CINTA DAN JALAN PULANG TAK BERTEPI – BAGIAN KEDELAPANBELAS
Malam itu, dark-knight dan tuan-putri-malam berbicara lebih lama dari biasanya.
Dan Made, sejak awal percakapan, merasakan sesuatu yang berbeda.
Bukan gambaran. Bukan sinyal. Lebih seperti resonansi yang pelan-pelan menguat : dua gelombang yang sudah lama bergerak ke arah yang sama dan kini semakin dekat ke titik pertemuan.
Ia tidak tahu bagaimana mendeskripsikannya selain dengan analogi yang sudah usang: seperti radio yang frekuensinya semakin dekat ke stasiun yang dicari, suaranya semakin bersih, sarokannya semakin sedikit.
dark-knight : Kalau kamu bisa kembali ke satu momen dalam hidupmu, momen mana yang kamu pilih?
Jeda panjang. Lalu:
tuan-putri-malam : Sebuah malam hujan di akhir Desember. Di depan rumahku. Seseorang memberiku sepucuk puisi.
Made berhenti bernapas.
Resonansi itu tiba-tiba menggelegar , bukan kencang, tapi dalam.
Seperti garpu tala yang dipukul dan getarannya menjalar ke seluruh ruangan.
Tidak mungkin.
Tidak mungkin.
Tapi inderanya — yang sudah bertahun-tahun ia latih untuk membedakan antara asumsi dan pembacaan yang nyata — tidak berteriak tidak mungkin.
Inderanya justru diam. Diam dengan cara yang sangat berbeda dari keraguan.
Tangannya bergetar sedikit.
dark-knight : Puisi seperti apa?
tuan-putri-malam : Tentang embun di pagi hari. Tentang pertanyaan apakah seseorang bisa menjadi nyata dari bayang-bayang.
Kali ini Made benar-benar berhenti.
Ia mengenal puisi itu.
Ia yang menulisnya. Pada malam hujan di akhir Desember. Di depan sebuah rumah di kota yang sudah lama ia tinggalkan.
Di tangan seorang perempuan yang menerima secarik kertas itu dengan jemari yang sedikit bergetar dan tidak berkata apa-apa , hanya mengangguk, lalu masuk ke dalam rumahnya.
Made meletakkan ponselnya sebentar.
Mengambil napas.
Pak Hasan, batinnya, kamu tidak pernah bilang ini akan seperti ini rasanya.
Semua ini , berminggu-minggu berbicara dengan Tuan Putri Malam, semua kata-kata yang terbagi dalam kegelapan layar kecil itu, semua momen ketika frekuensi itu terasa seperti milik seseorang yang ia kenal , semua itu bukan kebetulan. Bukan proyeksi kerinduan. Bukan halusinasi orang yang terlalu lama memendam.
Ia tidak perlu indera keenam untuk ini. Cukup hati yang selama bertahun-tahun sudah hafal dengan satu frekuensi tertentu dan akhirnya, akhirnya, mendengarnya lagi.
dark-knight : Tuan Putri…
tuan-putri-malam : Ya?
dark-knight : Boleh aku tanya sesuatu yang mungkin terdengar gila?
tuan-putri-malam : Sudah terlambat untuk khawatir soal terdengar gila. Tanya saja.
dark-knight : Nama kamu… Andini?
Keheningan yang sangat panjang.
Andini menatap layar itu dengan jantung yang serasa berhenti.
tuan-putri-malam : Bagaimana kamu tahu?
dark-knight : Karena aku yang menulis puisi itu. Pada malam hujan di akhir Desember. Di depan rumahmu.
Dunia Andini berhenti berputar.
Ia berdiri, melangkah ke jendela. Memandang Jakarta yang malam itu sedang hujan. Hujan yang sabar. Yang tidak tergesa-gesa. Yang mau menemani lama-lama.
tuan-putri-malam : Made?
dark-knight : Hai, Andini.