(Narsis) Kita Yang Ditinggikan Oleh Kata
Mereka tidak pernah benar-benar duduk berdampingan dalam satu ruang.
Tidak pernah saling menggenggam tangan di bangku taman.
Tidak pernah menatap mata satu sama lain cukup lama untuk tahu warna paling jujur dari kesedihan.
Namun mereka saling mengenal lewat kata.
Aruna pertama kali membaca tulisannya di sebuah kolom kecil yang tersembunyi di sudut internet, tentang hujan yang tak pernah salah waktu, tentang rindu yang memilih diam agar tidak merusak bahagia orang lain.
Tulisan itu sederhana, tapi seperti mengetuk bagian terdalam yang tak pernah ia buka untuk siapa pun.
Nama penulisnya: Bima.
Aruna mengirim pesan. Pendek saja.
“Tulisanmu seperti rumah. Hangat.”
Bima membalas beberapa jam kemudian.
“Terima kasih sudah mampir.”
Sejak hari itu, mereka tidak pernah benar-benar berhenti berbincang.
Mereka membicarakan hal-hal yang tak pernah mereka ceritakan pada orang terdekat: tentang ayah Aruna yang terlalu cepat pergi, tentang Bima yang selalu merasa kurang di tengah pencapaian orang lain.
Mereka saling menguatkan tanpa suara. Saling memeluk tanpa tubuh.
Bima pernah berkata,
“Andai dunia bisa sesederhana paragraf, kita tak perlu takut salah mengartikan.”
Aruna tertawa lewat layar.
“Kalau begitu, jangan pernah berhenti menulis untukku.”
Dan begitulah mereka bercinta lewat kata.
Bukan cinta yang gaduh.
Bukan cinta yang menuntut kepastian.
Melainkan cinta yang tumbuh dari jeda-jeda kalimat, dari tanda titik yang tidak pernah benar-benar mengakhiri percakapan.
Setiap malam, sebelum tidur, Aruna menunggu notifikasi seperti orang menunggu detak jantungnya sendiri.
Setiap pagi, Bima membuka pesan Aruna sebelum membuka tirai kamarnya. Mereka tidak pernah berjanji. Tidak pernah mendefinisikan.
Tapi keduanya tahu: ada sesuatu yang sedang dijaga.
Hingga suatu hari, Aruna mendapat kabar bahwa ia harus pindah ke kota lain. Jauh. Sangat jauh. Sinyal mungkin masih ada, tapi waktu tak lagi ramah.
Malam sebelum keberangkatannya, Bima menulis lebih panjang dari biasanya.
“Kalau suatu hari kita tidak lagi sempat berbagi cerita, ingatlah bahwa ada seseorang yang pernah menemukan rumahnya dalam kata-katamu. Dan itu cukup.”
Aruna membaca pesan itu berulang-ulang sampai huruf-hurufnya terasa hidup.
Ia membalas:
“Terima kasih sudah mencintaiku tanpa menyentuhku.”
Tak ada tangisan keras. Tak ada adegan dramatis di stasiun.
Hanya dua manusia yang memilih menyimpan satu sama lain dalam kalimat.
Waktu berjalan. Percakapan tak lagi sesering dulu.
Hidup menuntut kehadiran yang nyata.
Tapi setiap kali Aruna membaca ulang arsip pesan lama, ia tahu: ada cinta yang tidak pernah gagal hanya karena tak pernah dipertemukan.
Cinta yang tidak lahir dari pelukan,
melainkan dari keberanian untuk berkata jujur.
Dan di dunia yang sering kali bising oleh sentuhan tanpa makna, mereka pernah menjadi dua jiwa yang saling menemukan, hanya lewat kata.