(Narsis) : Kita Pernah Sebegitu Yakin
Aku masih menyimpan pesan terakhirmu.
Bukan untuk dibaca ulang, tapi untuk mengingat bahwa pernah ada kita yang begitu yakin akan selamanya.
Kita bertemu tanpa rencana. Di ruang yang sederhana, dengan percakapan yang awalnya biasa saja.
Tidak ada petir, tidak ada tanda-tanda besar dari semesta.
Hanya dua orang yang merasa nyaman.
Dan kadang, kenyamanan adalah awal dari segala hal.
Kau pernah berkata, “Kalau nanti kita sampai di titik sulit, jangan pernah menyerah dulu, ya.”
Aku mengangguk waktu itu. Penuh percaya diri.
Karena siapa yang mengira bahwa titik sulit itu akan datang dan menguji janji kita sendiri?
Awalnya hanya perbedaan kecil. Waktu yang tak lagi cocok. Prioritas yang berubah. Mimpi yang mulai bergerak menjauh satu sama lain.
Kita tetap mencoba tersenyum, tetap memaksakan tawa, tetap berkata bahwa semuanya baik-baik saja.
Padahal kita sama-sama tahu, ada yang retak.
Aku melihatmu berubah.
Bukan menjadi orang lain, tapi menjadi versi dirimu yang tak lagi menemukan tenang saat bersamaku. Dan itu menyakitkan: bukan karena kau pergi, tapi karena aku tak lagi menjadi tempatmu pulang.
Malam itu, saat kau mengatakan ingin berhenti, aku tidak menangis. Aku hanya diam.
Diam yang terlalu lama.
Di dalam kepalaku, semua kenangan berlari seperti film lama: tanganmu yang selalu mencari tanganku, caramu menyebut namaku dengan nada yang hanya kau punya, rencana-rencana kecil tentang rumah sederhana yang pernah kita impikan.
Aku ingin bertanya, “Apa kurangku?”
Tapi aku sadar, cinta bukan soal kurang atau lebih. Kadang hanya soal waktu yang tidak lagi sejalan.
“Aku nggak mau kita saling menyakiti lebih jauh,” katamu pelan.
Dan di situlah aku mengerti. Bertahan hanya akan membuat cinta berubah menjadi beban. Aku tak ingin menjadi alasan kau merasa terperangkap.
Maka untuk pertama kalinya, aku memilih mencintaimu dengan cara berbeda.
Aku mengangguk.
Bukan karena aku tidak peduli.
Tapi karena aku peduli terlalu dalam.
Melepasmu bukan berarti aku kalah.
Melepasmu adalah bentuk keberanian yang paling sunyi.
Setelah kau pergi, hari-hariku terasa kosong. Tapi perlahan aku belajar bahwa kehilangan bukan akhir dari segalanya.
Ia hanya ruang kosong yang suatu hari akan diisi oleh versi diri yang lebih kuat.
Kita pernah sebegitu yakin.
Dan itu cukup.
Karena tidak semua cinta harus berakhir di pelaminan.
Sebagian hanya ditakdirkan untuk mengajarkan kita bagaimana cara tumbuh… meski dengan hati yang patah.
Dan jika suatu hari kita bertemu lagi, aku ingin kita tersenyum tanpa beban.
Sebagai dua orang yang pernah saling mencintai dengan sungguh-sungguh, lalu saling merelakan dengan penuh hormat.
Sebab kadang, cinta yang paling tulus adalah cinta yang tahu kapan harus berhenti.