BERSEPEDA DENGAN (SEPENUH) HATI
Pengalaman saya bersepeda yang selalu “nyangkut” dihati saat mengalami cinta pertama di SMP dulu (Saya pernah menceritakannya disini). Ketika itu saya menggunakan sepeda saya untuk mengajari matematika sang pujaan hati. Menunggangi sepeda jengki tersebut seakan-akan menaiki kuda sembrani bersayap cemerlang bagai seorang pangeran menjemput sang putri di istananya.
Berlanjut kemudian ketika saya membeli sepeda onthel yang membuat saya bergairah untuk menaiki sepeda kiriman adik saya di Yogya itu sembari membayangkan menjadi bangsawan Belanda ningrat melakukan inspeksi di perkebunan teh. Dengan nuansa retro yang dimiliki sepeda antik itu saya merasakan sensasi serta pengalaman bersepeda yang menyenangkan dan unik..
Setelah membeli sepeda Mountain Bike keinginan saya bersepeda kian menggebu-gebu. Terlebih saya bisa menakar kinerja saya bersepeda (misalnya memantau kalori yang terbakar serta rekam jejak perjalanan via GPS Handphone kemudian mengedarkannya lewat jejaring sosial media) melalui aplikasi Endomondo di Blackberry saya serta motivasi dari teman-teman penggiat Cikarang Baru Cycling .(Grup Sepeda yang digagas melalui mailing list Cikarang Baru) membuat gairah bersepeda saya kian terpacu cepat.
Alhamdulillah, anak-anak saya juga menyukai aktifitas bersepeda, apalagi istri saya memang gemar naik sepeda saat masih bersekolah di Yogya dulu. Maka “ritual” kami di pagi hari libur adalah bersepeda ramai-ramai bersama keluarga. Rizky menunggang sepeda “Thunderbird”-nya, Alya dengan sepeda ala “Barbie” sedangkan istri saya sepeda Phoenix dengan keranjang belanja didepan serta saya dengan “Thrill” kesayangan mendampingi orang-orang yang saya cintai itu dengan penuh semangat. Kebersamaan dan kebahagiaan keluarga saya rasakan. Betapa saya selalu tersenyum melihat kedua buah hati saya memacu sepeda mereka tanpa berhenti beristirahat dan rasa letih sedikitpun (sedangkan saya sudah mulai ngos-ngosan tertinggal dibelakang).
Tadi pagi kami berhasil menempuh jarak 4 km memutar melalui kawasan industri Jababeka II dan akhirnya “ditutup” dengan manis sarapan Lontong Cap Gomeh di Jalan Tarum Barat Raya. Dengan keringat yang menetes di dahi, saya melihat Alya (6,8 tahun) bercerita dengan mata berbinar dan giginya yang masih ompong pengalaman menyenangkannya naik sepeda bersama kami, kedua orang tuanya. Kadang-kadang saling menyela bersama sang kakak, Rizky (8,8 tahun) mengenai siapa yang paling unggul mengayuh sepeda di depan.
Inilah makna bersepeda dengan (sepenuh) hati. Dan saya tersenyum ketika handphone Android saya berdering kencang menyanyikan lagu fenomenal Queen “Bicycle Race”
Bicycle bicycle bicycle
I want to ride my bicycle bicycle bicycle
I want to ride my bicycle
I want to ride my bike
I want to ride my bicycle
I want to ride my
Bicycle races are coming your way
So forget all your duties oh yeah!
Fat bottomed girls they’ll be riding today
So look out for those beauties oh yeah
On your marks get set go
Bicycle race bicycle race bicycle race
Bicycle bicycle bicyI want to ride my bicycle
Bicycle bicycle bicycle
Bicycle race
Yuk kita gowes !!
.
.



Memang nikmat Mas dapat bersepeda bersama anak sekeluarga. Apalagi dengan lagu yang satu itu. mengingatkan saya diwktu masih zaman sekolah.
Sukses selalu
Salam
Ejawantah’s Blog
Semoga kembali langsing ya
Salam
Omjay