Catatan Dari Hati

Tunas yang Terus Tumbuh: Falsafah Pohon Pisang dan Kiprah Rachmat Gobel

“What counts in life is not the mere fact that we have lived. It is what difference we have made to the lives of others.” — Nelson Mandela, sebagaimana dikutip dalam laman Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Sejak kecil, nama Gobel bagi saya tidak pernah sekadar nama keluarga.

Ia seperti sebuah rumah besar.

Di dalamnya tersimpan cerita tentang orang-orang tua, kerja keras, keberanian merantau, kegigihan membangun usaha, persaudaraan, dan tentu saja tanggung jawab untuk menjaga nama baik keluarga.

Semakin bertambah usia, saya semakin memahami bahwa membawa sebuah nama bukan hanya perkara silsilah. Nama juga membawa amanah.

Di dalam keluarga besar kami, kisah tentang pohon pisang memiliki tempat yang istimewa.

Falsafah itu digagas oleh almarhum Drs. H. Thayeb Mohammad Gobel, pendiri kelompok usaha Gobel. Dalam penjelasan resmi Gobel International mengenai sang pendiri, pohon pisang dipilih karena hampir seluruh bagiannya memberi manfaat. Buahnya dimakan. Daunnya digunakan. Jantungnya dapat diolah. Pelepahnya pun memiliki kegunaan. Ia tumbuh berkelompok dan, yang paling menggetarkan bagi saya, sebelum pohon induknya mati, tunas-tunas baru telah tumbuh di sekelilingnya.

Pohon itu seperti tahu bahwa hidupnya terbatas.

Maka sebelum pergi, ia memastikan kehidupan berlanjut.

Nilai tersebut kemudian menjadi dasar Banana Tree Philosophy yang diterjemahkan ke dalam prinsip-prinsip perusahaan sebagaimana dijelaskan melalui filosofi resmi Gobel Group. Namun bagi saya, falsafah pohon pisang jauh melampaui dunia perusahaan.

Ia adalah pelajaran tentang kehidupan.

Tentang bagaimana manusia seharusnya hadir.

Tentang bagaimana seorang pemimpin seharusnya bekerja.

Dan tentang bagaimana seseorang seharusnya pergi.

Hari Jumat, 10 Juli 2026, kabar itu datang.

H. Rachmat Gobel berpulang.

Detik memberitakan bahwa beliau meninggal dunia pada pukul 03.20 WIB di Jakarta dalam usia 63 tahun.

Saya membaca kabar itu dengan perasaan yang sulit diterjemahkan.

Dalam sebuah keluarga besar, terkadang seseorang tidak selalu hadir dalam keseharian kita. Tidak setiap minggu bertemu. Tidak setiap bulan berbincang. Bahkan mungkin jarak kehidupan membuat masing-masing sibuk dengan jalan sendiri.

Tetapi ketika satu nama besar dalam keluarga itu pergi, mendadak kita seperti ditarik kembali menuju akar.

Saya teringat pada nama Gobel.

Saya teringat kepada orang-orang tua kami.

Saya teringat kepada almarhum ayah saya, Karim van Gobel Bin Yusuf ‘Sun’ Gobel.

Dan entah mengapa, saya teringat kepada pohon pisang.

Rachmat Gobel adalah putra kelima sekaligus putra pertama almarhum Thayeb Mohammad Gobel dan Annie Nento Gobel. Profil kepemimpinan Gobel International mencatat bagaimana ia menerima tanggung jawab kepemimpinan bisnis keluarga setelah ayahnya wafat pada 1984.

Saya sering berpikir, betapa berat menerima warisan seperti itu.

Orang mungkin melihat perusahaan.

Orang melihat merek.

Orang melihat jaringan bisnis.

Orang melihat gedung dan pabrik.

Tetapi seorang anak yang melanjutkan perjuangan ayahnya sesungguhnya menerima sesuatu yang jauh lebih berat: harapan.

Ia menerima nama baik yang harus dijaga.

Ia menerima mimpi seorang ayah yang tidak boleh berhenti hanya karena sang ayah telah pergi.

Saya bisa merasakan sedikit tentang itu.

Sebagai seorang anak yang juga telah kehilangan ayah, saya memahami bahwa setelah seorang ayah berpulang, hubungan kita dengannya tidak benar-benar selesai.

Justru setelah kepergiannya, nasihat-nasihat lama sering datang kembali. Kalimat yang dulu terdengar biasa tiba-tiba terasa dalam. Sikap yang dahulu mungkin tidak kita pahami mendadak menemukan maknanya.

Barangkali seperti itulah Rachmat Gobel membawa falsafah pohon pisang ayahnya.

Ia tidak sekadar menghafalnya.

Ia menjalaninya.

Ketika krisis ekonomi 1998 menghantam Indonesia, banyak perusahaan besar tumbang. Rupiah terpuruk. Utang perusahaan membengkak. Pasar terguncang. Kepercayaan runtuh.

Rachmat menghadapi salah satu ujian terberat dalam perjalanan bisnis keluarga.

Gobel International mencatat bagaimana ia melakukan restrukturisasi perusahaan, memangkas lapisan manajemen, dan mendorong perubahan organisasi agar kelompok usaha mampu bertahan.

Di situlah saya melihat pohon pisang itu.

Ia lentur menghadapi angin.

Ia mungkin kehilangan daun.

Batangnya mungkin terluka.

Tetapi akarnya tidak menyerah.

Dalam ilmu manajemen, kita mengenal perubahan organisasi, efisiensi, restrukturisasi, dan kesinambungan usaha. Namun orang-orang tua kita sering menjelaskan gagasan yang rumit melalui perumpamaan sederhana.

Pohon pisang.

Jangan hanya tinggi.

Berbuahlah.

Jangan hanya tumbuh sendiri.

Tumbuhkan tunas.

Jangan hidup hanya untuk mengambil.

Berikan manfaat.

Kelompok usaha Gobel bermula pada 1954 dari industri radio transistor Tjawang. Kemitraan dengan Matsushita dari Jepang kemudian berkembang menjadi salah satu kerja sama industri terpanjang antara perusahaan Indonesia dan Jepang. Gobel International mencatat bahwa pada 2020 kemitraan Panasonic dan Gobel telah memasuki usia 60 tahun.

Enam puluh tahun.

Bagi saya, angka itu bukan hanya statistik bisnis.

Saya yang sepanjang perjalanan profesional berkecimpung dalam dunia perusahaan dan rantai pasok memahami satu hal: kontrak bisa dibuat dalam beberapa hari, tetapi kepercayaan dibangun bertahun-tahun.

Kemitraan enam dekade tidak mungkin hidup hanya karena angka keuntungan.

Pasti terdapat nilai.

Pasti terdapat komitmen.

Pasti terdapat orang-orang yang memilih menjaga kepercayaan ketika keadaan sedang sulit.

Rachmat Gobel tumbuh dalam tradisi itu.

Tetapi perjalanan hidup membawanya lebih jauh dari ruang rapat perusahaan.

Ia memasuki pemerintahan. Ia pernah dipercaya sebagai Menteri Perdagangan pada 2014 hingga 2015. Kemudian ia melangkah ke parlemen sebagai wakil rakyat dari Gorontalo. Profil Fraksi NasDem DPR RI mencatat perjalanan panjangnya dari dunia usaha menuju panggung politik nasional.

Sebagian orang mungkin bertanya, mengapa seorang pengusaha yang telah memiliki segalanya masih memilih masuk ke dunia politik?

Saya tentu tidak dapat berbicara atas nama beliau.

Namun ketika melihat perjalanan hidupnya, saya menemukan benang merah yang sulit diabaikan.

Pohon pisang itu kembali muncul.

Manfaat.

Rachmat seperti ingin memperluas lingkar manfaatnya.

Dari perusahaan menuju masyarakat.

Dari industri menuju kebijakan.

Dari ruang rapat menuju ruang sidang parlemen.

Dan dari Jakarta, hatinya berkali-kali kembali ke Gorontalo.

Gorontalo bagi keluarga besar Gobel bukan sekadar titik pada peta Indonesia.

Ia adalah akar.

Tanah tempat cerita keluarga bertumbuh.

Tanah yang selalu memanggil pulang.

Pada 2025, Rachmat mempertemukan PNM dan BRI untuk mendorong pembangunan desa UMKM di Gorontalo, gagasan tersebut diarahkan untuk membangun ekosistem usaha masyarakat.

Saya menyukai kata “ekosistem”.

Sebab membantu orang tidak selalu berarti memberikan uang.

Kadang pertolongan terbaik adalah membuka pintu.

Mempertemukan seseorang dengan kesempatan.

Memberikan akses kepada pembiayaan.

Membuka pasar.

Membangun jalan agar orang lain mampu berjalan dengan kakinya sendiri.

Dalam bidang kesehatan, Rachmat juga memiliki mimpi besar agar Gorontalo berkembang menjadi pusat layanan kesehatan untuk Sulawesi dan Indonesia Timur.

Mungkin itulah salah satu alasan mengapa begitu banyak orang merasa kehilangan.

Pemerintah Kabupaten Gorontalo menggelar pengajian dan doa bersama selama enam hari untuk almarhum, Polda Gorontalo juga menggelar salat gaib.

Saya membaca berita-berita itu dalam diam.

Kematian memiliki cara yang aneh untuk mengukur kehidupan seseorang.

Ketika kita hidup, orang mungkin melihat jabatan kita.

Ketika kita pergi, yang dikenang adalah perlakuan kita kepada manusia.

Orang tidak menangisi kartu nama.

Orang tidak memeluk gelar.

Orang mengenang kebaikan.

Mereka mengenang tangan yang pernah terulur.

Mereka mengenang pintu yang pernah dibukakan.

Mereka mengenang seseorang yang, di tengah kesibukan dan kekuasaannya, masih membuat orang kecil merasa dilihat.

Bagi saya, di situlah makna kedermawanan menemukan bentuknya yang paling indah.

Dermawan bukan hanya orang yang banyak memberi uang.

Dermawan adalah orang yang bersedia membagikan kemungkinan.

Rachmat Gobel telah pergi pada saat dunia dan Indonesia sedang menghadapi masa yang tidak sederhana.

Bank Dunia melalui Global Economic Prospects memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global 2026 sekitar 2,5 persen di tengah tekanan geopolitik dan kenaikan harga energi. Sementara Indonesia Economic Prospects Juni 2026 mencatat ekonomi Indonesia tumbuh 5,6 persen secara tahunan pada triwulan pertama 2026.

Kita patut bersyukur.

Tetapi angka pertumbuhan tidak selalu mampu menceritakan seluruh kegelisahan rakyat.

Di balik statistik ekonomi, terdapat ayah yang menghitung biaya sekolah anaknya.

Terdapat ibu yang menimbang harga kebutuhan dapur.

Terdapat anak muda yang mengirim puluhan lamaran pekerjaan.

Terdapat pengusaha kecil yang cemas membayar cicilan.

Terdapat perusahaan yang berjuang menjaga arus kas.

Bahkan tekanan fiskal negara semakin terasa. Pada Juli 2026, proyeksi defisit anggaran Indonesia melebar menjadi sekitar 2,85 persen dari produk domestik bruto, mendekati batas 3 persen, sebagaimana dilaporkan Reuters.

Dalam keadaan seperti ini, saya justru merasa Indonesia perlu kembali belajar kepada falsafah pohon pisang.

Ekonomi kita harus berbuah.

Pertumbuhan ekonomi harus terasa sampai ke meja makan rakyat.

Investasi harus melahirkan pekerjaan.

Hilirisasi harus menumbuhkan pemasok lokal.

Proyek besar harus membuka ruang bagi usaha kecil.

BUMN harus membangun kemampuan bangsa.

Perusahaan swasta harus memandang pekerja sebagai manusia yang ikut menumbuhkan perusahaan.

Kita juga harus kembali menjadi bangsa pembuat.

Pengalaman keluarga Gobel dalam membangun industri elektronik memberi pelajaran bahwa kemandirian tidak lahir dari pidato.

Kemandirian lahir dari pabrik.

Dari bengkel.

Dari laboratorium.

Dari insinyur.

Dari teknisi.

Dari rantai pasok yang kuat.

Dari keberanian belajar teknologi.

Sebagai seorang yang bekerja dan tumbuh dalam dunia konstruksi serta manajemen rantai pasok, saya semakin percaya bahwa Indonesia tidak boleh selamanya bangga hanya sebagai pasar bagi lebih dari 280 juta manusia.

