Catatan Dari Hati

CINTA DAN JALAN PULANG TAK BERTEPI – BAGIAN KEEMPATBELAS

Seminggu berlalu dalam sunyi yang aneh.

Andini tidak bertemu Made lagi. dark-knight tidak muncul di YM. Randy semakin jarang ada dan ketika ada, hadir dengan cara yang berbeda: lebih berhati-hati, lebih seperti seseorang yang sedang menyembunyikan sesuatu.

Andini tidak bodoh. Ia tahu ada yang berubah. Tapi ia belum siap untuk menanyakannya dengan lantang.

Di teras Om Nuntung, Made menghabiskan seminggu itu dengan cara yang tidak biasa: ia sengaja tidak menggunakan inderanya.

Bukan karena ingin menyiksa diri.

Tapi karena Pak Hasan pernah berkata bahwa kemampuan itu, seperti otot, bisa menjadi terlalu dominan jika tidak diimbangi oleh keputusan yang murni manusiawi. “Ada kalanya kamu harus memilih tanpa melihat, Made. Kalau tidak, kamu tidak pernah benar-benar memilih — kamu hanya mengikuti apa yang sudah kamu lihat.”

Jadi ia duduk dalam sunyi itu. Membiarkan ketidakpastiannya utuh.

Malam Jumat itu, Andini menyalakan radio di kamarnya. Stasiun lama. Frekuensi yang sama dengan yang dulu selalu ia dengarkan bersama Made di masa kuliah.

Dan dari speaker kecil itu mengalun sebuah lagu —

Caffeine. “Kau Yang Telah Pergi.”

Melodi gitar yang masuk pelan-pelan itu seperti jari yang menyentuh luka lama dengan hati-hati. Andini duduk di tepi ranjangnya, membiarkan lagu itu mengalir.

Masih ku ingat saat kau ada Masih ku rasa hangat pelukmu Kini semua hanya kenangan Yang tak bisa kulupakan…

Andini menutup matanya.

Di balik kelopak matanya, bukan wajah Randy yang muncul. Wajah yang muncul adalah wajah lelaki dengan mata teduh — lelaki yang dulu memberikannya puisi di malam hujan akhir Desember, yang kini menghilang dari layar Yahoo Messengernya tanpa kabar.

Mengapa kau pergi tinggalkan aku Dalam sepi yang menyiksa Aku rindu dirimu, sayang Walau hati ini terus menangis…

“Bodoh,” bisik Andini pada dirinya sendiri. Ia menghapus sudut matanya. “Kamu bodoh sekali, Andini.”

Tapi rindu tidak pernah mau diam hanya karena pemiliknya memintanya.

Di teras belakang, pada malam yang sama, Made terbangun dari setengah tidurnya dengan tergesa-gesa.

Gambaran itu datang tanpa pemberitahuan , seperti biasanya.

Singkat, tidak sepenuhnya jelas, tapi cukup untuk membuatnya terduduk dan napasnya tersengal:

Sebuah kamar yang remang. Seorang perempuan duduk di tepi ranjang. Selembar kertas usang di tangannya.

Dan di wajahnya, ekspresi yang Made kenal : ekspresi seseorang yang merindukan sesuatu yang ia tidak yakin berhak ia rindukan.

Gambaran itu hilang secepat datangnya.

Made duduk dalam gelap. Jantungnya berdetak keras.

Andini.

Ia tidak bisa membuktikannya. Gambaran itu tidak menunjukkan wajah dengan jelas — tidak pernah, untuk nama itu. Kabut cinta itu tetap menghalangi.

Tapi rasanya — frekuensi itu — ia mengenalinya.

Ia mengambil ponselnya. Membuka Yahoo Messenger.

Mengetik. Menghapus. Mengetik lagi.

Akhirnya, hanya tiga kata:

dark-knight : Maaf menghilang, Tuan Putri.

Tidak ada balasan malam itu. Tapi Made tidak menutup aplikasinya.

Ia hanya duduk, ponsel di tangan, mendengarkan malam yang sunyi  dan di balik kesunyi itu, seperti frekuensi radio yang lemah tapi tidak mati, ia merasakan kehadiran yang sama.

Dari arah yang sama. Yang selama bertahun-tahun belum pernah sepenuhnya ia tinggalkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *