Flash Fiction : Jam Tangan Ayah
Aku menyentuh kacanya yang dingin. Bekas sidik jari Papa masih ada di sana, samar seperti embun. Dulu, setiap malam, Papa akan memutar mahkotanya, mendengar bunyi ‘klik’ halus. Bunyi itu seperti melodi, lagu pengantar tidurku. Malam ini, aku hanya merasakan keheningan.

Aku membuka lacinya, tempat aku menyimpan semua kenangan Papa: surat-surat, kacamata baca, dan botol parfumnya yang hampir kosong. Aku memejamkan mata, mencium aroma kayu cendana dan tembakau dari botol itu. Aromanya sudah memudar, sama seperti kenangan tentang Papa.
Kehilangan adalah ruangan yang dingin, tanpa jendela, tanpa pintu. Kehilangan adalah jam tangan yang berhenti berdetak, mengingatkanmu bahwa waktu tidak bisa kembali. Aku menaruh jam tangan itu di telingaku, berharap bisa mendengar detakan terakhirnya. Tapi, yang aku dengar hanyalah detakan jantungku sendiri, berdetak dengan ritme yang menyakitkan.

Aku merindukanmu, Papa.
Aku merindukan melodimu. Aku merindukan detakan jam tanganmu.