Kita harus memproduksi.

Kita harus menciptakan.

Kita harus membangun kemampuan sendiri.

Namun terdapat satu pelajaran dari pohon pisang yang menurut saya paling penting bagi perusahaan Indonesia hari ini.

Menyiapkan tunas.

Kita terlalu sering membangun organisasi yang bergantung kepada satu orang.

Ketika pemimpinnya pergi, semua kebingungan.

Ketika pendirinya wafat, perusahaan pecah.

Ketika direktur berganti, strategi berubah total.

Ketika kepala daerah selesai menjabat, program berhenti.

Padahal pohon pisang mengajarkan sesuatu yang sangat sederhana.

Sebelum pergi, tumbuhkan penerus.

Rachmat Gobel sendiri merupakan bagian dari tunas yang disiapkan oleh Thayeb Mohammad Gobel.

Ketika sang ayah wafat pada 1984, perjalanan perusahaan tidak berhenti.

Tunas itu tumbuh.

Menghadapi krisis.

Membangun kemitraan.

Masuk ke pemerintahan.

Menjadi wakil rakyat.

Kembali memperhatikan Gorontalo.

Lalu kini, tunas itu pun telah menyelesaikan musim kehidupannya.

Pertanyaannya sekarang bukan lagi tentang Rachmat Gobel.

Pertanyaannya tentang kita.

Tentang keluarga besar yang ditinggalkan.

Tentang generasi muda Gobel.

Tentang para profesional yang pernah bekerja bersamanya.

Tentang kader politik yang pernah mendengar nasihatnya.

Tentang pengusaha kecil yang pernah dibantunya.

Tentang Gorontalo yang begitu dicintainya.

Apakah tunas-tunas itu akan tumbuh?

Saya kembali teringat kepada ayah saya, almarhum Karim van Gobel.

Setiap kali seseorang dalam keluarga besar kami berpulang, saya semakin menyadari bahwa waktu sedang berjalan.

Generasi demi generasi pergi.

Orang-orang tua yang dahulu kita lihat duduk bersama perlahan tinggal dalam foto.

Suara mereka tinggal dalam ingatan.

Nasihat mereka muncul kembali ketika kita sendiri mulai menua.

Saya kini memahami bahwa silsilah keluarga bukan hanya daftar nama.

Ia adalah estafet nilai.

Nama Gobel tidak boleh hanya hidup di papan perusahaan.

Ia harus hidup dalam manfaat.

Dalam pekerjaan yang dilakukan dengan sungguh-sungguh.

Dalam keberanian menjaga kepercayaan.

Dalam kepedulian kepada kampung halaman.

Dalam kemauan menolong orang tanpa selalu menyalakan kamera.

Dalam kesediaan menyiapkan generasi berikutnya.

Hari ini pohon pisang itu kehilangan salah satu penjaganya.

Saya berduka.

Kami berduka.

Gorontalo berduka.

Indonesia kehilangan seorang pengusaha, mantan menteri, wakil rakyat, dan tokoh yang telah menempuh perjalanan panjang dalam pengabdian.

Tetapi mungkin falsafah yang diwariskan para pendahulu kami justru meminta kita untuk tidak terlalu lama menatap pohon yang telah selesai berbuah.

Lihatlah ke bawah.

Di sekitar akarnya.

Tunas-tunas baru seharusnya mulai tumbuh.

Nelson Mandela pernah berkata, “It is what difference we have made to the lives of others,” sebuah pesan tentang makna kehidupan yang diabadikan dalam laman Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Pada akhirnya, mungkin itulah ukuran paling jujur dari hidup seorang manusia.

Bukan berapa besar rumahnya.

Bukan berapa banyak perusahaan yang dipimpinnya.

Bukan berapa tinggi jabatannya.

Melainkan berapa banyak kehidupan yang berubah karena ia pernah hadir.

Selamat jalan, Rachmat Gobel.

Pohon pisang itu telah mengajarkan kepada kami bahwa sebuah kehidupan tidak benar-benar berakhir selama tunas-tunas kebaikan terus tumbuh.

Kini tugas kami adalah menjaganya.

Agar tetap tumbuh.

Agar kembali berbuah.

Dan agar nama Gobel selalu lebih besar maknanya daripada sekadar sebuah nama keluarga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *