Memanusiakan Headline: Jurnalisme Puitis Linda Djalil di Buku “Berita Dalam Puisi”
Judul: Berita Dalam Puisi
Penulis: Linda Djalil
Penerbit: Kosa Kata Kita
Tahun Terbit: 2025
Tebal: 120 halaman
ISBN : 978-623-8105-89-2
“Berita Dalam Puisi” adalah kumpulan puisi yang menghadirkan perspektif unik Linda Djalil dalam menyikapi berbagai peristiwa sosial, politik, dan kemanusiaan yang terjadi di Indonesia maupun dunia.
Buku ini menjadi semacam jurnalisme puitis, di mana berita-berita keras dan fakta-fakta sosial ditransformasikan menjadi karya sastra yang penuh empati dan refleksi.
Linda Djalil berhasil memadukan sensibilitas jurnalistik dengan kepekaan puitik. Sebagai jurnalis veteran, ia tidak hanya merekam peristiwa, tetapi menyelami kedalaman emosi dan makna di balik setiap kejadian. Puisi-puisinya menyentuh isu-isu seperti ketimpangan sosial, kekerasan, lingkungan, hingga kisah-kisah kemanusiaan yang sering terlupakan di balik deretan berita.
Simak salah satu bait puisinya bertajuk “Tak Terima Keadaan”
Seorang Menteri
selama 20 tahun berkuasa
diganti
menjadikan hidupnya
bagai neraka abadi
istrinya tidak terima
tukang angkut sampah tak datang lagi
seluruh koran
majalah tak muncul lagi
tak lagi bisa nyerobot
antrian salaman resepsi pernikahan
tak ada lagi fasiltas apapun
Gaya bahasa Linda cenderung lugas namun sarat makna, tidak bertele-tele namun mampu menggugah. Ia menggunakan diksi yang tajam untuk menyampaikan kritik sosial, sekaligus lembut saat mengungkapkan kepedulian terhadap sesama. Struktur puisinya beragam, ada yang berbentuk narasi pendek, ada pula yang lebih eksperimental.
Contoh lagi salah satu bait puisinya berjudul “Kalau Tak Punya Adab”
Gaji Bulanan amat besar
karena kedudukan
yang melambung tinggi
kebutuhan semakin menjulang
berlapis langit tujuh lapis
saldo terisi bulat penuh
Yang menarik dari buku ini adalah kemampuannya menjembatani jarak antara jurnalisme dan sastra. Bagi pembaca yang terbiasa dengan berita-berita keras di media massa, puisi-puisi Linda menawarkan cara pandang alternatif yang lebih humanis dan reflektif terhadap realitas sosial.

Sebagaimana diungkapkan Linda Djalil dalam blognya: kumpulan puisinya lugas dan tidak bermajas-majas atau bermetafora yang ‘jlimet’, ibarat kita membaca cerpen mengalir begitu saja. Isinya pun berbagai macam, ada berita, kasih sayang, kekecewaan, korupsi, dan lainnya.
Adapun alasan Linda menuangkan segala peristiwa dalam bentuk puisi, karena ia terbiasa membuat puisi. Sejak duduk di kelas 3 SD dirinya sudah membuat puisi dan masih terus ia lakukan hingga saat ini.
Dikatakan, puisi yang ia tulis terinspirasi dari berita-berita, lalu ia gubah menjadi puisi. Linda memang dikenal sebagai wartawan dan pernah ditempatkan di istana selama 9 tahun, naluri wartawannya yang membuat ia berkarya, membuat sekitar 60 puisi dan dibukukan dengan judul “Berita dalam Puisi”.
“Menuangkan perasaan bisa apa saja, bisa cerpen, novel atau apa. Tapi menurut saya yang apling singkat, paling cepat ya puisi’, ujarnya.
Bagi pembaca yang tidak terbiasa dengan gaya puisi kontemporer atau tidak mengikuti perkembangan berita aktual, beberapa puisi mungkin terasa kurang kontekstual. Referensi terhadap peristiwa tertentu kadang memerlukan pengetahuan latar belakang agar dapat dipahami sepenuhnya.
Selain itu, pendekatan jurnalistik yang kental terkadang membuat beberapa puisi terasa lebih seperti reportase naratif ketimbang eksplorasi bahasa puitik yang mendalam. Namun, ini juga bisa dilihat sebagai pilihan estetika yang disengaja oleh penulis.
“Berita Dalam Puisi” adalah karya yang penting dalam lanskap sastra Indonesia kontemporer. Linda Djalil menawarkan bentuk resistensi kreatif terhadap dehumanisasi yang sering terjadi dalam pemberitaan media massa.
Pada Kata Pengantarnya, Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon memberikan apresiasi luar biasa. Menurutnya, Buku “Berita Dalam Puisi” bukan sekedar kumpulan bait-bait puitis. Buku ini adalah rekaman zaman, fragmen peristiwa, dan refleksi batin seorang perempuan yang telah lama menatap dunia lewat kata. Linda, yang dikenal luas sebagai wartawan dan penulis,membawa pendekatan yang unik: mengabarkan dunia, tapi melalui rasa, menyampaikan berita, tapi dengan jiwa.
Buku ini direkomendasikan bagi pembaca yang tertarik pada puisi sosial, jurnalisme sastra, atau siapa saja yang ingin melihat realitas sosial dari sudut pandang yang lebih empatik dan reflektif.
Dengan kepekaan seorang jurnalis dan kepedulian seorang penyair, Linda Djalil mengingatkan kita bahwa di balik setiap berita, ada manusia dengan cerita, luka, dan harapannya masing-masing.