Rayyan mengisi malam dengan melukis wajah gadis yang selalu hadir dalam tidurnya. Rambut sebahu, tatapan teduh, senyum yang seolah mengenalnya.
Setiap kali kuas menyentuh kanvas, Rayyan merasa ia makin nyata.
Sampai suatu hari, dalam pameran lukisannya, seorang gadis berhenti di depan lukisan itu. Ia menatap lama, kemudian berbisik, “Aneh, aku sering bermimpi melukis wajahmu.”
Dan keduanya menyadari: mungkin mimpi mereka saling bersilangan di semesta yang sama.