Catatan Dari Hati

(Narsis) : Di Antara Hujan dan Kata yang Tertunda

Juni selalu datang dengan cara yang sama: diam-diam, membawa rintik hujan yang jatuh seperti kenangan yang tak pernah benar-benar pergi.

Aku masih ingat sore itu.

Langit berwarna abu-abu, dan kamu duduk di bangku kayu taman kota, memandang kosong ke arah jalanan yang basah.

Aku datang tanpa banyak kata, hanya membawa dua cangkir kopi hangat yang uapnya menari di udara dingin.

“Kamu suka hujan, ya?” tanyaku waktu itu.

Kamu tersenyum tipis. “Hujan itu jujur. Dia jatuh tanpa pura-pura.”

Aku tidak benar-benar mengerti saat itu. Tapi aku mengangguk, seolah-olah aku paham semua yang kamu rasakan.

Sejak hari itu, Juni menjadi milik kita.

Kita berjalan di trotoar yang licin, tertawa ketika sepatu kita basah, dan berbagi cerita yang sering kali lebih banyak diam daripada kata.

Kamu tidak pernah banyak bicara, tapi setiap kalimatmu selalu terasa dalam, seperti ada sesuatu yang ingin kamu sampaikan, tapi belum siap untuk dilepaskan.

Aku belajar mencintaimu perlahan, seperti hujan yang tak pernah tergesa.

Namun, aku juga belajar satu hal yang tidak pernah aku inginkan—bahwa tidak semua yang tumbuh di bulan Juni akan bertahan sampai Juli.

Sore itu, hujan turun lebih deras dari biasanya. Kamu tidak membawa payung, dan aku pun tidak. Kita berdiri di bawah pohon yang tak cukup lebar untuk melindungi kita berdua.

“Aku harus pergi,” katamu tiba-tiba.

Kalimat itu jatuh lebih deras dari hujan.

“Pergi ke mana?” tanyaku, meski dalam hati aku sudah tahu, ini bukan sekadar tentang tempat.

Kamu menunduk, menatap genangan air yang memantulkan bayangan kita yang samar. “Ke tempat yang mungkin tidak bisa membuatku kembali ke sini.”

Aku ingin bertanya lebih banyak.

Ingin menahanmu. Ingin mengatakan bahwa aku mencintaimu, lebih dari sekadar teman hujan, lebih dari sekadar kebiasaan di bulan Juni.

Tapi kata-kata itu seperti tertahan di tenggorokan, seperti hujan yang ragu untuk jatuh.

“Kenapa sekarang?” akhirnya hanya itu yang bisa keluar dari bibirku.

Kamu tersenyum, tapi matamu tidak ikut tersenyum.

“Karena kalau aku menunggu lebih lama, aku mungkin tidak akan pernah berani pergi.”

Hujan semakin deras. Dan aku sadar, ada hal-hal yang memang tidak bisa kita hentikan: waktu, perasaan, dan kepergian.

“Kamu akan baik-baik saja,” katamu pelan.

Aku ingin percaya. Tapi bagaimana mungkin seseorang bisa baik-baik saja ketika sebagian dari dirinya pergi bersama orang lain?

Kamu melangkah mundur, lalu berbalik.

Tidak ada pelukan, tidak ada janji, tidak ada kata ‘sampai jumpa’.

Hanya hujan.

Dan aku.

Sejak hari itu, Juni tidak pernah lagi sama.

Aku masih datang ke taman itu, duduk di bangku yang sama, membawa dua cangkir kopi, meski salah satunya selalu mendingin tanpa disentuh. Orang-orang mungkin mengira aku aneh, atau terlalu terjebak di masa lalu.

Tapi bagiku, Juni bukan sekadar bulan.

Ia adalah tempat di mana aku pernah merasa cukup.

Dan meskipun kamu tidak pernah kembali, setiap rintik hujan selalu membawa suaramu—lembut, jujur, dan sedikit menyakitkan.

Aku akhirnya mengerti apa yang kamu maksud dulu.

Hujan memang jujur.

Ia tidak pernah menyembunyikan jatuhnya.

Seperti aku yang tidak pernah benar-benar bisa menyembunyikan bahwa di setiap Juni, aku masih menunggumu, meski aku tahu, kamu tidak akan pernah datang lagi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *