PUISI : MENYIBAK BAYANGMU DI TEPIAN MUSI
Kaki-kaki Jembatan Ampera yang kokoh menghunjam
pada dasar batang sungai anggun mengalir, seakan bertutur
tentang kisah-kisah yang berlalu dari musim ke musim,
tentang cinta, harapan, impian, juga kehilangan
Dan di tepian Musi, mengenangmu bersama senja yang jatuh perlahan
Bagai menyibak garis-garis samar bayangmu pada riak air dan
pantulan muram cahaya petang matahari diatasnya
Ketika menemukanmu kembali adalah kemustahilan semata,
dan segala ihwal tentangmu hanya menyisakan misteri yang menguap bersama kabut
serta jejak-jejak tak terpindai
Maka akan kularutkan segala kata dan rindu padamu lewat deras alir sungai,
kerlip lampu menara jembatan dan perahu yang melintas
bersama derai gerimis yang jatuh membasahi bumi Sriwijaya
juga segala kenangan tentang kita yang luruh tak terlerai
Palembang, 04062011

wuihhh… puisinya keren mas Amril 😀
salute 😀
Terima kasih sudah menjejakkan kaki di Musi… semoga kembali lagi ke Musi
Thanks ya Suzan, semoga kapan2 bisa kembali lagi ke Palembang
Pak daeng Amril, ini puisi yg keren loh.. Kalimatnya mudah di pahami… tolong ajarkan saya berpuisi dong pak.. Heeehe
Waaah, Indah banget kelihatannya Sungai Musi itu . . .Selama ini baru bisa lihat-lihat di Foto, semoga suatu saat bisa kesana 🙂
luar biasa pak Amril… kalimatnya sangat simple namun menyentuh dan mudah di mengerti..
ajarin saya berpuisi jg dong pak 🙂
Wuih, jembatan ampera…
ada tong gang fotoku di sini, 19 tahun yang lalu 😀
DIRUT
wew keren abez..,, salute , kalimat nya muantap”
😀