Catatan Dari Hati

Flash Fiction : Jam Tangan Ayah

Jam tangan itu sudah berhenti berdetak. Jarumnya membeku di angka 10:15. Itu waktu Papa pergi, tertidur selamanya di kursi malasnya, dengan tangan menggenggam jam tangan perak itu.

Aku menyentuh kacanya yang dingin. Bekas sidik jari Papa masih ada di sana, samar seperti embun. Dulu, setiap malam, Papa akan memutar mahkotanya, mendengar bunyi ‘klik’ halus. Bunyi itu seperti melodi, lagu pengantar tidurku. Malam ini, aku hanya merasakan keheningan.

Aku membuka lacinya, tempat aku menyimpan semua kenangan Papa: surat-surat, kacamata baca, dan botol parfumnya yang hampir kosong. Aku memejamkan mata, mencium aroma kayu cendana dan tembakau dari botol itu. Aromanya sudah memudar, sama seperti kenangan tentang Papa.

Kehilangan adalah ruangan yang dingin, tanpa jendela, tanpa pintu. Kehilangan adalah jam tangan yang berhenti berdetak, mengingatkanmu bahwa waktu tidak bisa kembali. Aku menaruh jam tangan itu di telingaku, berharap bisa mendengar detakan terakhirnya. Tapi, yang aku dengar hanyalah detakan jantungku sendiri, berdetak dengan ritme yang menyakitkan.

Aku merindukanmu, Papa.

Aku merindukan melodimu. Aku merindukan detakan jam tanganmu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *