Dan semoga kebersamaan kita, selalu langgeng dan aku akan senantiasa merindukan binar bola matamu yang teduh laksana purnama, menyanyikan lagu itu dengan syahdu dan menggetarkan…

Yen ing tawang ana lintang, cah ayu [jika dilangit ada bintang, cah ayu]

rungokna tangising ati [dengarkan rasa terdalam hatiku]

binarung swarane ratri, nimas [resapi suara diwaktu malam hari]

ngenteni mbulan ndadari [ menunggu bulan purnama]

Catatan:

Baca Surat Cinta Terbuka yang lain disini 

7 Comments

  1. so romantis. . .

    Reply
  2. wiss romantiss :)
    semoga langgeng selamanya..

    Reply
  3. kisah romantis yang tak akan pernah bisa tuk dilupakan.

    semoga saya juga bisa cepat2 punya kisah romantis seperti bapak ^_^

    Reply
  4. Ohh…cinta mengalir dalam titahnya, hingga jarum jam harus terhenti dgn kiprah cinta itu. Selamat pak, kami yg muda2 ini mesti banyak belajar bagaimana membangun rumah tangga yang begitu bijaksana dan penuh kasih serta cinta. (dari cinta dan untuk cinta).

    sekali lagi selamat, rahmat, berkah, dan segala kebaikan dari Allah senantiasa tercurahkan pada keluarganya, amin ya rabbil alamin.

    Salam cinta.

    Reply
  5. hiks…hikss…

    terharu! terharu!
    *padahal bukan buat saya loh

    :’)

    Reply
  6. Selain romatisme,

    Surat ini membuat saya sadar dan kemudian menyadari bahwa di dalam hidup kita mesti senantiasa bersyukur telah diberikan pasangan dan putra-putri yang hebat. Mereka bukan hanya anugerah tapi lebih dari itu, mereka adalah bagian dari hidup kita.

    Thank’s untuk value yang disampaikan.

    NB: Saya sahabat dari Pak Nuralim Karsono sahabat bapak saat kuliah dulu.

    Reply
  7. sribuna

    wah pak amril ternyata romantis benar :))

    Reply


Add Your Comment