Flash Fiction : Jendela yang Selalu Terbuka
Setiap malam, Randy duduk di jendela rumahnya, menatap jalan. Ibunya bilang itu kebiasaan bodoh—menunggu orang yang tak akan kembali.
Ayahnya pergi tujuh bulan lalu.
Bukan karena perang atau kecelakaan, tapi karena kelelahan. Dari hidup. Dari dunia.
Satu malam, Randy menemukan secarik kertas di bawah bantal ayahnya: “Maaf. Aku terlalu sunyi, bahkan di rumah sendiri.”

Sejak itu, jendela di kamar Randy tak pernah ditutup. Karena bagi seorang anak, harapan itu sederhana: mungkin malam ini, angin membawa pulang suara langkah yang sama yang pernah ia hafal.